Puisi dan Prosa Liris Budhi Setyawan di Antologi Negeri Sembilan Matahari

GE DIGITAL CAMERAAda 2 puisi dan 1 prosa liris saya di buku Antologi Puisi ā€“ Prosa Liris Kritik Sosial 50 Penyair Indonesia yang dirilis oleh Sastra Welang Pustaka, Denpasar, Bali, pada awal tahun 2013. Dua puisi saya berjudul: Molek Sintal Reklame dan Anomali Kompleks, sedangkan prosa liris berjudul Kota yang Entah.

Buku antologi tersebut digagas oleh Moch. Satrio Welang, seorang penyair dan seniman teater di Bali. Buku setebal 276 halaman ini, untuk ongkos cetak ditanggung secara bersama oleh para penyair yang karyanya masuk dalam antologi tersebut. Ada beberapa nama penyair yang telah banyak dikenal di jagat sastra, antara lain: Beni Setia, Aming Aminoedhin, Dhenok Kristianti, Hasan Bisri, dan Wayan Sunarta.

Bagi pembaca yang ingin mendapatkan buku tersebut, harganya adalah Rp 40.000,- (empat puluh ribu rupiah), belum termasuk ongkos kirim. Yang berminat silakan pesan ke email saya di: budhisetya69@yahoo.com atau kirim pesan ke akun Facebook saya di: Budhi Setyawan Penyair Purworejo.

Yang saya tampilkan di blog saya ini adalah prosa liris saya yang berjudul Kota yang Entah.

Kota yang Entah

Entah. Ya entah siapa yang sungguh sungguh menyuruh. Menyuruhku, kau, mereka, kita untuk mendatangi tubuh ini. Benarkah telah tercetus di ubun masa kecil, atau di sebalik suratan nasib tentang cita cita untuk berkumpul dengannya. Sedangkan kita tak mempunyai catatan riwayatnya, hanya sepotong panggilan dan sketsa wajahnya yang kabur dalam hambur lentik opini. Bahkan kita sedemikian terkesima untuk tergopoh dan berlari mendekatinya, tanpa menghiraukan desir yang mengambang di pelupuk waktu: bagaimana tabiatnya, apakah ia memiliki perasaan seperti kita, apakah ia memiliki rindu, apakah ia memiliki cinta? Belum terbit jawaban dari langit, namun kita senantiasa mempercepat langkah menyongsong sesosok misteri, yang telah kita sebut sebut di dalam degup, dan telah kita puja puji di detak nadi.

Ia, kota yang memiliki ribuan wajah mandraguna. Entah, lagi lagi entah. Entah punya magnet apa, daya magis apa, hingga kita serasa terhisap ke dalam kilau bibirnya. Ia sedemikian lihai bersemayam di bayang kita, di telapak langkah kita, di rimbunan mimpi kita. Apakah ia telah membaca sifat sifat dan kelemahan kelemahan kita dengan menyadap segala catatan dalam kitab kelahiran kita, hingga tak ada lagi ceruk untuk menghindar dari rengkuhnya. Apakah pendatang-penghuni hanya akan menjadi martir bagi taringnya? Karena semua percumbuan, pergumulan dan persetubuhan dengannya begitu monoton dan mekanis, tanpa pernah ia tumbuhkan bunga empati dan impresi.

Kemana mencari terang kesadaran atawa kebenaran yang imajinya menggelisahi jantung ini? Telah bertahun kita bertahan, berada dan beradu di kota dengan nama nama palsu. Hingga kita direndam lemas dan dilumur lantak, tak pernah ia memberikan kartu nama, menyebutkan nama aslinya, mengatakan asal usulnya, atau menceritakan silsilahnya. Kota yang masih saja betah berupa entah. Dan kita yang semakin kerontang dipanggang panas penasaran, perca pertanyaan, dan rusuh keresahan. Ia yang telah menyedot segala energi kita, kini kian membesar, dan mengangkangi kita yang kian renik. Dalam terik ini, lalu siapa yang sedia menampung luberan kesah kita. Sebelum usai letupan keluh itu, telah menyembul di cakrawala bahasa: entah, jawabnya. Maka, dalam gersang yang kian menjulang, dengan pacuan tempo yang sistematis dan segera, kita akan semakin mengakrabi keterasingan, diri pun kehilangan nama, meresap kata, menuju entah, menjelma entah.

Jakarta, 2012

Tentang budhisetyawan

Seorang yang suka musik dan sastra.
Pos ini dipublikasikan di Puisi Karya Sendiri 1. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s