Wawancara Budhi Setyawan: Sastra adalah Rekreasi Batin (Buletin Senja Edisi 15# Januari 2013)

Cover Buletin Senja Januari 2013Buletin Sastra Senja yang diterbitkan oleh Komunitas Pecinta Sastra yang berada di bawah naungan Perpustakaan Pondok Pesantren An Nur di Ngrukem, Pendowoharjo, Sewon, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, pada edisi 15/ Januari 2013 memuat wawancara dengan Budhi Setyawan, penyair asal Purworejo, Jawa Tengah. Berikut isi rubrik tersebut:

“Budhi Setyawan”

Sastra adalah Rekreasi Batin

………

Budhi Setyawan (selanjutnya disebut Budhi), lahir di Dusun kalongan, Desa Mudalrejo, Kecamatan Loano, Kabupaten Purworejo, 9 Agustus 1969. Ia menamatkan SD sampai dengan SMA di kota kelahirannya Purworejo. Pendidikan sarjana S1 Akuntansi di UGM Yogyakarta dan pasca sarjana Magister Manajemen Universitas Krisnadwipayana Jakarta. Ia merantau ke Jakarta bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Kementerian Keuangan di Jakarta, ikut dalam kegiatan bulanan Sastra Reboan di Bulungan, Jakarta Selatan, dan sebagai Ketua Forum Sastra Bekasi. Tinggal di Bekasi, Jawa Barat.

Budhi lebih dikenal sebagai penyair, walaupun ia juga gemar dan mahir bermain musik, gitar dan drum, bahkan ia juga mantan pemain drum di salah satu band. Karya-karyanya berbentuk puisi banyak dimuat di pelbagai media massa, malahan hampir semua media massa di Indonesia pernah menerbitkan karyanya. Di samping itu, karya antologinya juga sudah banyak yang diterbitkan, seperti Kakilangit Kesumba (Purworejo, 2009), Antologi Penyair Nusantara: Musibah Gempa Padang (Kuala Lumpur, 2009), Antologi Kemala Meditasi Dampak 70 (Kuala Lumpur, 2010), Munajat Sesayat Doa (FLP Riau, 2011), Antologi Puisi dan Cerpen Ibukota Keberaksaraan (Jilfest 2011), Beternak Penyair (2011), Karena Aku Tak Lahir Dari Batu (2011), dan masih banyak lagi. Adapun buku antologi puisi tunggalnya yaitu Kepak Sayap Jiwa (2006), Penyadaran (2006), Sukma Silam (2007). Ia juga mengelola blognya sendiri di  www.budhisetyawan.wordpress.com

Kesibukannya menjadi seorang PNS tidak menjadi hambatan yang berarti dalam berkarya, bahkan Budhi pun mampu mendirikan sebuah komunitas sastra di kota tempat ia bekerja yang dinamakan Forum Sastra Bekasi (FSB) dan kemudian mengeluarkan buletin yang bercorak sastra, terbit satu kali dalam satu bulan, Buletin Jejak namanya, berdiri tanggal 23 April 2011. Budhi pun mulai merangkul para pelajar di kota Bekasi dan sekitarnya untuk bersastra. Hal ini sebagai upaya Budhi untuk belajar dalam berkarya, sebab ia menyadari bahwa selama belajar di bangku pendidikan ia belum pernah bersinggungan dengan teori-teori tentang sastra. Inilah yang menjadi pelajaran bagi kita, bahwa walaupun karya-karyanya sudah terbit di mana-mana dan namanya juga dikenal, ia masih menganggap dirinya sebagai pembelajar.

Sosok Budhi yang suka dengan dunia pewayangan ini sangat berbeda dalam berproses sastra dengan profil sastrawan-sastrawan kita sebelumnya, kalau sebelumnya banyak yang bermula dari membaca karya dan menulis diary, Budhi berbeda, ia berawal dari mendengarkan radio, dengan mendengar kiriman cerita-cerita yang dibacakan oleh penyiarnya, pada saat itulah Budhi merasa imajinasinya melayang kemana-mana dan ingin segera dituliskan.

Berikut adalah hasil wawancara Senja dengan Budhi via email beberapa bulan yang lalu.

Bagaimana menurut anda tentang sunia sastra?

Bagi saya sastra merupakan wahana rekreasi batin, sebagai penyeimbang dalam kehidupan. Ketika kehidupan yang semakin didominasi penggunaan otak kiri, maka perlu diseimbangkan dengan penggunaan otak kanan, salah satunya dengan aktif berkesenian. Sebenarnya bisa sebagai penikmat saja, akan tetapi menurut saya apresiasi tertinggi dalam berkesenian adalah mencipta atau berkarya. Bukankah manusia diarahkan agar mencontoh sifat-sifat Tuhan. Jika Tuhan Maha Mencipta, maka manusia mencipta atau berkarya, sebagai ungkapan syukur secara positif-kreatif.

