Esai Budhi Setyawan di Majalah Sastra HORISON edisi November 2014

GE DIGITAL CAMERAAda satu esai saya termuat di rubrik Obituari Majalah Sastra HORISON edisi bulan November 2014. Esai ini merupakan tulisan ringan karena lebih bersifat laporan dari acara peluncuran buku antologi puisi beberapa penyair yang berjudul Jaket Kuning Sukirnanto pada peringatan 40 hari wafatnya penyair angkatan 66 yaitu Slamet Sukirnanto. Tulisan saya tidak banyak mengambil referensi dari buku atau media lain, sebagian merupakan bahan yang sudah terinformasikan di beberapa website di internet.

Selamat membaca, semoga berkenan.

Jaket Kuning untuk Slamet Sukirnanto

BUDHI SETYAWAN

Dunia sastra Indonesia kembali kehilangan sosok penyair besar sekaligus rendah hati. Slamet Sukirnanto yang merupakan penyair angkatan 66 wafat pada tanggal 23 Agustus 2014 dalam usia 73 tahun. Penyair yang dalam kehidupannya bergelut dengan puisi, wafat setelah menderita penyakit stroke cukup lama. Ia yang karena kondisi kesehatannya tidak memungkinkan untuk aktif hadir di acara-acara sastra, seolah perlahan menepi dari kancah keriuhan, lalu pergi bersama sunyi serta diiringi sunyi. Betapa tidak, di rumah duka Slamet Sukirnanto di daerah Pekayon, Bekasi, Jawa Barat saat itu hanya ada beberapa orang yang melayat. Dari pagi sampai dengan jenazahnya dibawa dengan mobil ambulans untuk dimakamkan, tetap tidak banyak pelayat berdatangan. Seperti ada keasingan menyergap, apakah semakin hari dalam menekuni usianya penyair kian khusyuk pada sepi, seperti juga puisi itu sendiri.
Puisi dengan tema kematian atau menyinggung tentang maut ditulis banyak penyair, dan ternyata ada juga puisi Slamet Sukirnanto yang memuat kata maut, yaitu puisi yang berjudul Kepadamu Kusampaikan.

Kepadamu Kusampaikan

Kepak merpati terbang di jaring mentari
Putih-putih bagai berlayar mega megah abadi
Kepak gagak terbang di jaring mentari
Hitam-hitam bagai awan memendam duka yang dalam
Sungguh, dik, hidup mesti begini
Tentang kasih, maut menagih
Memendam, di dasar hati, antara kau dan aku.

1967

Untuk mengenang kepergian penyair Slamet Sukirnanto itu, Komunitas Sastra Indonesia (KSI) Pusat yang diketuai penyair Bambang Widiatmoko mengadakan acara peluncuran buku Jaket Kuning Sukirnanto di PDS HB Jassin TIM Jakarta pada hari Jumat tanggal 3 Oktober 2014. Buku itu berisi puisi, cerpen, esai, dan artikel yang ditulis oleh beberapa penyair, cerpenis, dan esais dengan kurator Eka Budianta, Bambang Widiatmoko, dan Hasan Bisri BFC, yang dipersembahkan kepada Slamet Sukirnanto. Buku setebal 142 halaman yang diterbitkan oleh Taman Belajar Eugenia tersebut secara simbolis diserahkan oleh Eka Budianta kepada Fajar Sidiq, putra kedua dari enam bersaudara anak Slamet Sukirnanto.

Acara pada hari Jumat itu dimulai pada pukul 15.00 WIB dan Eka Budianta yang membawakan acara tersebut dengan sangat hidup dan enerjik, padahal beberapa waktu sebelumnya melakukan operasi untuk penyembuhan dari sakitnya. Hadir beberapa penyair pada acara tersebut (sekadar menyebut beberapa nama) antara lain Abdul Hadi WM, Taufiq Ismail, Adri Darmadji Woko, Rismudji Rahardjo, Jose Rizal Manua, Alex R Nainggolan, juga Sihar Ramses Simatupang yang menjadi redaktur budaya surat kabar Sinar Harapan.

