Puisi Budhi Setyawan di Majalah Sastra HORISON Maret 2015

GE DIGITAL CAMERAAda 7 puisi saya yang termuat di Majalah Sastra HORISON edisi bulan Maret 2015. Ketujuh puisi tersebut berjudul Pengupas Sepi, Hikayat Sungai, Taman Berdoa, Subuh, Hakikat Burung, Kecintaan Doa, dan Mazhab Percintaan.

Ketujuh puisi saya yang dimuat dalam majalah HORISON bulan Maret 2015 ini merupakan bentuk puisi bertanda “#” (pagar/ hashtag). Saya belajar menulis puisi ini dari penyair asal Sumenep yang juga alumnus PP Annuqayah Guluk-Guluk, Sumenep yaitu Sofyan RH. Zaid (yang telah menerbitkan antologi puisi bertanda “#” berjudul Pagar Kenabian pada bulan Januari 2015). Ia datang ke Bekasi sekitar akhir tahun 2013 dan bergabung dalam komunitas Forum Sastra Bekasi (FSB).

Di komunitas FSB ada program penulisan puisi dengan memanfaatkan aplikasi grup di perangkat telepon genggam yang dinamakan Lumbung Sajak (LS). Setiap warga LS wajib setor 1 puisi per minggu yang temanya ditentukan bersama, dengan tema yang berbeda untuk tiap-tiap minggunya, termasuk bentuk puisinya yang bisa dalam larik bebas, 4 seuntai 3 bait, 4 seuntai 1 bait, dan lain-lain termasuk puisi bertanda pagar “#” ini. Saya tertarik dengan jenis puisi berpagar ini karena sebagai penyuka lagu dan tembang Macapat yang kental dengan unsur persamaan bunyi di akhir larik, maka saya suka puisi bertanda pagar ini yang bunyi di akhir larik kalimat di sebelah kiri tanda pagar akan sama dengan bunyi dari akhir larik kalimat di sebelah kanan tanda pagar. Selain unsur rima, saya juga menyukai adanya keteraturan jumlah kata atau suku kata (walaupun ini agak sulit dijangkau).

Untuk kiriman karya puisi ke Majalah Sastra HORISON dapat ke alamat email: horisonpuisi@gmail.com
Untuk berlangganan (dalam negeri) dapat menghubungi alamat: Majalah Sastra HORISON, Jalan galur Sari II No. 54, Utan Kayu selatan, Jakarta 13120, telp: (021) 859-03045, faks.: (021) 858-3437.

Dua puisi yang saya cantumkan di blog ini adalah yang berjudul Pengupas Sepi dan Mazhab Percintaan.

Pengupas Sepi

aku cuma pengupas sepi # melepas kulit pada tepi
butir debu jadi perangkap # hijab desir belum tersingkap
berlapis lapis pencarian # melukai jari kesabaran
panjang jarak ke dalam isi # sampai meleleh batu hati

pada masa gegas tergesa # tak ’kan terengkuh rahasia
pada hening akan menjadi # segala menuju hakiki
sajak tumbuh mencium nyeri # tekun tarikan tafsir diri
serupa kerling seorang dara # menawan degup terus mengeja

tidak tertera juga namaku # aku ada di seberang waktu
biarlah ’ku dalam kediaman # menyadap alamat pesan zaman

Bekasi, 2014

Mazhab Percintaan

engkau sebagai pakaianku # aku menjadi pakaianmu
aku masuki tubuhmu # engkau masuki tubuhku
bersama kita menggengam ruang # hingga tak lagi bertumbuh bayang
tarian kita pancarkan terang # mengatasi malam serta siang

Jakarta, 2014

Tentang budhisetyawan

Seorang yang suka musik dan sastra.
Pos ini dipublikasikan di Puisi Karya Sendiri 1. Tandai permalink.

3 Balasan ke Puisi Budhi Setyawan di Majalah Sastra HORISON Maret 2015

  1. Salam kenal mas Buset.
    Saya seorang Santri, dipondok saya,banyak sekali media media untuk memuat karya” sastra.
    Saya suka menulis puisi, saya mau memuatnya di media yg jauh lebih atas seperti horison, tapi saya merasa karya saya masih kurang actual. Tapi saya bersikeras. Saya masih bingung mas Buset., saya suka simbangsiung dengan karya saya. Saya amati puisi” penyair seperti taufiq ismail, sapardi djoko damono, bagaimana bisa dia menciptakan karya puisi yang sederhananya?
    Seperti “seorang tukang rambutan kepada istrinya” karya taufiq ismail. Menurut saya karya dia yg satu ini, jauh sekali dalam keindahan kata” dan majas.
    Jadi apakah yg dinamakan puisi seperti itu?
    Saya jadi canggung ketika melihat hasil karya saya sederhana.apakah Mungkin karna saya belum mencapai pamor publik? apakah penyair yg sudah mashyur boleh menciptakan sastra yg berbeda?

    • budhisetyawan berkata:

      Terima kasih mas kyai Zainal Abidin Hamid, telah berkenan singgah di gubug saya ini. Salam kenal.
      Saya penyuka puisi, dan kemudian suka menulis puisi. Saya banyak membaca puisi karya penyair nasional negeri ini dan beberapa karya penyair dunia, akan tetapi saya bukan pengamat puisi. Kebanyakan saya baca dan coba saya cerna. Jika saya merasa enak, maka saya teruskan. Jika saya kurang merasakan puisi itu, maka biasanya saya tidak baca lagi, walaupun karya penyair tersohor dunia sekalipun. Saya lebih membaca pada karya, tanpa melihat siapa yang menulisnya. Menurut saya ini lebih obyektif dan tidak membebani bagi ruang estetika saya.

      Saya merasa bahwa ada subyektifitas dalam masing-masing orang, termasuk saya sebagai penulis, juga pada redaktur sastra sebuah media massa. nah, saya tidak bisa menilai secara lebih dalam puisi-puisi karena bekal ilmu sastra saya dangkal. Saya cuma sering memposisikan sebagai pembaca yang mencari keindahan dalam deret kata yang tersaji. terkait subyektifitas, dalam beberapa pengiriman puisi ke media massa, beberapa kali saya merasa “kecewa”. ketika saya kirim puisi yang menurut saya bagus, ternyata tidak dimuat. ketika pada waktu yang lain saya kirim puisi yang sangat biasa, eh malah dimuat. jadi menurut saya, redaktur punya selera yang bolehjadi berbeda dan subyektifitas tadi.

      intinya menurut saya, akan lebih baik jika kita terus menulis dengan senyaman-nyamannya gaya kita. dengan melakukan tugas kekaryaan disertai perasaan cinta dan nyaman, biasanya dapat menghasilkan puisi yang mempunyai kedalaman. (nah terkait dimuat media atau tidak, sebaiknya tidak dijadikan ukuran mutlak. banyak puisi saya yang saya anggal ‘dalam’ juga tak termuat media. tetapi saya berpikiran positif bahwa itu semacam nasihat agar saya makin banyak membaca dan terus menulis).

      salam progresif-revolusioner, jazz-rock!

  2. nadya berkata:

    mau tanya, kalo majalah horison hingga sekarang masih terbit? kalau kirim karya, feedbacknya gmn? apakah kita yg menghubungi atau kita dihubungi kalo karya kita ada yg diterbitkan? utk puisi brp honor rata2 yg diberikan?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s