Puisi Budhi Setyawan di Bali Post Minggu edisi 29 Juli 2012

Ada 3 (tiga) puisi saya yang termuat di koran Bali Post (Denpasar) edisi hari Minggu, 29 Juli  2012. Ketiga puisi tersebut berjudul Menyisir Silam Dusun, Degup Kampung, dan Menerka Tempias Cuaca.

Satu puisi yang saya cantumkan di sini berjudul Menerka Tempias Cuaca.

Menerka Tempias Cuaca

di Losari kecipak ombak dalam langkah langkah mungil begitu menghayati tetesan suara dari jendela langit. itu suara jerit bulan. pantai yang menjulurkan tangannya yang basah oleh rintik haru. tak sudah sudah kisah romansa ditafsir dan diterjemah, meski selalu ada keterjauhan yang tak terjamah.

ada yang terkesiap. lalu ingat cerita putri duyung dan pasir murung. berapa banyak pengunjung bercakap kepada angin, minta diramalkan peruntungannya, meski jalanan tetap saja terjal dan esok pun tetap jumawa mengenakan cadar. lantas apa yang menjadi pertimbangan bagi kuntum kebimbangan yang merekah perlahan, hingga menanyakan mimik di sebalik hijab alam.

katamu, setiap sajak adalah jauh cakrawala senja dengan pulasan awan, yang merayu setiap mata buat menampung ricik gerimisnya. selalu ada yang menggantung, selalu ada yang menganga, dan tak menemu jawaban pada permulaan ketika. barangkali akan dilengkapkan segala gigil dan gagap mengapa kepada para penempuh rahasia kata.

Makassar, 2008

Tentang budhisetyawan

Seorang yang suka musik dan sastra.
Pos ini dipublikasikan di Puisi Karya Sendiri 1. Tandai permalink.

2 Balasan ke Puisi Budhi Setyawan di Bali Post Minggu edisi 29 Juli 2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s