Penyair Abdul Hadi WM dalam kesan-kesannya terhadap Slamet Sukirnanto dan peluncuran buku tersebut mengatakan : “Saya sedih. Dia teman seperjuangan dan sepenyairan dalam kegiatan sastra kami. Saya, Slamet, dan Sutardji Calzoum Bachri selalu bersama. Bagaimana lagi kalau seniman tak menghargai seniman. Bagaimana juga orang di atas sana (pemerintahan) mau menghargai seniman bila masyarakat saja tak menghargai senimannya? Makanya, saya menghargai peluncuran buku ini.” Lalu ia membaca sajak Slamet Sukirnanto dari buku Catatan Suasana.

Sedangkan bagi Taufiq Ismail, Slamet Sukirnanto mengiringi kenangannya berpuluh tahun silam. Baginya, Slamet Sukirnanto adalah pelaku sejarah. Dengan jaket kuning yang merupakan jas almamater Universitas Indonesia (UI), ia bersama-sama teman-temannya berjuang dalam ranah politik sekaligus kebudayaan. Kemudian Taufiq Ismail bercerita bahwa penyair Slamet Sukirnanto yang sangat mencintai alam, benar-benar dekat dengan kehidupan masyarakat. Karena sedemikian teliti dan menghayatinya, maka terlihat curahan perasaannya sekaligus keprihatinannya terhadap nasib masyarakat jelata dalam puisinya yang berjudul Petani. Puisi yang dibaca Taufiq Ismail merupakan satu dari beberapa puisi karya Slamet Sukirnanto yang dimuat sebagai ‘puisi kehormatan’ dalam Buletin JEJAK terbitan Forum Sastra Bekasi edisi 42/ September 2014. Beberapa larik puisi Petani tersebut adalah: Seorang bapa/ meneteskan air mata/ di pojok rumah./ Kandang kerbau kosong/ Setahun sudah. Ia tabah/ (lelaki jangan menangis)… Pada ihwal yang datang/ Ia berlarian sejak subuh/ Langkah panjang menghentak lantai/ menyilang menggapai/ dari ujung ke ujung/ dusun dan ngarai!/ Ke mana tempat bertanya?/ Belum usai luka –/ ia kehilangan lagi/ Rumput/ semak/ ilalang – dan padang tandus ini!//

Eka Budianta yang membawakan acara tersebut mengatakan: “Slamet Sukirnanto adalah senior saya di jurusan Sejarah, Fakultas Sastra (sekarang Fakulitas Ilmu Pengetahuan Budaya) UI. Semoga penerbitan yang terbatas dan tanpa banyak publikasi ini menjadi bukti bahwa kami memperhatikan setiap penyair. Masyarakat perpuisian Indonesia punya solidaritas yang tinggi, saling menghormati dan mengapresiasi hidup serta karya dari sesama penyair.” “Slamet adalah pencinta lingkungan dan penggagas penyelengaraan pembacaan puisi Pembauran Bangsa yang populer pada tahun 80-an di mana banyak anak Sekolah Dasar pada masa itu membacakan karyanya,” lanjut Eka Budianta.

