Puisi Budhi Setyawan di Antologi Puisi SENDAREN BAGELEN

GE DIGITAL CAMERAPaguyuban Penulis Purworejo pada bulan April 2013 menerbitkan buku berjudul: SENDAREN BAGELEN – Antologi Puisi Penulis Purworejo. Ada 17 penulis yang karyanya dimuat dalam buku ini, yang terbagi ke dalam penulis yang bermukim di wilayah Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah dan penulis asal Purworejo yang berada/merantau di luar daerah Purworejo. Untuk penulis yang bermukim di Purworejo adalah Atas Danusubroto, Cahya Agung T, Dulrokhim, Harjito, Harjanto Djee, Masdi Artha, Riyadi, RK Dewi, Soekoso DM, Sumanang Tirtasujana, Supardi AR, dan Thomas Haryanto Soekiran. Sedangkan penulis asal Purworejo yang berada di perantauan adalah Budhi Setyawan, S Yoga, Setiyo Bardono, Willy Siswanto, dan Wiyatmi. Antologi puisi ini diberi pengantar oleh Dr. Pujiharto, seorang dosen Fakultas Imu Budaya Universitas Gadjahmada di Yogyakarta.

Buku setebal 122 halaman ini memuat 87 puisi dari 17 penulis Purworejo. Ongkos cetak ditanggung secara bersama oleh penulis yang karyanya dimuat dalam buku ini.

Ada 6 puisi saya di buku ini, yang berjudul: Mengeja Isyarat, Sejati-Nya, Senyuman Megapolutan, Gumam Bilik, Mengawal Cita, dan Sepagi Ini.

Bagi pembaca yang ingin mendapatkan buku tersebut, harganya adalah Rp 35.000,- (tiga puluh lima ribu rupiah), belum termasuk ongkos kirim. Yang berminat silakan pesan ke email saya di: budhisetya69@yahoo.com atau kirim pesan ke akun Facebook saya di: Budhi Setyawan Penyair Purworejo.

Puisi saya yang saya tampilkan di sini adalah berjudul: Senyuman Megapolutan.

Senyuman Megapolutan

bersamamu malam merekah. juga menetas rerimbunan sampah, mencipta pameran instalasi di gerai gerai nafas. rumbai rindu dusun menjelma selimut di tubuh kita. di luar pabrik pabrik saling bercanda dan tertawa, menusuk sendi harkat, dan langit muram menjelaga.

degupan kita berpacu di arena bising kota, menjadi lagu lama yang akan kita nyanyikan di kesunyian kamar. apakah dinding bisu beku itu akan sanggup mendengar. sedangkan tak pernah menyatu nada tatkala kita ambil suara, karena telah dipisah dan tersekat segala akar harmoni rasa. dan lalu, entah telah berapa gunung angan membusuk di tubuh kita.

kukecupi sisa karat persepsi di jalanan yang kian pengap. gemintang dan bulan kehilangan rindang. dan igauan yang kita lepaskan menjadi alarm, yang merajuk untuk kembali diam dan tiarapkan golak angan. betapa kita begitu nyaman dalam kubang penjajahan elok citraan.

Jakarta, 2011

Tentang budhisetyawan

Seorang yang suka musik dan sastra.
Pos ini dipublikasikan di Puisi Karya Sendiri 1. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s