Puisi Budhi Setyawan di Antologi Musim yang Berjalan pada Kota Waktu

Cover antologi Musim yang berjalan pada kota waktu 2012Ada satu puisi saya yang termuat di Antologi Musim yang Berjalan pada Kota Waktu dan puisi-puisi lainnya (senarai puisi). Antologi puisi ini diterbitkan oleh Keluarga Mahasiswa Sastra Indonesia Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Yogyakarta (KMSI FBS UNY) pada tahun 2012 bekerjasama dengan Penerbit Smartmedia Utama di Yogyakarta. Puisi-puisi yang termuat dalam antologi ini merupakan puisi yang dipilih dewan juri dari karya para peserta Lomba Cipta Puisi Se-Daerah Istimewa Yogyakarta dalam rangkaian acara peringatan haul Chairil Anwar tahun 2012.

Kebanyakan puisi di buku ini merupakan karya para penulis muda dan masih berprofesi sebagai mahasiswa di FBS UNY juga, yang rata-rata kelahiran mereka adalah sekitar tahun 1990. Cukup banyak karya yang bagus dan potensial dapat berkembang ke depan dari para penulis-penulis yang notabene masih mahasiswa/i itu. Dan waktu akan menjadi saksi dari kekonsitenan dan kesungguhan mereka, apakah di beberapa tahun ke depan mereka akan muncul menjadi penyair dengan karya-karya yang berkualitas.

Muncul sebagai pemenang dan menjadi judul antologi ini adalah puisi karya Armada Nurliansyah, mahasiswa FBS UNY dengan judul puisi Musim yang Berjalan pada Kota Waktu.

Puisi saya dalam antologi ini berjudul Singabudhi Mantrabumi. (disayangkan dalam buku antologi tersebut terdapat beberapa salah ketik yang mengurangi kenyamanan dalam membacanya dan mestinya lebih diperhatikan dalam penerbitan buku di masa yang akan datang. Yang benar adalah yang saya tulis berikut ini.)

 

Singabudhi Mantrabumi

 

agustus mengirimkan berkas ingatan

tentang dahan dahan dahaga,

dusun yang lengang

 

sungai sungai menyerpih fantasi

rintik hujan di pelupuk

mata yang terjaga oleh hembus sejarah

 

sawah ladang dan kebun bersidekap

menyimak lirih nafas puasa

akar pohonan menahan kecup

 

debu menafsir arah angin

dalam situs mimpi yang kuncup

seyojana rembang kabut

 

dalam dasar pejaman arus

kediaman gua gua

menggema bisik nada:

 

o,

alam puja, membara

alam sukma, menyala

 

o,

getar magma, membaca

debar dada, mengeja

 

o,

pusar cakra, membuka

suar aura, menera

 

menuju gunung gunung renung

dalam lingkaran mata langit

semerbak tertebar pelukan doa

 

terus saja bergerak, bergolak

waktu tiada jeda memburu

jelajah makna makna

 

kelindan asa berduyun

memunguti jejak jejak tanda

yang tersebar di rimba pertarungan

 

masih terawat aum ranum, tatap terawang,

pencarian melompati sunyi

menggempur batu batu diri

 

Jakarta, 9 Agustus 2011

Tentang budhisetyawan

Seorang yang suka musik dan sastra.
Pos ini dipublikasikan di Puisi Karya Sendiri 1. Tandai permalink.

5 Balasan ke Puisi Budhi Setyawan di Antologi Musim yang Berjalan pada Kota Waktu

  1. birthday party berkata:

    nice post😀 salam kenal yaaaa

  2. atik68 berkata:

    pingin pinter nulis puisi kaya mas Budhi… aku sampai terbawa..

    • budhisetyawan berkata:

      terima kasih mba Atik. tp sy jg blum pinter nulis. msh belajar menulis puisi. karena saya otodidak, sy usahakan banyak membaca karya penyair2 top Indonesia maupun dunia. ayo nulis mba Atik. pasti bisa koq…

  3. Fandy Er-rumy berkata:

    mas….aku pengen banget belajar nulis puisi kyak mas budi..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s