Puisi Budhi Setyawan di buku Duka Gaza Duka Kita: Antologi Puisi 99 Penyair Indonesia, Empati untuk Palestina

Cover Antologi puisi 99 Penyair Indonesia Empati untuk Palestina: Duka Gaza Duka Kita

Cover Antologi puisi 99 Penyair Indonesia Empati untuk Palestina: Duka Gaza Duka Kita

Ada 1 puisi saya yang termuat di buku Duka Gaza Duka Kita: Antologi Puisi 99 Penyair Indonesia, Empati untuk Palestina. Buku tersebut diterbitkan oleh Penerbit Nitramaya Magelang pada September 2014. Penggagas antologi ini adalah Bambang Eka Prasetya.
Ada beberapa penyair yang tergabung di buku ini (sekadar menyebut beberapa nama) antara lain: Ali Syamsudin Arsy, Arsyad Indradi, Bambang Widiatmoko, Daladi Ahmad, Dian Rusdiana, Dyah Kencono Puspito Dewi, Ekohm Abiyasa, Fath WS, Hasan Bisri BFC, Herman Syahara, Isbedy Stiawan ZS, Jack Efendi, Kidung Purnama, Sofyan RH Zaid, Thomas Haryanto Soekiran, Yogira Yogaswara.
Puisi saya berjudul Sebutir Peluru di Dada Anak Palestina. Namun ada yang kurang tepat dalam bentuk struktur atau tipografi puisi saya di buku tersebut. Dalam bait-baitnya yang mestinya sudah berganti larik/baris, tetapi dilanjutkan ke kanan, sehingga agak menyulitkan jika dibaca. Saya menyayangkan kesalahan proses editing atau lay-out sebelum buku ini dicetak, karena “merusak” struktur puisi tersebut. Oleh karena itu, bagi yang mendapati puisi saya di buku tersebut, saya persilakan menyalin puisi yang saya cantumkan di bawah ini. (puisi Sebutir Peluru di Dada Anak Palestina ini pernah dimuat di koran Indopos edisi 23 Agustus 2014)
Sebutir Peluru di Dada Anak Palestina

peluru itu menahan malu
ketika dilepaskan dari mulut senapan
yang penuh gincu darah
menuju ke tubuh lunak
seorang anak yang tengah berlari
hendak sembunyi dari kecamuk serangan
dan reruntuhan kobaran api gedung yang terbakar

ia sudah menahan laju
mau hentikan penerbangan diri
atau berbelok ke arah dinding beton dan batu
namun seperti sia sia, tak kuasa tubuhnya
didorong runcing pancar hasrat
napas sewajah kaku yang keras menerjemahkan
kerlip ayat tentang tanah yang dijanjikan

ketika ia mendarat dan menembus dada anak itu
perasaannya meledak, lelehkan air mata panas
membasahi tubuh mungil yang tergolek
jam henti sesaat, waktu sesepi kenangan
di langit hujan bunga, keharuman dalam keharuan

senja hampir purna, malam pun menjelang
namun tak pernah benar benar ada gelap di Gaza
desingan mortir dan roket
bersaing terang dengan kumandang gumam zikir,
dan seperti terbit gema suara:
“tetaplah bertahan
dalam jalan nurani kemanusiaan,
tangis adalah bagian dari sejarah silam
saat kelahiran dari tubuh ibu,
Gaza, menguatlah bersama lapis lapis doa”

sebutir peluru di dada anak Palestina
menjerit sejadi jadinya
sesal raungnya menanyakan takdir diri
yang tak pernah terpahami

Bekasi, 15 Juli 2014

Tentang budhisetyawan

Seorang yang suka musik dan sastra.
Pos ini dipublikasikan di Puisi Karya Sendiri 1. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s