Acara terus berjalan dengan beberapa penyair dan tamu yang hadir ikut membacakan beberapa puisi karya Slamet Sukirnanto seperti Layang-Layang Milikku, Katakanlah Padaku, Kepadamu Kusampaikan, Maghrib Pun Sampai, dan lain-lain serta puisi-puisi karya para penyair dalam buku Jaket Kuning Sukirnanto. Kemudian ada kelompok sanggar Sarang Matahari Penggiat Sastra dari KSI Tangerang Selatan yang diketuai sastrawan Shobir Poer tampil dengan musikalisasi puisi yang menggarap tiga puisi karya Slamet Sukirnanto, salah satunya berjudul Rimba yang Sunyi dari kumpulan puisi Lebih Dari Duri. Lirik dari puisi tersebut adalah: rimba yang sunyi/ setajam pisau belati/ diasah langit/ menyayat kabut pagi/ merobek mimpi/ angan angan berterbangan/ bagaikan kupu kupu/ meninggalkan dahan dahan/ tinggi tinggi sekali/ mengikuti jejak matahari!//
Mungkin Eka yang terlihat sangat bersemangat membawakan acara tersebut jadi sedikit lupa bahwa bagaimanapun acara itu masih dalam lumuran suasana duka. Walaupun dalam berbagai kesempatan Eka Budianta mengajak hadirin untuk bertepuk tangan, namun tetap tak mampu menepis kepiluan siang itu. Cuaca di luar gedung PDS HB Jassin terasa sangat terik, namun di dalam gedung tetap terasa teduh sekaligus bernuansa haru. Memang ada tepuk tangan usai penampil membacakan puisi, namun tepuk itu terasa begitu lemah dan lirih, bahkan seperti mempertemukan telapak perih, seperti kepak sayap burung yang patah dan sebagian bulu-bulunya menyerpih.

Acara tersebut ditutup pada sore hari sekitar pukul 17.00 WIB. Setelah itu, masih cukup banyak dari hadirin yang bergerombol atau berkelompok sambil bercakap-cakap diiringi sedikit tawa dan canda. Sepertinya mereka pun telah lupa bahwa beberapa menit sebelumnya menghadiri acara mengenang kematian seseorang. Akan tetapi canda dan tawa mereka bisa jadi merupakan cadar belaka dari keresahan dan kegelisahan jiwa, betapa setiap pertemuan seperti pusaran untuk mencatat kehilangan demi kehilangan.

***

Buku Jaket Kuning Sukirnanto layak mendapat apresiasi karena walau disiapkan dalam kejaran waktu dalam bentang 40 hari, tetapi tetap terjaga kualitasnya baik secara isi maupun kemasannya. Buku setebal 142 halaman tersebut menjadi nilai tersendiri bagi tim kurator dan orang-orang yang terlibat dalam persiapan sampai dengan mewujud dalam bentuk buku. Beberapa puisi dalam buku Jaket Kuning Sukirnanto menyuarakan tentang kepedihan dari kehilangan atau kepergian Slamet Sukirnanto. En Kurliadi Nf dalam puisinya Mengenangmu, pada larik awalnya tertulis: Lewat puisi aku mengenangmu dengan doadoa/ Mengiringi kepergian yang belum hujan di agustus/ … Kemudian Sumanang Tirtasujana menulis dalam puisinya yang berjudul Dialog dengan Buku Puisi Jaket Kuning: … Tuanku penyair, kini berkumpul dengan keluarga lamanya. Bersama ibu, bapak dan saudara saudara tua leluhurnya. Di taman joglo jawa tak terukur luas dan sejuknya//. Aldy Istanzia Wiguna menulis dalam puisinya berjudul Kidung Kehilangan: … Pada sebuah kota, kita akan sama-sama kehilangan. Mencatat rindu dalam dada yang tiada. Lalu kembali menggugurkan sepi dalam bilangan doa kita yang tak kembali.//. Salman Yoga S menulis dalam puisinya Kembali Berguru Kepada Waktu: …/ Kembali berguru kepada waktu/ Siklus yang tak pernah berhenti/ Kembali berguru pada waktu/ yang memberi dan merangkum perjalanan sebagai yang tak pernah kembali//. Hasan Bisri BFC menulis dalam puisinya Senyum Terakhir Seorang Penyair: … dan yang ditinggalkan menyeduh sepi/ menafsir kehilangan/ pada akhirnya segala titipan/ mesti dikembalikan//.

