Esai Budhi Setyawan di Buletin Jejak edisi 46 bulan Januari 2015

Oleh-oleh dari Silaturrahim Sastrawan Indonesia 2014

Oleh: Budhi Setyawan

Foto baru sampai Rumah PuisiAda jalan menanjak, kesejukan menerpa. Itu yang saya rasakan ketika turun dari kendaraan yang membawa saya dan teman-teman dari Bandara Minangkabau Padang ke Rumah Puisi Taufiq Ismail. Waktu sore hari cuaca mendung, dan semilir angin bertiup. Ada getaran yang terasa sangat dalam, sekaligus semacam pertanyaan kepada kesungguhan berproses kreatif dalam ranah kesusastraan. Kami pun berjalan mengikuti langkah kaki ke atas, ke Rumah Puisi yang sebelumnya hanya terlintas dalam mimpi dan ilusi.

Ya, Rumah Puisi Taufiq Ismail dan Majalah Sastra Horison mengadakan acara Silaturrahim Sastrawan Indonesia di Rumah Puisi Taufiq Ismail, Jalan Raya Padang Panjang – Bukittinggi km. 6 Kabupaten Tanah Datar Provinsi Sumatera Barat pada tanggal 19 – 21 Desember 2014. Acara yang juga didukung Bank BNI ini mengundang cukup banyak sastrawan antara lain Abdul Hadi WM, Danarto, Ikranagara, Eka Budianta, Didik Siswantono, Joni Ariadinata, Mahwi Air Tawar, Joko Pinurbo, Budhi Setyawan, Tarmizi Rumah Hitam, Zulfaisal Putera, Suminto A. Sayuti, Jamal D. Rahman, Chairil Gibran Ramadhan, Aida Ismeth, D. Kemalawati, Linda Djalil, dan Ike Soepomo. Prof. Dr. Taufik Abdullah diundang sebagai tokoh yang menyampaikan Pidato Renungan Akhir Tahun.
Pada Jumat malam tanggal 19 Desember acara pembukaan oleh penyair Taufiq Ismail dan dilanjutkan dengan pidato renungan akhir tahun oleh sejarawan Taufik Abdullah. Acara ini dilakukan di dalam ruangan Rumah Budaya Fadli Zon, yang berada di depan bangunan Rumah Puisi. Fadli Zon penyair yang juga politikus sempat hadir dan memberikan sambutan singkat.

Kemudian pada hari Sabtu 20 Desember, setelah sarapan pagi di the Aie Angek Cottage, peserta acara ini diajak mengunjungi beberapa tempat wisata di Sumatera Barat yang terjangkau dalam sehari itu. Rombongan dalam minibus berangkat sekitar pukul sembilan pagi dan mengunjungi beberapa tempat antara lain Danau Singkarak, Istana Pagaruyung, Jalan Kelok Sembilan, Lembah Harau, Bukittinggi tempat melihat panorama Ngarai Sianok dan di Jam Gadang. Ada keriaan di dalam bus rombongan karena ibu Aty Ismail, istri penyair Taufiq Ismail banyak memberitahukan beberapa tempat yang menjadi masa kecil tokoh asal Sumbar seperti Buya Hamka, Sutan Syahrir, dan lain-lain termasuk kampung Taufiq Ismail. Juga disebutkan beberapa gunung atau perbukitan yang sering dilewati atau tempat berkelana Taufiq Ismail, yang diyakini turut membentuk sifat yang teguh dan tidak mudah menyerah dalam kehidupannya. Perjalanan hampir seharian di atas kendaraan ternyata cukup membuat pusing di kepala. Ini yang saya rasakan dan dirasakan juga oleh penyair Joko Pinurbo atau yang kerap dipanggil Jokpin itu. Mungkin pengaruh faktor usia, tetapi bisa juga memang perjalanan dengan melewati medan yang naik turun dan berkelok cukup memberikan sensasi sekaligus otak dituntut melakukan adaptasi secara cepat untuk mencapai keseimbangan pandang dan rasa. Memang perjalanan yang hanya sehari dan menargetkan banyak tujuan yang jaraknya cukup lumayan jauh menyebabkan lama waktu di atas kendaraan alias di perjalanan. Di beberapa obyek wisata, rombongan hanya singgah antara 10 sampai 15 menit saja. Sore hari menjelang magrib rombongan kembali ke Rumah Puisi.

