Puisi Budhi Setyawan di Antologi Satu Kata ISTIMEWA

Cover Antologi Satu Kata Istimewa YogyakartaAda satu puisi saya yang termuat di Antologi Satu Kata ISTIMEWA: Meneguhkan Kembali Peran Yogyakarta Sebagai Ibu Kota Penyair. Antologi tersebut diterbitkan tahun 2012 oleh Penerbit Ombak di Yogyakarta dikuratori oleh R. Ay. Sitoresmi Prabuningrat dan Wahjudi Djaja serta diberi kata pengantar oleh Prof. Dr. Faruk HT. (Guru Besar di Fakultas Ilmu Budaya UGM Yogyakarta). Antologi tersebut diterbitkan sebagai kado bagi keistimewaan Yogyakarta dengan segala pernik khas budaya dan nilai kejuangannya.

Antologi tersebut memuat 72 puisi dari 72 penyair. Ada beberapa penyair yang sudah cukup dikenal ikut dimuat karyanya dalam antologi ini, misalnya: Arsyad Indradi, Boedi Ismanto, Dedet Setiadi, Hamdy Salad, Handrawan Nadesul, Haryono Soekiran, Indrian Koto,  Sutirman Eka Ardhana, Tia Setiadi (sekadar menyebut beberapa nama).

Puisi saya berjudul Sepanjang Nadi Yogyakarta.

Sepanjang Nadi Yogyakarta

1/

pada anak anak rambutmu, sore yang rinai mengupas kenang menjelang senja tembaga. pada jalanan itu, yang lurus dan belok, yang renik dan lentik, yang mencipta kelok dalam wilayah pencarian. suar suar cerita darimu masih mengulur desir di ceruk rantau kesepian, di orbit lingkar renungan.

2/

Merapi bersama awan putih menaungi sebuah tugu. ia yang tegak menanam hening, tak menuliskan kata, namun tekun meletupkan sketsa kisah kisah wiracarita ke udara. menyerbuk serupa tepung, terbias jejak para penempuh sejarah yang rindu merdeka dengan gelegak tarung. dan derap derap itu menandai pertemuan kita yang menjelma gaung.

3/

lampu lampu di tepi jalan tetap membagikan takjub di ruas kelana. serupa kerlip bintang yang tak letih menyinar nama nama jalan yang ditulis dengan aksara jawa. aku menemu suasana lama, palung silam bagi sebuah penyebutan. seperti ada yang ketuk memanggil nama dan raut leluhur, lirih dan perlahan, mengirimkan artefak adab dan wiweka tutur.

4/

sepeda motor menyemut mengantarkan mereka yang dikuyupi asa. di sekitar becak dan andong, mobil dan bis kota, melintasi aneka gugusan panorama, juga ribuan wajah bersahaja. taman taman yang ramah mengulurkan sambut, dalam degup yang tak pernah redup. blangkon dan keris ditata berbaris, kain batik dan surjan dipajang lebar, gudeg dan bakpia saling berjajar, tak pernah berebut gelar: siapa yang paling manis. karena rasa bergayut pada akar rahasia.

5/

barisan kios dan toko adalah gua gua di kekinian untuk menjenguk rongga sejarah, situs perniagaan dengan bincang bertukar angka menawar kerelaan. pun pedagang pasar dan kaki lima mengukir gegap, membaur mencipta lagu yang dinyanyikan pengamen dari kawah cakrawala. kerumun cuap di angkringan kian nyaring, menebarkan improvisasi senandung setelah malam mencerna petualangan nasi kucing.

6/

kaset wayang kulit dan gending gamelan dengan lambat mengisahkan negeri gemah ripah, turunnya wahyu, canda ria tembang, juga peperangan yang masih saja betah bersemayam di dalam bilik pesona. mana ksatria, sementara beragam wajah satria dan raksasa saling menari, bersimpang tubruk, di kelir pengharapan. tak usai usai irama menyusuri rute harmoni, seperti menuju ke sungai negeri dongeng, percik haru rindu di masa lalu.