Beberapa bagian puisi dari tulisan di atas dapat dianggap sebagai pengingat akan kematian yang pasti dialami semua manusia. Kematian adalah keniscayaan yang dalam keseharian manusia diharapkan datang sejauh mungkin, selama mungkin. Bahkan penyair Chairil Anwar menulis dalam puisinya Aku: … Aku mau hidup seribu tahun lagi//. Maut jarang ditafsirkan sebagai tamu yang sudah dekat, sebagaimana sajak Subagio Sastrowardoyo yang diberi judul Dan Kematian Makin Akrab: … Di ujung musim yang mati dulu/
bukan yang dirongrong penyakit tua,/ melainkan dia yang berdiri menentang angin di atas bukit/ atau dekat pantai di mana badai mengancam nyawa./…

Dengan puisi bertema maut atau menyinggung tentang kematian, pembaca seperti diingatkan pada sesuatu yang pasti datang, cepat atau lambat. Puisi-puisi itu menjadi semacam suara lirih kepada pembaca, juga kepada penyairnya sendiri, bahwa kata-kata tak sungguh-sungguh sanggup menyimpan keabadian. Segala yang tertulis dan tertoreh hanya menjadi upaya memperpanjang usia atau akhir dari kesementaraan. Ia menjadi kerlip tanda. Aart van Zoest sebagaimana dikutip Dadan Rusmana (2014) mengatakan, bahwa bahasa, termasuk kata sebagai unit terkecil dari bahasa, merupakan tanda. Tanda dalam bahasa umumnya diidentikkan dengan “teks”. Tanda dalam bentuk teks dapat muncul sebagai gejala struktural pada tingkatan mikrostruktural (dalam kalimat, dalam sekuen) ataupun pada tingkatan makrostruktural (teks secara keseluruhan, wacana, antartekstualitas).

Selanjutnya tanda dalam karya tersebut akan dibaca, ditafsir dan dimaknai oleh pembaca. Pemaknaan yang tentu saja tidak mudah dan memerlukan kesabaran dan kearifan dalam proses yang terus-menerus untuk mendapatkan keheningan baru, di antara keriuhan arus zaman yang kerap menepikan keberadaan manusia sendiri.

***

Slamet Sukirnanto dilahirkan di Solo, 3 Maret 1941. Ia mengenyam pendidikan formal pertamanya di SD Muhammadiyah I Solo, kemudian melanjutkan pendidikannya di SMP Negeri III Solo. Setelah itu, melanjutkan ke SMA Negeri II dan dilanjutkan pada pendidikan terakhirnya Jurusan Sejarah Fakultas Sastra UI (tidak tamat).
Slamet Sukirnanto adalah tokoh yang aktif dalam bidang organisasi. Hal ini dibuktikan dari berbagai jabatan yang pernah diembannya selama mengikuti organisasi. Ia merupakan pendiri Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah pada tahun 1964, ketua presidium KAMI Pusat (mewakili DPP Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, 1966-), anggota DPRGR/ MPRS (mewakili mahasiswa, 1967-1971), redaktur tamu ruang kebudayaan Sinar Harapan (1972/ 1973), pendiri KNPI dan anggota DPP KNPI (1978-1981), anggota Badan Sensor Film (1978-1984), ketua Majelis Kebudayaan pada Pimpinan Pusat Muhammadiyah (1990), ketua Bidang Pengembangan Kebudayaan ICMI DPP Jakarta (1991), Ketua Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta (1993-1996) serta bekerja pada Bakom PKB DKI Jakarta.

Kumpulan sajaknya: Jaket Kuning, Kidung Putih, Gema Otak Terbanting, Bunga Batu, Catatan Suasana, Luka Bunga, dan Lebih Dari Duri. Bersama Ikranagara dan Wahyu Sihombing, ia menjadi editor buku Pertemuan Teater 1980. Bersama A. Hamid Jabbar, Slamet mengeditori buku Parade Puisi Indonesia (1993). Dalam buku itu, termuat sanjak-sanjaknya: Rumah, Rumah Anak-anak, Jalanan, Kayuh Tasbihku, Gergaji, Aku Tak Mau. Bersama Taufiq Ismail dan Sutardji Calzoum Bachri, ia menjadi editor buku Mimbar Penyair Abad 21 (1996).

