Puisi Budhi Setyawan di Kumpulan Puisi Temu Sastrawan Mitra Praja Utama (MPU) IX Jakarta 2014

Cover Kumpulan Puisi Temu Sastrawan MPU IX Jakarta 2014

Cover Kumpulan Puisi Temu Sastrawan MPU IX Jakarta 2014

Ada 2 puisi saya yang termuat di Kumpulan Puisi Temu Sastrawan Mitra Praja Utama (MPU) IX Jakarta 2014: Puisi Menetas di Kaki Monas. Buku tersebut diterbitkan oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta dalam rangka acara Temu Sastrawan Mitra Praja Utama (MPU) IX Jakarta yang diselenggarakan pada 10 – 12 Oktober 2014. Dalam antologi ini dipilih 10 besar puisi, namun tidak dilakukan pemberitahuan sebelumnya kepada calon peserta. Ada 3 orang yang menjadi kurator/ dewan juri untuk antologi ini yaitu Abdul Hadi WM, Maman S Mahayana, dan Medy Loekito.

Ada beberapa penyair yang tergabung di buku ini (sekadar menyebut beberapa nama) antara lain: Cok Sawitri, Edwar Maulana, Hamdy Salad, Husnul Khuluqi, Isbedy Stiawan ZS, Mustofa W hasyim, Ulfatin Ch, Irman Syah, Giyanto Subagio, Imam Ma’arif, Rukmi Wisnu Wardhani, Sihar Ramses Simatupang, Wijang Wharek, Kedung Darma Romansha, Mashuri, Muda Wijaya.

Dua puisi saya berjudul: Kutipan Haru dan Di Kota ini (1). Untuk blog ini saya cantumkan yang berjudul Di Kota ini (1).

 

 

Di Kota Ini (1)

 

di kota ini, orang orang merenangi

kamar kamar kelam dalam kepalanya

 

tak ada lagi restu daun

karena telah dilumuri

ciuman timbal dan merkuri

serta akar geragih plastik

yang bersulur ke lebam napas

 

di kota ini, orang orang bermimpi

terbang ke langit untuk menukar nasib

 

tak ada lagi syair cinta

karena telah sarat gemuruh

kerumun gegas perburuan

ke jonjot sel sel kesibukan

menetaskan telur telur apatis kronis

 

di kota ini, orang orang menyalakan

lampu yang akan membakar namanya

 

tak ada lagi persuaan

karena masing masing tubuh

telah menutup pintu percakapan

terhisap pusaran arus digital

dan purnama selalu menggigil kesepian

 

di kota ini, orang orang menyalin

segala kecamuk ke dalam darah

 

tak ada lagi bilik istirahat

pun malam cuma buluh sempit

buat sembunyikan derap sesaat

karena sebelum pagi mesti bersiasat

menekuni duri duri riwayat

di kota ini, orang orang terbirit

berlari memutari bayang bayang sendiri

 

Jakarta, 2013

 

Tentang budhisetyawan

Seorang yang suka musik dan sastra.
Pos ini dipublikasikan di Puisi Karya Sendiri 1. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s