Puisi Budhi Setyawan di Koran Jurnal Nasional 4 Mei 2014

Cover Jurnas 4 Mei 2014Ada 14 puisi saya yang termuat di rubrik Puisi di koran Jurnal Nasional terbitan Jakarta edisi hari Minggu, 4 Mei 2014. Keempatbelas puisi tersebut berjudul: Catatan di Bata Merah, Getah Ronta, Persenyawaan Kembara, Catatan Sebuah Ketika, Malam di Stasiun Gondangdia, Di Lubuk Sepi, Pertanyaan Pertanyaan yang Gemar Merenangi Pembuluh Kita, Wajah Dalam Kaca, Terik Kata di Ceruk Kota, Perempuan Kabut (5), Perempuan Kabut (6), Mata Kelam, Sepasang Sepi, dan Lukisan Penari (2).

Alamat email redaksi Jurnal Nasional adalah: redaksi@jurnalnasional.com

Dua puisi saya yang saya cantumkan di sini berjudul Catatan di Bata Merah dan Lukisan Penari (2).

Catatan di Bata Merah

aku menjaring suara angin di pelabuhan tua, yang
masih saja menyisakan kisah mendaratnya pedagang
dari jazirah seberang. lalu menawarkan perjanjian
perjanjian, dan kotamu kian menjadi etalase keriuhan.

dalam keletihan menelusup jejakmu, aku dibenamkan
gigil rindu pada kembara ke hulu sejarah. syiar nurani
yang bahana, menerobos kebekuan musim dengan bara
yang disulut oleh zaman kemudian. sedangkan masih
bungkuk udang lelapku, sembari menahan pecahan
mimpi yang berserak di terjal perjalanan. suara tembang,
gamelan dan tari topeng masih terajut dalam geliat
kepurbaan.

di perbukitan Gunung Sembung, terus saja terbit pendar
pendar cahaya, dalam bait bait teduh keteguhan, kitab
kitab sari kewalian.

2010
Lukisan Penari (2)

aku seperti mengenal tempat yang menjadi latar
panoramamu di situ, namun itu dimana. sedemikian terjal
untuk menambang jejaknya dalam ingatan. tak tersedia
inisial atau jembatan keledai untuk menyebut nama.
namun ada kerlip yang mengulir dari ceruk ceruk teduhnya.
kepurbaan yang dirawat oleh rimbun sawah dan lenguh
kerbau, kecipak sungai dan kilap ikan.

matahari tak seterik penantian, namun ia serupa datang dari
negeri yang jauh dengan tebaran sembilan musim. selalu ada
perubahan dari garis arsiran semburatnya yang mencipta bias
dan bayang desiran, serupa lagu epik yang panjang: berganti
tempo, nada dasar dan biramanya. diam diam dalam embus
angin seperti ada yang menyelinap ke sebalik dedaun angan.

dan aku tak pernah selesai mengeja makrifat tajali yang
bertumbuhan di kebun kebun tatapmu.

2013

Tentang budhisetyawan

Seorang yang suka musik dan sastra.
Pos ini dipublikasikan di Puisi Karya Sendiri 1. Tandai permalink.

2 Balasan ke Puisi Budhi Setyawan di Koran Jurnal Nasional 4 Mei 2014

  1. azizah berkata:

    blognya mantab pak, bisa jadi inspirasi setiap postingannya.
    ajari saya menuliskan puisi keren seprti puisi bapak dongggg🙂

    • budhisetyawan berkata:

      terima kasih mb Azizah. blog ini sebagai media untuk mendokumentasikan beberapa karya terutama yang dimuat media/buku. sekaligus diniatkan untuk berbagi karya, meminta komnetra kritik agar saya bisa lebih baik ke depannya, sekaligus berharap dapat menyemangati pembaca terlecut untuk berkarya yang lebih bagus daripada tulisan2 saya ini. salam puisi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s