Pada awalnya beliau akrab dengan seni lukis. Tetapi ketika SMA, ia kemudian tertarik pada drama. “Ini karena Mas Willy (WS Rendra) waktu itu di Solo sedang giat-giatnya berteater. Di SMA tahun 1962, bersama Salim Said, saya mendirikan grup Teater Margoyudan. Saya juga bergaul dengan Mansyur Samin Cs yang tergabung dalam HPSS (Himpunan Peminat Sastra Surakarta). Pergaulan dengan para penyair itu kemudian membangkitkan saya untu menulis. Saya masih ingat, waktu bulan puasa, saya naik sepeda keliling kota untuk menunggu waktu buka”, kenangnya.
“Di dekat Balai Kota Surakarta, saya melihat kere mati yang hanya ditutupi sesobek kertas dan daun sejak itu saya sadar secara spiritual mengenai eksistensi manusia. Kere mati itu betul-betul mengguncangkan batin saya. Atas fakta itu saya menulis puisi berjudul Kere Mati”. Puisi ini ia publikasikan di majalah sekolah. Sejak saat itu ia mulai menulis puisi, mencari jawaban terhadap hidup. “Kemudian saya belajar banyak tentang puisi dan kehidupan. Apa sih hidup ini? Terlebih lagi kehidupan saya begitu dekat dengan penderitaan”. katanya.

Ayah angkat Slamet adalah seorang tukang batu dan ibunya adalah tukang buruh cuci. “Tetapi orang tua angkat saya yang bersahaja itu belum pernah bilang kowe dadio wong sugih (jadilah kamu orang kaya) tetapi, kowe dadio priyayi (jadilah kamu priyayi). Priyayi bukan dalam arti punya banyak harta, tetapi berpendidikan atau kira-kira intelek. Mereka sangat memperhatikan kebutuhan rohani saya, jadi meski hidup kami penuh penderitaan, buku saya dua lemari. Secara spiritual sangat bahagia. Menurut saya proses kreatif adalah bagaimana seorang seniman mampu membaca dan menghayati kehidupan. Kemudian bisa menguasai teknik penyampaian secara baik sesuai media yang kita kuasai. Sebagai penyair, media saya puisi”, kenangnya.

Ia banyak belajar dari membaca karya Chairil Anwar, Amir Hamzah, dan kemudian Sanusi Pane. Tetapi belajar teknik yang mendetail dari Hartoyo Andangjaya. Menurutnya, puisi adalah bingkai dan penyair harus mengisi bingkai itu secara penuh. “Saya sangat senang dengan alam dan selalu bergetar untuk menuliskannya. Maka, semua puisi yang pernah saya tulis dekat dengan alam. Karena kadang-kadang saya kehilangan kepercayaan pada manusia. Kalau saya menulis puisi mengenai alam, bukan berarti saya memotret alam, tetapi berdialog dengan alam. Alam di sini menyangkut alam fisik maupun alam spiritual. Jadi, puisi perjalanan saya sebenarnya adalah puisi perjalanan spiritual. Sekarang ini banyak buku sastra terbit atau acara pembacaan puisi, tetapi tidak ada yang memperhatikan. Orang sudah mulai tidak peduli. Bahkan ada kecenderungan usaha mematikan. Unsur senang dan tidak senang pada pengarang sudah menggejala. Sekarang sudah tidak ada orang bijak seperti HB Jassin”, celotehnya.

Kenangan yang tak kunjung hilang mengenai Slamet Sukirnanto adalah keterlibatannya dalam Pengadilan Puisi Indonesia Mutakhir, yang diselenggarakan oleh Yayasan Arena di Aula Universitas Parahyangan Bandung, 8 September 1974. Bertindak sebagai Hakim Sanento Yuliman dan Darmanto Jatman. Pembela Taufiq Ismail. Saksi-saksi memberatkan: Sutardji Calzoum Bachri, Abdul Hadi WM, Sides Sudyarto DS, dan Pamusuk Eneste. Saksi meringankan Saini KM, Wing Kardjo, Adri Darmadji, dan Yudhistira ANM Massardi. Acara itu tentu “main-main” dengan hasil yang cukup serius sebagai kritik.

