Puisi Budhi Setyawan di Majalah Sastra HORISON Agustus 2014

GE DIGITAL CAMERAAda 6 puisi saya yang termuat di Majalah Sastra HORISON edisi bulan Agustus 2014. Keenam puisi tersebut berjudul Takzim Rindu, Sepanjang Jalan Hujan, Amsal Sebuah Taman, Gunung Bunga dan Puisi, Lumbung Sajak, dan Sajak Kesepian.

Untuk kiriman karya puisi ke Majalah Sastra HORISON dapat ke alamat email: horisonpuisi@gmail.com

Dua puisi yang saya cantumkan di blog ini adalah yang berjudul Amsal Sebuah Taman dan Sajak Kesepian.

 

Amsal Sebuah Taman

aku menanam kata kata di sepetak pekarangan waktu.
mereka dalam berbagai rupa buah dan bunga, yang
mengirimkan alamat musim, mendesakkan titisan
rahasia alam. berharap putik dan serbuk sari segera
bersua menautkan renik rasanya, karena telah
memuncak aroma: golak golak perih bahasa, getar
getar cemas renjana.

mungkin ada beberapa sosok yang menyambangi
ranah itu, seperti mereka ziarahi kenangan. tetapi
apakah mereka sungguh mencatat segala yang debar,
atau cuma sekilas lewat mengejar udara segar.
mereka yang suka merawat sunyi akan merasakan
semacam repetisi kehadiran sutra getaran, dengan
percik suasana yang tak sepenuhnya sama: nujum
kebaruan berkelindan kepurbaan.

di kedalaman tanah, di kejauhan sejarah, aku
berkhidmat pada tafsir kematianku. terbayang narasi
perjumpaan dengan pengunjung di tubir senja, seperti
ada angin menderu di sela kesepian zaman, menambah
pagutan gigil di ubunku. dan masih tersisa sejumput
ngilu, meski acap ada peziarah yang sedemikian lirih
mengucap namaku.

Jakarta, 2014

 

Sajak Kesepian

sepi lagi, tak sampai jua sajakku padamu
dan sendiri, mengemas rima waktu ke masa lalu
seperti ada yang menahan laju di setapak baca
terempas ke tepian jalan segala rerangkai tanda

membersit resah, seperti udara menaburkan sangsi
nampak hari melata, memberat amanat di sungai nadi
ingin kususun buatmu bait bait paling mawar
namun cuaca meranggas, kata kataku hangus terbakar

bumi berkaca, masihkah terhampar langit cahaya
bagi sukma imaji yang memburu pintu terbuka
dan terus mendesak alir metafora ke muara tautan nada
mengeja warna usia, mengais makna dalam rahasia senja

Bekasi, 2014

Tentang budhisetyawan

Seorang yang suka musik dan sastra.
Pos ini dipublikasikan di Puisi Karya Sendiri 1. Tandai permalink.

19 Balasan ke Puisi Budhi Setyawan di Majalah Sastra HORISON Agustus 2014

  1. Yono berkata:

    Mau tanya, Mas: kalau misal puisi kita yg termuat di koran/majalah itu apa bisa ditawarkan ke penerbit untuk jadi sebuah buku?

    • budhisetyawan berkata:

      trm kasih sebelumnya mas Yono. menurut saya, 2 hal tersebut tidak ada kaitan secara langsung. baik puisi yang sudah dimuat media maupun yang belum dimuat media, jika menurut penerbit dinilai bagus dan layak diterbitkan, maka akan diterbitkan.

      namun saat ini menurut saya tidak banyak penerbit yang bersedia menerbitkan puisi, karena dianggap kurang komersial. penerbit lebih suka novel.

      dan banyak buku puisi yang diterbitkan denganuang sendiri oleh penyairnya, dengan membayar ongkos cetak ke percetakan. demikian mas. salam karya.

  2. Badruz Zaman berkata:

    Mas. kalo di kaki langit siapa saja yang dimuat puisinya. Mohon info selengkapnya.

    • budhisetyawan berkata:

      terima kasih komentarnya mas Badruz Zaman.

      puisi2 di kakilangit adalah: Puisi dan ulasan tentang Jalaluddin Rumi.
      sedangkan untuk sajak cermin adalah karya-karya dari: Abenk Aksa Fahreza, B Safiruz Zaman, Moh. Mahfudz AF, dan Zaynul Faiz. semua dari Annuqayah, Sumenep. selamat ya. salam u teman2 Annuqayah.

  3. Titik Embun berkata:

    Mas Budhisetyawan, apa menulis puisi itu harus dengan kata-kata yang sulit?. Yang tidak dipahami oleh orang awam.