Sebenarnya bagaimana karya sastra yang ideal?

Menurut saya, karya sastra mesti menginspirasi kepada kearifan nurani. Dia konsumsi dunia perasaan, dan perasaan itu sensitif. Nah, jika berbicara mengenai novel, maka banyak unsur yang lebih kelihatan dibanding dalam puisi, yang menopang kualitas karya tersebut. Ada tema, judul, alur, penokohan, konflik, dll. Karya yang bagus memerlukan proses yang dalam, dan mungkin bisa berlangsung lama. Karena membangun karya yang monumental ibarat membangun prasasti, mesti dari bahan baku yang kuat, tahan cuaca dan iklim, penandaan yang kuat, dll. Juga diibaratkan seperti senjata ampuh, yang dalam cerita pewayangan hanya dapat diperoleh oleh satria yang teguh menjalankan laku prihatin, puasa, dll. Jadi menurut saya, karya bermutu tidak dapat dilahirkan dari proses yang sekejap atau instan. Jika ada yang mengatakan dia menulis dalam waktu singkat dan jadi bagus, menurut saya dia sudah cukup mahir menanam, memeram dan menabung ide-ide serta bakal karya tersebut di dalam benaknya, sehingga ketika menuliskannya menjadi lebih cepat.

Menulis, sepenting apa sih?

Menulis sangat penting. Menulis apa saja. Karena menulis merangsang otak agar tetap bekerja menyebutkan dan mengingat sehingga dapat menjaga agar tidak cepat pikun. Contoh sederhana adalah, ketika sedang belajar menghadapi ujian misalnya, maka belajar dengan menuliskan cerita atau soal di kertas akan membantu dalam ujian sesungguhnya, karena jejak memori dari menulis lebih kuat dari hanya sekadar membaca. Jika soal ujian keilmuan bekerja pada otak kiri, maka menulis yang melibatkan emosi perasaan berkesenian, berketuhanan, dst, merupakan kerja otak kanan. Jadi ada penyeimbangan.

Berhubung anda lebih dikenal sebagai penyair, bagaimana menurut anda tentang puisi? Apa sih yang membuat anda kecanduan, bahkan yang membaca juga kecanduan.

Puisi. Memang ada banyak definisi tentang puisi, namun bagi saya puisi tetaplah misteri. Puisi merupakan karya yang unik, sangat khas. Bagaimana tidak, puisi yang merupakan rangkaian kata yang terbatas (tidak sepanjang prosa) tetapi mampu menyentuh langit ketakjuban pembacanya, menggetarkan jiwa. Acep Zamzam Noor, penyair asal Tasikmalaya dalam bukunya yang berjudul Puisi dan Bulu Kuduk (2011)  mengatakan, bahwa bagi Acep ukurannya adalah bulu kuduk. “Jika saya membaca sebuah puisi dan merasa bergetar hingga bulu kuduk saya merinding, apalagi jika tubuh saya sampai menggigil, maka puisi yang saya baca itu adalah puisi yang baik. Puisi yang baik bisa memberikan pengaruh kepada pembacanya,” demikian tulis Acep.

Keunikan lainnya, misalnya saya membaca sebuah puisi yang sama atas karya penyair pada waktu yang berbeda, maka saya mendapatkan kesan dan suasana yang berbeda pula. Dan kadang itu berlaku terhadap tulisan saya sendiri.

Boleh juga saya disebut kecanduan atau keranjingan puisi. Jika puisi itu merupakan makhluk gaib, mungkin saya sudah kerasukan rohnya. Ha..ha..ha… Yang jelas, saya merasa tidak pernah tuntas dan selesai berurusan dengan puisi. Puisi laksana kehidupan sendiri. Ia terus berjalan dengan segala pesonanya, sekaligus tidak pernah membuka secara telanjang tubuhnya. Ia tetap menyisakan hijab, merawat dan menjaga sisi lembut rahasianya. Ia seperti ‘sir’, degupan rahasia, yang terus memancarkan daya pikat penuh keanggunan. Sebagai manusia biasa, saya hanya bisa menuliskan dan menikmati keindahannya. Saya tidak bisa menuntut pengejawantahan yang berlebih dari puisi-puisi itu, seperti keinginan nabi Musa kepada Tuhan di depan Bukit Tursina. Biarlah ketakjuban kepada keindahan yang tersembunyi itu tetap mengalir dalam kehidupan. (MMT/BS).

Tentang budhisetyawan

Seorang yang suka musik dan sastra.
Pos ini dipublikasikan di Kabar & Silaturrahmi 1. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s