Saat itu ia bertindak sebagai jaksa dan membaca tuntutannya yang berjudul “Saya mendakwa kehidupan puisi Indonesia akhir-akhir ini tidak sehat, tidak jelas, dan brengsek!”. Pandangan Slamet berkisar tentang ketidakpuasannya terhadap perkembangan puisi Indonesia sekitar tahun 1970-an. Adapun tuntutan tersebut meliputi:
1. Para kritikus yang tidak mampu lagi mengikuti perkembangan kehidupan puisi mutakhir, khususnya H. B Jasin dan M. S. Hutagalung harus “dipensiunkan” dari peranan yang pernah mereka miliki.
2. Para editor majalah sastra, khususnya Horison (Sapardi Joko Damono) dicutibesarkan.
3. Para penyair established (mapan): Subagio, Rendra, Gunawan dan sebagainya dan lain-lain dilarang menulis puisi dan para epigonnya harus dikenakan hukum pembuangan, dan bagi inkarnasinya dibuang ke pulau yang paling terpencil.
4. Horison dan Budaja Djaja harus dicabut “SIT”nya dan yang sudah terbit selama ini dinyatakan tidak berlaku. Dan dilarang dibaca oleh peminat sastra dan masyarakat umum. Sebab akan mengisruhkan perkembangan sastra puisi yang kita harapkan sehat dan wajar.
Namun semua tuntutan tersebut ditolak oleh Majelis Hakim yang diketuai oleh Sanento Yuliman. Adapun keputusan Majelis Hakim yaitu,
1. Para kritikus sastra tetap dizinkan untuk menulis dan mengembangkan kegiatan serta meneruskan eksistensinya, dengan catatan harus segera mengikuti kursus penaikan mutu dalam Sekolah Kritikus Sastra yang akan segera didirikan
2. Para redaktur Horison tetap diizinkan terus memegang jabatan mereka, selama mereka tidak merasa malu. Bila dikehendaki sendiri, mereka boleh megundurkan diri
3. Para penyair mapan established, masih diberi peluang untuk berkembang terus. Begitu juga penyair epigon dan inkarnatif, boleh menulis terus dengan keharusan segera masuk ke dalam Panti Asuhan dan Rumah Perawatan Epigon
4. Majalah sastra Horison tidak perlu dicabut Surat Izin Cetak dan Surat Terbitnya hanya di belakang nama lama harus diembel-embeli kata “Baru” sehingga menjadi Horison Baru. Masyarakat luas tetap mendapat izin membaca sastra dan membaca puisi.

Acara main-main tersebut memang tidak mengubah keadaan seperti yang disuarakan dalam tutntutan dan keputusan, namun paling tidak menjadi cetusan yang seperti menantang kepada penyair untuk menemukan gaya yang berbeda dan pembaruan yang mestinya dilakukan sebagai olah kreatif para penyair dari generasi ke generasi selanjutnya.

Sutardji Calzoum Bachri pernah menuliskan esai berjudul Tentang Puisi Slamet Sukirnanto “Tanda Pentung, Bunga Batu, dan Luka Bunga” yang dimuat di Kompas, 29 Januari 1981 dan dimasukkan dalam buku Isyarat: Kumpulan Esai (2007). Dalam buku itu tertulis beberapa hal penting terkait sajak-sajak dalam kumpulan Bunga Batu dan Luka Bunga:
Kirnanto tidak menampilkan alam Indonesia yang manis, suatu alam yang seperti mooi Indie. Yang dia ketengahkan sebagai imaji-imaji ialah batu, rawa, malaria, luka, karang, kemarau, padang terbakar. Sesuatu yang keras and nyeri dan tanda seru itu dipergunakan penyair untuk memberikan aksentuasi pada imaji-imajinya sekaligus bisa pula berupa jawaban penyair untuk kehidupan yang keras.