7/

candi candi di kejauhan zaman, masih terus kirimkan catatan pengiring prasasti. istana raja di jantung kota masih berdegup, dalam berbagai krida tarian angin dan perubahan iklim. meski kadang kemarau terlalu dingin atau hujan salah musim, mereka tak sungkan menggugah memori, tentang santun dan bijak gerak dinamika, kadang juga pijar metafisika. di hari hari yang semakin digital, tak surut mereka dalam menyorot terang bagi kemuliaan di kemudian. keseimbangan arif kata, eling dan waspada, alam kecil alam besar, ikrar sukma putih debar.

8/

lalu aku teringat Umbu. kuda putih dari sebuah padang sabana, yang tak berandong. ia yang menarik puisi dan menaburkan mantra jernih pada para pejalan sunyi. juga kepada para teruna yang menambang sari kedalaman di relung kediaman. setiap kata akan menjelma saung, sebagai wahana menyuarakan khidmat cinta yang kidung, semesta pendakian getar menuju makrifat agung.

9/

kotamu telah menjadi lanskap kelahiran kedua bagi para kembara. karena air kotamu manjur mengusir dahaga, mengisi pembuluh, menciumi ruh. ia mewarnai urat nadi pemaknaan hayat, menjelma rimbun ranum kenang juang yang senantiasa nyala, tak pernah habis dijamahi usia.

2012

Tentang budhisetyawan

Seorang yang suka musik dan sastra.
Pos ini dipublikasikan di Puisi Karya Sendiri 1. Tandai permalink.

8 Balasan ke Puisi Budhi Setyawan di Antologi Satu Kata ISTIMEWA

  1. irfan sofi berkata:

    bagus pak puisinya…..kapan nih saya bisa menulis seperti itu

  2. lala dua. berkata:

    sepertinya sekarang mau ku jelang ke kota itu , Yogyakarta.. mengusap anak2 rambutmu, satu persatu,menjamah kesan sejarah yg ada di jiwa..paling dalam,, kembali mekar pada bait2 puisi Pak Budhi…

    • budhisetyawan berkata:

      terima kasih ya Lala dua. semoga menginspirasi keindahan dan juga untuk menulis karya sastra juga. Yogyakarta memang punya banyak pesona. sangat unik. dan kerap memanggil, menumbuhkan rindu untuk singgah ke sana. salam jiwa.

  3. ugie berkata:

    aku dah baca, sangat terkesan , ah .. jogja

    • budhisetyawan berkata:

      Terima kasih Ugie sudah berkenan singgah. puisi di atas mungkin tidak bisa merangkum sosok Yogyakarta secara lebih luas atau utuh, karena yang saya tulis lebih merupakan kesan yang saya dapatkan tentang Yogya, ketika saya sekitar 8 tahun di sana & kenangan yang masih saya ingat dengan jelas ketika saya menulis puisi tersebut. jadi memang sangat situasional.

      ada beberapa kesan pada suatu hal atau tempat misalnya Candi sambisari, kebun binatang Gembira loka, keraton, kampus, imogiri, dll yang kurang terwakili dalam puisi tersebut, oleh karena keterbatasan ingatan pd saat menulis puisi itu dan juga keterbatasan ruang kata, karena ditulis dalam bentuk puisi. namun demikian, semoga seklumit tulisan tersebut dapat menggugah kerinduan kepada Yogyakarta. semoga kita semua selalu ‘Berhati Nyaman’. terima kasih.

  4. Agung Gidion R berkata:

    Nyuwun sewu mas..apa bukunya masihbisa didapatkan?

    • budhisetyawan berkata:

      terima kasih telah singgah blog saya mas Agung. Saya cuma menerima 1 eksemplar buku antologi tsb sbg bukti bahwa ada puisi saya yang disertakan dalam buku tsb. kalau mengenai apa masih ada sisa/ stock buku tersebut, silakan hubungi mas Wahjudi Djaja. ada akun FB-nya koq mas.

      ohya, saya sudah kunjungi blog mas Agung. saya sbg asal Purworejo, juga menyukai alam lingkungan Magelang, terutama kabupaten. Magelang sejuk dan menentramkan batin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s