Profil Budhi Setyawan: “Life Begins at Forty” (Jurnal Sastra Santarang edisi Desember 2012)

Jurnal Santarang Desember 2012Jurnal Sastra Santarang (Sabana Lontar Karang) yang diselenggarakan dan diterbitkan oleh Komunitas Sastra Dusun Flobamora di Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada edisi Desember 2012 dalam rubrik profil menampilkan Budhi Setyawan, penyair asal Purworejo, Jawa Tengah. Berikut isi profil tersebut:

 Budhi Setyawan

 “Life Begins at Forty”

 Setelah beberapa kali disambangi oleh beberapa sastrawan dari luar NTT seperti Zen Hae dan Wing Sentot Irawan, pada akhir November kemarin, Dusun Flobamora kembali kedatangan seorang penyair dari Forum Sastra Bekasi, Budhi Setyawan. Budhi Setyawan dilahirkan di Purworejo, 9 Agustus 1969 dari pasangan Soeprayitno dan Suyatmi. Pendidikan tingkat dasar hingga menengah diselesaikannya di kota kelahirannya. Pada tahun 1998, pendidikan tingginya di Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta diselesaikan.

Tanggal 22 November 2012, Budhi – sering disapa Buset oleh teman-temannya – menyambangi kediaman Komunitas Sastra Dusun Flobamora. “Saya baru pertama kali datang ke NTT. Tiap kali ditugaskan ke daerah, yang saya lakukan ya, seperti ini. Mencari teman-teman (penulis) dari daerah untuk berdiskusi dan berbagi pengalaman,” katanya dalam perjalanan menuju rumah Dusun Flobamora. Di rumah Dusun, telah menanti penyair Ragil Sukriwul, Djho Izmail dan beberapa anggota Dusun yang lain. Beberapa saat sebelum mulai berbincang-bincang dengan Budhi, muncul sejumlah nama yang akrab di telinga pencinta seni pertunjukan Kota Kupang yaitu Abdy Keraf dan Lanny Koroh. Di tengah perbincangan, penyair Dody Kudji Lede muncul di rumah Dusun dengan senyum khasnya.

 ***

  Sejak kecil, Budhi mempunyai minat yang besar pada dunia seni, terutama seni lukis, akan tetapi tidak dikembangkannya. Selain seni lukis, dalam perkembangan selanjutnya, ia juga tertarik pada bidang seni sastra dan musik. Di bidang musik pria yang gemar memainkan dan mendengarkan musik ini pernah aktif menjadi drummer Douane Band, yaitu band yang dimotorinya waktu berdinas di Balikpapan. Douane Band sempat beberapa kali ikut festival dan parade band di Balikpapan. “Saya sempat nulis beberapa lagu, tapi belum sempat dimainkan sama band saya, saya sudah dipindahtugaskan,” ujar pegawai negeri Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan di Jakarta ini. Saat bertugas di Balikpapan inilah, puisi-puisinya untuk pertama kali menghiasi media massa.

“Waktu puisi-puisi saya dimuat di Tribun Kaltim, saya dengan lugunya menelpon redakturnya dan bertanya ‘gimana honor puisi saya?’” kenangnya sambil tersenyum.

Ketertarikannya terhadap dunia sastra terutama puisi telah berkembang ketika menempuh kuliah di Yogyakarta. Dalam sebuah pengakuannya, ia mengungkapkan bahwa baginya Yogyakarta memberikan ruang alternatif bagi dirinya untuk membebaskan jiwanya untuk berkreasi, hingga di Yogya ia merasa seperti dilahirkan kembali. Ketika sejumlah puisinya terbit di Bali Post, suasana Yogya kembali melintas, lewat ‘persentuhannya’ dengan Umbu.

“Waktu beberapa puisi saya dimuat di Bali Post, Umbu nelpon saya,” kenangnya. Begitu banyak ‘wejangan’ yang diberikan oleh Presiden Penyair Malioboro tersebut kepadanya, salah satu yang diingat olehnya adalah ucapan Umbu yang sedikit paradoksal tentang ihwal kepenyairan dan kiprah menulis puisi. “Kamu harus waras dalam kegilaan dan gila dalam kewarasan,” demikian komentar Budhi meniru ucapan Umbu kepadanya melalui telepon.

Budhi yang sekarang menetap di Bekasi juga pernah bergiat di sejumlah komunitas termasuk Forum Sastra Bekasi yang juga menerbitkan buletin sastra Jejak. Budhi dan teman-temannya di FSB melalui Jejak juga memberikan anugerah tahunan bagi para penulis esai, cerpen dan puisi yang karyanya pernah dimuat di buletin sastra tersebut. Pembiayaan terhadap buletin sastra Jejak dan penghargaan sastra tahunan terebut dilakukan secara swadaya oleh Budhi dan teman-temannya di FSB.

Terkait perkembangan komunitas-komunitas sastra di berbagai daerah – termasuk Dusun Flobamora – Budhi berpendapat bahwa teman-teman di daerah harus lebih bersemangat, karena menurutnya keberadaan mereka yang jauh dari rutinitas kota – terutama metropolitan – yang serba cepat, membuat mereka jauh lebih banyak memiliki energi untuk menulis. “Ini juga yang saya katakan sama Kiki Sulistyo (penyair NTB) waktu saya ke Mataram,” kenangnya.

Di usianya yang tidak lagi muda, puisi-puisi Budhi kerap menghiasi sejumlah media cetak di tanah air dan sejumlah antologi bersama. Selain terbit di sejumlah media dan antologi bersama, puisi-puisi Budhi juga telah dikumpulkan dalam antologi tunggalnya yakni Kepak Sayap Jiwa (2006), Penyadaran (2006), dan Sukma Silam (2007). “Saya juga masih perlu belajar dari teman-teman yang muda. Mari kita saling menyemangati,” ujarnya. (rio)

Tentang budhisetyawan

Seorang yang suka musik dan sastra.
Pos ini dipublikasikan di Kabar & Silaturrahmi 1. Tandai permalink.

3 Balasan ke Profil Budhi Setyawan: “Life Begins at Forty” (Jurnal Sastra Santarang edisi Desember 2012)

  1. Atik Indarini berkata:

    Siip… mas Budhi… semangat terus untuk berkarya… semoga juga bisa menginspirasi generasi muda untuk berkarya

    • budhisetyawan berkata:

      trm ksh mba Atik Indarini. smg sy bs berkarya yg lbh baik lagi. dan anak-anak muda mestinya akan berkarya yg jauh melampaui dr saya. amin. semoga..

  2. Abduh Sempana berkata:

    Inspiratif

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s