Apa yang dimaksudkan penyair mudah ditangkap. Tentang batin yang merintih dan semakin luka, yang bicara lewat mulut rawa. Demikianlah umumnya sajak-sajak Slamet Sukirnanto yang terdapat dalam kumpulan puisinya itu: tidak rumit, mudah dimengerti (komunikatif) namun punya sentuhan-sentuhan yang dalam. Dan di sana-sini pada sajak-sajaknya bagi saya terasa jelas keresahan dan suasana pesimistis.
Memang menjadi penyair di masa kini samalah dengan sengaja atau mau tak mau harus mentakdirkan diri menjadi resah, atau memilih resah. Sang penyair menulis: Di rumah ada Sorga/ Aku memilih kelam/ Neraka di jalan-jalan…(Sajak “Rumah”).

Lewat sajak-sajaknya yang terbaik, dengan imaji-imaji yang kadang simbolik kadang surealis ataupun campuran keduanya, dengan ritme yang cukup terpelihara serta penguasaan teknik yang matang, Kirnanto berhasil menyampaikan pengalaman batinnya secara kuat (intens) dan mengesankan. Kesadaran pada struktur sajak serta ritme dan unsur-unsur musikal yang menyatu pada apa yang ingin diungkapkan, membantu tampilnya sajak yang utuh. Hal ini terutama sangat dikuasai Kirnanto pada sajak-sajak pendeknya, seperti sajak “Sungai Martapura”: Bila Aku perahu/ Kau adalah sungainya/ Aku kayuh mimpi-mimpi ke hulu/ kau hilirkan darah dagingnya!/

Kepekaan rasa dari penyair memungkinkan ia dapat merasakan sesuatu yang menyelinap atau membersit dalam perjalanan waktu. Sesuatu yang kadang dianggap istimewa atau sangat menyentuh itu bisa diibaratkan sebagai gelombang yang datang dengan frekuensi yang sudah mendekati ambang batas penangkapan. Kemurnian rasa yang mengalir dalam desir rahasia kadang seperti mampu menangkap ruh atau hakikat dari suasana kehadiran sesuatu itu. Hal yang bisa menjadi sangat khusus itu bagi penyair akan diolah lebih lanjut menjadi karya berupa puisi. Maka tidak heran banyak penyair yang menulis puisi dengan tema kesepian dan keterasingan serta kematian.

Seorang penyair Irak, Abdul Wahab Al Bayati dalam bukunya Cinta, Kematian, Keterasingan (terjemahan, 2001) menulis dalam beberapa puisinya: … Mereka telah menanam pohon-pohon bunga mawar di atas makam-makam penyair yang tak dikenal, burung-burung pipit hinggap di samping pohon-pohon bunga mawar itu,/ …… Dalam puisinya yang lain: … Daun-daun pepohonan mulai berguguran di hutan-hutan laut merah,/ cahaya-cahaya mulai padam,/ … Kemudian dalam puisinya yang lain ia menulis: … Seorang penyair mati dalam keterasingan, bunuh diri, gila diperbudak atau dijadikan pelayan di daerah hitam ini, dan di dalam sangkar-sangkar emas itu, di mana sebuah bangsa yang terampas dan telanjang mati secara pelan-pelan di antara perbatasan air ke perbatasan lain, bangsa yang berada di bawah cambukan kengerian, kesendirian, terusir, tercampakkan dan terlarang berada di sisi sangkar-sangkar itu./ Dan akhirnya ia mengatakan dalam sajaknya yang terasa sangat menghunjam: … Ketika sang penyair telah berangkat, langkah-langkah kakinya melukiskan peta segala hal./

Budhi Setyawan, sastrawan, tinggal di Bekasi, Jawa Barat.

Tentang budhisetyawan

Seorang yang suka musik dan sastra.
Pos ini dipublikasikan di Esai 1. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s