Acara Sabtu malam adalah ramah tamah dan baca puisi. Peserta makan malam bersama. Cuaca hujan gerimis sehingga tidak bisa duduk-duduk di tempat terbuka di teras belakang Rumah Budaya. Hawa udara terasa makin dingin dan peserta seperti enggan keluar ruangan. Karena hujan, maka acara ramah tamah dan baca puisi dimulai agak kemalaman. Mungkin hal ini yang menyebabkan hanya ada sedikit peserta di acara ini yang baca puisi. Padahal mestinya semua peserta diberi kesempatan tampil ke panggung. Bukan alasan ingin dilihat oleh yang lain, namun dapat hadir ke Rumah Puisi dan berkumpul dengan banyak sastrawan termasuk dengan sastrawan yang karya-karyanya sudah sangat dikenal dalam kesusatraan Indonesia, bahkan beberapa diterjemahkan ke bahasa asing, tentu merupakan kesempatan yang langka dan sangat patut untuk diapresiasi secara optimal. Jadi meski sudah ditemani teh manis dan kopi, sayang ada kehangatan yang kurang di malam gerimis rinai itu.

Hari Minggu 21 Desember, saat sarapan pagi, menjadi pagi yang panjang dan hari seperti ingin lebih panjang lagi. Dalam sarapan nasi goreng atau bubur lengkap dengan minuman teh manis atau kopi, para peserta terlibat sangat akrab di empat kursi yang mengitari 1 meja maing-masing, dan ada beberapa meja di ruangan terbuka belakang Rumah Budaya itu. Pertemuan yang saya rasakan sebagai pertemuan sebagai sesama manusia biasa. Tak ada sekat usia dan ketokohan. Juga karya. Tak pernah ada perbincangan berat di sana. Semua hanya obrolan ringan seperti di warung kopi atrau angkringan, yang diikuti dengan tawa yang renyah membahana. Bisa jadi para sastrawan itu lagi ingin santai, ingin lari dan menghindar dari kejaran diksi dan metafora yang kadang datang tanpa ketuk pintu, sedangkan si sastrawan sedang ingin istirahat sejenak atau bercengkerama dengan pasangannya.

***

Mengikuti acara pertemuan sastrawan merupakan peristiwa yang unik dan menyenangkan. Ada perbedaan antara acara ini dengan pertemuan sastra yang sebelumnya saya ikuti. Jika di acara seperti Pertemuan Penyair Nusantara (PPN), Temu Sastra Indonesia (TSI), Temu Karya Sastrawan Nusantara (TKSN), Temu Sastrawan Mitra Praja Utama (TS MPU), atau peluncuran buku sastra, selalu ada seminar dan diskusi, maka di acara Silaturrahim Sastrawan Indonesia tidak ada seminar, workshop atau diskusi sastra. Acara dikemas secara lebih bebas dan santai. Acara yang sangat merakyat. Masing-masing peserta dapat saling berinteraksi secara lebih santai. Siapapun, termasuk saya yang masih pembelajar awal di ranah sastra dapat berbincang demikian dekat dan akrab dengan Ikranagara, Taufiq Ismail, Danarto dan yang lain-lain yang termasuk pendekar atau tokoh penting dalam kesusastraan Indonesia.

Bagi saya pribadi, bertemu dengan sastrawan besar yang sudah kerap disebut tokoh memberikan rasa kagum dan apresiatif. Nah, hal ini menurut saya perlu dikelola dengan bijaksana. Pada sekitar tahun 2008 dan beberapa tahun sesudahnya, ada perasaan bangga yang luar biasa jika pernah bertemu dengan sastrawan besar, apalagi sempat berfoto bersama. Kebanggaan seperti ini bisa menimbulkan sikap statis, mandek, dan kesenangan belaka. Menurut saya ini bisa mengancam dan membahayakan proses kreatif dalam kekaryaan. Akan lebih bijaksana jika proses pertemuan apalagi jika ada foto bersama, maka selain ada penyejajaran dalam tampilan foto, mesti diingat dan terus dinyalakan semangat untuk menyejajarkan diri dalam kualitas karya. Dan tidak diharamkan juga semangat untuk melampaui karya-karya mereka. Nah, dengan demikian pertemuan dengan tokoh tersebut dapat memberikan aspek magnetis dan emanasi eksploratif, sehingga akan memberikan daya cerah dan daya gugah untuk terus berproses, kerkesinambungan dan tanpa lelah.