    • budhisetyawan berkata:

      terima kasih mba Titik Embun telah singgah blog saya.

      menurut saya tidak seperti itu mba Titik.
      hanya perlu dipahami dari awal, bahwa puisi merupakan karya sastra, dengan kalimat yang dipadatkan dan tentunya ada pesan yang disampaikan secara tidak langsung, alias dengan bahasa kias.

      elemen pokok puisi adalah kata. kata bisa diambil dari yang kerap muncul di percakapan sehari-hari atau yang ada di kamus bahasa indonesia dan tesaurus, yang jarang dipakai dalam keseharian.
      setelah kata, kemudian dirangkai menjadi kalimat. kalimat dalam puisi banyak yang tidak kalimat sempurna alias bersifat elpisis. di sini kadang ada ambiguitas dalam penafsirannya. selain itu, pesan yang disamarkan tadi diolah dengan menggunakan majas atau gaya bahasa. ada metafora, personifikasi, hiperbola, dll. gaya bahasa ini sudah dipelajari di SMP dan SMA.

      sebaga karya seni, puisi lebih diupayakan keindahannya dalam penyajiaannya dibanding pesan yang hendak disampaikan. dan ketika pesan sangat personal, maka kadang ada kesulitan dalam menyelusup kemana arah atau alamat puisi tsb.

      menurut saya untuk memahami puisi ya mesti mencintai puisi. artinya lebih banyak membaca puisi. kemudian dibantu dengan membaca esai atau kritik yang sering mengupas dan mengulas karya puisi. namun demikian, tafsir yang berbeda juga boleh saja. karena tidak ada kemutlakan dalam karya seni. karya seni bukan dogma agama.

      pada awal pengenalan membaca puisi memang terasa kesulitan. namun seperti peribahasa “alah bisa karena biasa”, maka jika secara sungguh-sungguh dan terus bersentuhan dengan puisi, maka akan ada kemudahan dalam memahami puisi.

      salam,
      Buset

  4. tatik berkata:

    wahhh… puisi-puisinya menyentuh sekali bapak, mau tanya ni pak, bagaimana sch cara menulis puisi yang baik, sebenanya sch ide sudah ada bapak tapi menuangkannya dalam bentuk tulisan yang susah, tlong solusinya bapak..

    • budhisetyawan berkata:

      terima kasih mba Tatik. menurut saya menulis itu ketrampilan, jadi harus dilatih terus menerus. singkatnya: banyaklah membaca, membaca, membaca…. lalu menulis.

      kemudian mesti sabar. tidak ada penulis bagus yang berhasil secara instan. tetapi lewat perjuangan yang berat dan panjang. (sebagai analogi mudah: bahwa yang disebut “mie instan” itu ternyata dalam proses pembuatannya dari tepun terigu s/d bentuk mie kering perlu proses dalam berbagai tahap dan tidak sebentar)

      selaamt berkarya. coba lagi dan tulis lagi.

  5. Basuki Raharjo berkata:

    salam mas budi salam kenal. saya basuki raharjo ingin tanya sedikit. Mas, kalau kita ingin ikut berpartisipasi ngirim puisi ke majalah horison, ketentuannya apa saja ya? apa yang harus dicantumkan gitu?

    • budhisetyawan berkata:

      terima kasih mas Basuki Raharjo.
      menurut saya tidak jauh berbeda dengan pengiriman karya ke media massa lain. ini hanya asumsi saya, karena yang tahu persis kan redakturnya. saya tidak pernah bertanya pada redakturnya.
      menurut saya:
      – pengiriman karya melalui email. di badan email ditulis pengantar singkat mengenai perkenalan, puisi yang dikirim, biodata dan foto, alamat lengkap kita, no HP, no rekening Bank untuk transfer honor.
      – file puisi dan biodata dibuat dalam file ms word dan dicantumkan/ dilampirkan dalam kiriman lewat email sebagai “file attachment” atau lampiran surat.
      – jumlah puisi yang dikirim menurut saya minimal 10 puisi.
      – waktu tunggu di Majalah atau media yang terbit sebulan sekali tentu lebih lama dibandingkan dengan koran yang ada rubrik sastra seminggu sekali.

      sementara menurut saya demikian. yang jelas, perlu kirim karya ke banyak media mas. karena bagi saya, pemuatan karya di media serupa misteri. puisi yang kita anggap bagus, ternyata sulit termuat. sedangkan puisi yang kita anggap biasa-biasa saja, eh malah yang dimuat.

      jadi terus berkarya dan banyak kirim ke media massa mas.

      salam progresif,
      Buset.

  6. ardiyanto hasugian berkata:

    Salam kenal mas Budi. Saya mau nanya nih mas, apa majalah horison membuat terbitan edisinya secara online? Dan apakah majalah horison memuat tentang perkembangan Bahasa Indonesia? Terima kasih.

