Puisi Budhi Setyawan di Antologi Puisi Ayat-Ayat Ramadhan

Ada satu puisi saya yang termuat di Antologi Puisi Ayat-Ayat Ramadhan yang ide antologi ini diinisiasi oleh penulis yang bernama Yandigsa. Buku ini diterbitkan pada Juli 2012 oleh Penerbit AG Publishing, yang beralamat di Yogyakarta dengan nomor telepon 0274-8300052 & HP 0878-260000-53. E-mail: ag_publishing@yahoo.co.id dan akun Facebook: www.facebook.com/agpressindo.

Puisi saya tersebut berjudul: Nafas Bumi.

Ada beberapa nama penyair yang karyanya termuat di buku ini seperti Darman D. Hoeri, Endang SSN, Yogi’S Memeth, Syifa Aulia, Thoni Mukharrom I.A, Dimas Indianto, Mahdi Idris, Novy Noorhayati Syahfida, Niken Larasati, Muhammad Asqalani eNeSTe, Moh. Ghufron Cholid, F. Rizal Alief, Asro Al Murthawy, Edelwise Tsurayya, Akaha Taufan Aminudin, Asni Ahmad Sueb, Nenny Makmun, Lauh Sutan Kusnandar, dll.

Buku ini diedarkan dengan penjualan langsung/ online, dengan menghubungi alamat email atau kontak telepon/ HP tersebut di atas. (Buku dicetak dengan kertas HVS, jadi tulisan sangat jelas. Daftar isi dengan judul puisi, sehingga agak kurang nyaman mencari karya seseorang, yang dalam kebanyakan antologi bersama biasanya dengan nama penyairnya secara urut abjad.  Sedikit kritik untuk cover buku, sebenarnya tidak perlu dengan foto seorang penulis atau inisiator yaitu Yandigsa, karena ini merupakan antologi bersama dan bertema ‘Ramadhan’, yang menjadi kurang terwakili dalam ilustrasi cover buku tersebut).

Berikut puisi saya yang berjudul Nafas Bumi.

Nafas Bumi

menempuh kerontang, menyiangi ruang. kelana pada jazirah jazirah yang jauh di dalam diri serupa menyusun ikhtisar dari harum gandum yang menyeruak di ladang ladang. ada ingatan pada kelembutan usapan jemari dongeng di masa kecil, yang terus mengepak jenjang dan menerbitkan sayap sayap anggun untuk mengunjungi ceruk perasaan yang acap terlupa oleh gemuruh ilusi di bawah kubah kemilauan.

menempuh kemarau, melumat risau. kembara pada gugusan musim bergurun terik serupa melukis di dalam kamar, dari intaian lubang kunci di pintu memandang kebun dengan panorama ranum anggur. ada kenangan tentang menghafal doa doa di bilik bilik temaram, yang menjelma lonjak di akhir ucapan dan penuh kerlip pendar cahaya. esok akan kembali mengulang itu dalam ucapan lirih beraura sentosa.

menempuh pertapaan, sepi mencekam. jelajah pada jalanan licin dan rumpil serupa menyalin partitur senandung sunyi sewangi kesturi, dalam catatan yang samar samar menuang gema di cawan usia. ada kerinduan pada meneguh langkah penuh isyarat akan debur debur makrifat yang mengalun mesra. dan siluet kamar pengantin penuh rias kerjapan menjadi rakaat panjang dalam menekuni rahasia penantian.

telah punah segala perih persangkaan,

karena telah terbayang putih nubuat hujan.

Bekasi, 2012

Tentang budhisetyawan

Seorang yang suka musik dan sastra.
Pos ini dipublikasikan di Puisi Karya Sendiri 1. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s