Juga cerita mereka yang dulu berproses menulis masih dengan mesin ketik, mengirim karya ke media lewat kiriman pos, honor pemuatan karya mesti diambil sendiri ke kantor media massa atau dikirim wesel, dan kelampauan lain yang secara inti dapat disimpulkan sebagai keadaan yang masih terbatas dan belum semudah sekarang, merupakan keasyikan tersendiri. Cerita yang diakhiri dengan tertawa bersama, meski dalam suasana gambaran yang masing-masing generasi berbeda. Saya yakin mereka membagi cerita itu ada maksudnya. Selain sebagai celotehan nostalgia (atau nostal-gila?), mereka bisa jadi melemparkan semacam tantangan yang berisi begini: “dulu waktu kami muda dan zaman masih susah, kami mampu melewati halang rintang itu semua dan tetap terus berteguh dalam karya. Nah pada zaman serba cepat dan mudah ini, bagaimana dengan proses kreatif dan karya-karyamu?” Saya pribadi sebenarnya miris, sekaligus menyelipkan renung dalam percakapan dengan mereka. Betapa saya belumlah apa-apa. Saya belum jadi apa-apa di ranah sastra ini. Hal ini yang menurut saya mesti dipetik dan ditarik lebih dalam ke benak para penulis muda saat ini, sudah optimalkah penggunaan perangkat teknologi informasi saat ini bagi perkembangan (kualitas) karya sastra? Tentu menjadi keprihatinan dan kenaifan tersendiri jika kemajuan perangkat elektronik itu malah menenggelamkan dalam arus penghiburan yang melenakan dan tak menajamkan semangat bersaing dan bertanding menuju karya yang lebih berbobot dan progresif.

Di Rumah Puisi juga dapat dibaca beberapa kalimat pendek atau ungkapan dari para penulis dunia yang dapat menyemangati penulis. Dapat dibaca beberapa yang terpampang di ruang tamu Rumah Puisi. Misalnya, seperti yang dikatakan oleh penyair Amerika James Russel Lowell: “Kalau kita tunggu waktu yang tepat untuk menulis, maka waktu itu tidak pernah muncul”. Ini mengajarkan kepada kita bahwa setiap individu memiliki kesibukan dan aktivitas yang spesifik, berbeda antara satu dengan lainnya, sehingga waktu yang tersedia dan terbaik untuk masing-masing orang juga berbeda. Maka, ya manfaatkan waktumu untuk menulis, dan teruslah perbanyak kegiatan menulis. Lalu yang dikatakan oleh Vaclav Havel, penulis yang kemudian menjadi presiden Cekoslowakia dan Ceko: “Kata-kata mampu menggoyahkan kekuasaan. Kata-kata terbukti lebih perkasa ketimbang sepuluh divisi tentara.” Sedangkan penulis Jorges Luis Borges mengatakan: “Saya selalu membayangkan sorga itu semacam seperti perpustakaan.” Semua ungkapan para penulis mengarahkan untuk mencintai bacaan dan menulis.

Selain itu juga informasi yang sangat berguna bagi pendidik atau pejabat yang bekerja di bidang kebijakan pendidikan. Ada papan informasi yang memberitahukan tentang Buku Sastra Wajib Baca di 13 Negara. Tabel ini berisi jumlah bacaan sastra yang wajib dibaca pada rentang tahun tertentu di SMA. Untuk negara Asean, di Thailand Selatan 5 judul, Malaysia 6 judul, Singapura 6 judul, Brunei Darussalam 7 judul, sedangkan Indonesia 0 judul. Untuk negara maju, Swiss 15 judul, Jerman 22 judul, Perancis 30 judul, Belanda 30 judul, dan tertinggi Amerika Serikat 32 judul buku. Betapa memprihatinkan bukan bangsa Indonesia ini. Dan lihatlah, berapa pengguna jejaring media sosial Facebook di negeri ini, dan siapa pembeli merek telepon genggam yang begitu euforia, selain masyarakat Indonesia. Dan sebagian dari mereka adalah pelajar SMA tentunya. Sangat menyedihkan!

Setelah usai pertemuan, maka ketika kembali ke rumah masing-masing, kembali ke kesunyian masing-masing, saatnya untuk merenungi dan membuat tolakan yang kuat untuk mencipta karya yang lebih berbobot dan maju. Ini tentu tidak ringan. Perlu disiasati bahwa suatu waktu kelak akan bertemu dengan mereka yang sudah dianggap tokoh sastra itu pada acara yang lain, sehingga tentu akan lebih berharga dan berguna jika pada pertemuan nanti, kita sudah banyak mencipta karya yang lebih berkualitas.
Ya memang akhirnya kembali pada kalimat awal tulisan ini, bahwa ada jalan menanjak. Ada proses yang tak mudah dan memerlukan kesungguhan, bahkan menurut Umbu Landu Paranggi mesti berdarah-darah untuk menulis puisi (termasuk karya sastra yang lain). Dan mutlak diperlukan usaha yang keras dan penuh kesungguhan untuk mencapai pada puisi, mengunjungi rumah puisi, terlebih menuju pada puncak puisi. Salam progresif!

Budhi Setyawan, peserta Silaturrahim Sastrawan Indonesia 2014.

Cover Buletin Jejak Januari 2015

Tentang budhisetyawan

Seorang yang suka musik dan sastra.
Pos ini dipublikasikan di Esai 1. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s