    • budhisetyawan berkata:

      salam kenal juga mas Ardiyanto.

      majalah Horison adalah majalah versi cetak kertas atau hard copy. memang ada website Horison online di sini: http://horisononline.or.id/id/ tetapi isinya berbeda dengan majalah Horison versi cetak.

      sepengetahuan saya, majalah Horison memuat artikel terkait sastra, seperti Catatan Kebudayaan, Puisi, Cerpen, Esai, Sosok Sastrawan, rubrik Cermin (puisi dan cerpen untuk anak sekolah). untuk hal terkait bahasa Indonesia, menurut saya bisa buka website Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa di: http://badanbahasa.kemdikbud.go.id/lamanbahasa/

      demikian sementara dari saya.
      Terima kasih dan salam karya.

  7. Dema berkata:

    Salam kenal mas Budi. saya mau bertanya, jika puisi kita diterbitkan ada konfirmasi melalui email tidak? terimaksih

    • budhisetyawan berkata:

      untuk termuatnya karya di Majalah HORISON, maka Majalah HORISON akan mengirimkan 1 eksemplar majalah sebagai bukti muat/ terbit. demikian. salam karya

  8. puspita sari berkata:

    puisi nya bagus ka ? ka saya kan bari siswa SMA saya mau belajarmenjadi seorang sastrawan, saya sudah mengirimkan beberapa puisi hasil karya saya ke majalah, maupun perlombaan, tapi hasil nya tidak memuaskan, puisi saya selalu di tolak ,apa yang harus saya lakukan pak ?

    • budhisetyawan berkata:

      masih masa sekolah, biasanya masih menggelora-geloranya dalam apapun, termasuk dalam menggeluti hobi. sebagai perbandingan, saya yang sudah bekerja dan berusia 30-an tahun waktu itu, telah mengirim ada 50-an karya tetapi juga sulit termuat media massa. ada saran dari teman agar lebih banyak membaca dan jangan terburu-buru dalam berkarya. akhirnya saya berkenalan dengan banyak puisi karya penyair negeri ini seperti Abdul Hadi WM, Goenawan Mohamad, Dorothea Rosa Herliany, Oka Rusmini, dll.

      saran saya, perbanyaklah membaca karya2 penyair2 yang karyanya dikenal dan banyak dibahas di buku2 esai kritik. menurut saya dapat membantu membuka wawasan dalam menggunakan piranti2 penciptaan puisi seperti diksi, majas, irama, dll. tetapi jangan pernah untuk menjiplak atau menjadi plagiat. itu sangat diharamkan dalam kepengarangan.

      kemudian, saya infokan tentang media komunitas kami yang menerima kiriman naskah puisi, cerpen dan esai. berikut ini:
      Kepada teman-teman yang suka sastra, silakan kirim karya berupa puisi (maksimal 5 judul), cerpen, esai, kajian budaya: ke Buletin JEJAK dari grup Forum Sastra Bekasi (FSB). Jika dimuat akan diberikan Buletin Jejak di pertemuan bulanan FSB. Untuk luar kota,akan dikirim file pdf lewat email.
      Untuk karya anak sekolah akan dimasukkan dalam rubrik EMBRIO. Mohon sebarkan info ini, terutama kepada anak-anak sekolah.

      Silakan kirim dalam file attachment ke email: redaksibuletinjejak@yahoo.com

      Sertakan biodata naratif secukupnya di bawah karya tulisan. Untuk yang masih sekolah, tuliskan kelas & nama sekolah. Terima kasih.

      salam,
      Budhi Setyawan
      Ketua FSB

  9. dina zulfana berkata:

    kata-kata dalam puisi memang susah untuk di buat karena memang membutuhkan imajinasi yang tinggi…
    apa yang ada dalam angan-angan Anda sehingga mudah untuk menciptakan sebuah puisi….

  10. Salam kenal mas Buset.
    Saya seorang Santri, dipondok saya,banyak sekali media media untuk memuat karya” sastra.
    Saya suka menulis puisi, saya mau memuatnya di media yg jauh lebih atas seperti horison, tapi saya merasa karya saya masih kurang actual. Tapi saya bersikeras. Saya masih bingung mas Buset., saya suka simbangsiung dengan karya saya. Saya amati puisi” penyair seperti taufiq ismail, sapardi djoko damono, bagaimana bisa dia menciptakan karya puisi yang sederhananya?
    Seperti “seorang tukang rambutan kepada istrinya” karya taufiq ismail. Menurut saya karya dia yg satu ini, jauh sekali dalam keindahan kata” dan majas.
    Jadi apakah yg dinamakan puisi seperti itu?
    Saya jadi canggung ketika melihat hasil karya saya sederhana.apakah Mungkin karna saya belum mencapai pamor publik? apakah penyair yg sudah mashyur boleh menciptakan sastra yg berbeda?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s