Puisi Budhi Setyawan di Antologi Puisi SANG PENEROKA

Cover Sang PenerokaAda 5 puisi saya yang termuat di Buku SANG PENEROKA: Antologi 106 Penyair Indonesia dan Ulasan Terhadap Karya-karya Kurniawan Junaedhie. Buku setebal 487 halaman tersebut diterbitkan oleh Penerbit Gambang Yogyakarta pada bulan November 2014, dalam rangka ulang tahun ke-60 penyair Kurniawan Junaedhie. Antologi ini digagas oleh penulis dan esais yang sekaligus dosen sastra DR. Esti Ismawati. Buku ini memuat sekapur sirih dari Esti Ismawati, kata pengantar oleh Adri Darmadji Woko, dan ulasan beberapa penulis yaitu Adek Alwi, Esti Ismawati, Soni Farid Maulana, dan Handrawan Nadesul.
Kelima puisi saya di buku ini berjudul: Anthurium, Menulis Jejak, Dari Sebuah Radio Kecil (1), Dari Sebuah Radio Kecil (2), dan Sebuah Jam Dinding dan Foto Bapak.
Untuk blog ini saya cantumkan 2 puisi yang berjudul Anthurium dan Sebuah Jam Dinding dan Foto Bapak.

 

Anthurium
: kurniawan junaedhi

anthurium
daun
daun
terkembang

masihkah ia bersemayam di taman sajakmu
ketika langit kerap koyak digempur waktu
pun pabrik pabrik kian memanjang tangannya
merogoh ke saku celana dusun dan desa

makin meninggi menara usia
menghadapi tiupan angin kian deras
teringatkah kau pada mekar gelombang cinta
yang geraknya melompati beragam kemungkinan
dan di puncak malam menguar kerlip tanya
sepi diri hadir dengan tiba tiba dan mengibai
riuh silam yang perlahan luruh ke bawah
menuju lembah, menuju pasrah

aku berharap ia masih menjaga hijau dan segar
menemui sosok iklim yang makin berwarna
dengan roman pancaroba dan kota yang tawar
hingga putih kata tetap memperoleh ruangnya

anthurium
tahun
tahun
terkenang

Bekasi, 2014

 

Sebuah Jam Dinding dan Foto Bapak

ingatan melayang tak tertahan
lalu menukik di kubang kelu ruang:

ada sebuah detik tergesa berangkat
dalam penyeberangan di selat harapan

sementara mirakel masih memadat di langit
tak hendak luruh oleh kesedihan waktu

langkah menit meniti buluh rindu kanak pun
beberapa putaran gawal menandai ilusi

hingga masih tercium Januari yang kering
sebagai sore yang dahaga, yang puasa

yang perlahan berjalan menyelinap kabut,
yang entah disebut sebagai pergi atau kembali

dan sebayang wajah masih tertanam di tembok
terlekap jaring benang laba laba di baliknya

tatapannya masih menembusi musim musim
seperti setia menyalakan doa doa keselamatan

: maka, jam dinding itu kini jadi sangat pendiam
sedangkan foto bapak terus saja berdetak

Purworejo, 2014

Tentang budhisetyawan

Seorang yang suka musik dan sastra.
Pos ini dipublikasikan di Puisi Karya Sendiri 1. Tandai permalink.

2 Balasan ke Puisi Budhi Setyawan di Antologi Puisi SANG PENEROKA

  1. Tutik Khamidah berkata:

    Minta contoh Geguritan bertema pahlawan donk….mksh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s