Puisi Budhi Setyawan di SAKSI BEKASI: Antologi Puisi Forum Sastra Bekasi

cover saksi bekasiAda 8 puisi saya yang termuat di buku “SAKSI BEKASI“, Antologi Puisi Forum Sastra Bekasi (FSB) yang terbit pada bulan Maret 2015. Puisi-puisi saya tersebut berjudul: Kepada Bekasi (3), Semestinya Engkau Mulai Mencintai Kota Ini, Di Depan Mal Metropolitan Bekasi, Pekayon, Igauan Ikan Gabus, Bekasi Sebuah Kamar Tidur Pekerja, Pada Sebuah Perempatan di Jalan Kalimalang, dan Pelarian Sarinah. Penerbitan buku ini atas kerjasama FSB dengan Penerbit Taresi Publisher, Bekasi. Lukisan di sampul buku ini adalah karya pelukis Sigit Susanto, berjudul Perjuangan Hidup (cat minyak di atas kanvas). Di dalam buku ini termuat 61 puisi dari 16 penyair, yang masing-masing penyair bervariasi jumlah puisinya antara 1 sampai 8 puisi.

Buku ini diterbitkan atas masukan dari penyair Yudhistira ANM Massardi bahwa FSB bisa membuat antologi puisi tentang Bekasi sebagai bentuk kepedulian warga (penulis) yang berada di wilayah Bekasi. Akhirnya dalam waktu yang tidak terlalu lama buku tersebut dapat dicetak pada bulan Maret 2015. Keenambelas penyair yang puisinya ada di dalam buku ini adalah: Ali Satri Efendi, Arini Airiaririn, Bayu Ambuari, Budhi Setyawan, Dian Rusdiana, Diana Prima Resmana, En Kurliadi Nf, Fitrah Anugerah, Hasan Bisri BFC, Jack Efendi, Lucky Purwantini, Nila hapsari, Sofyan RH. Zaid, Ummi Rissa, Wans Sabang, dan Yudhistira ANM Massardi.

Berikut saya cantumkan 2 puisi saya yang berjudul: Di Depan Mal Metropolitan Bekasi dan Kepada Bekasi (3).

 

Di Depan Mal Metropolitan Bekasi

ini kota yang tenang, katamu
lihatlah arus Kalimalang
yang tak pernah berontak
meski tiap hari dikirimi harum sampah
dari mesin kedustaan

risaumu tak akan menemu jawab di sini
maka pergilah kau ke gunung di sana
menyepi sendiri
menyusup ke dalam dongeng atau legenda
yang sekarang tersisa repih gema

di depan Mal Metropolitan
sebuah malam berjalan lambat menunduk
disalip langkah kaki para pekerja pabrik dan toko
dengan residu ketergesaan yang dibalut penat

kupandangi dirimu
kupandangi lampu lampu
sama sama memancarkan redup ragu
atau aku pun sepertimu
yang tak pernah menemu kata pasti
bahkan pada detik pertama bangun pagi

kuselami detakku sendiri
sembari kubayangkan dasar Kalimalang
mungkin dapat kutemukan endapan
hening tuah atau petuah
yang akan mengirimiku butiran sadrah

remang selalu terasa lebih panjang
menggumuli penantian yang terentang
langit senyap tanpa bulan
menghunjamkan silam keharuan
dan di bawah nadi seperti ada yang menggigil mengaduh
meminta untuk dijenguk dan bercakap
agar tak merasa tersendiri di antara kecut etalase kota
yang tak ulurkan sapa pada seringai mimpi jelata

namun belum juga tersampaikan niatan
sudah ada sehimpunan riuh yang mendatangi
bersama segelas kopi
yang mengajak angan berlari
menembus kabut kelam
terlupa pada segala rindu yang lebam

Bekasi, 2015

 

Kepada Bekasi (3)

di ruang detakmu aku memintal ketergesaan
mengikuti tarian yang diembuskan musim
dengan segala kelok dan liku aroma
serta lagu lagu yang makin kencang iramanya

kerap ku ditembusi terik
yang mengalir dari tatapan cuaca
atau kadang hujan asam singgah ke mimpi
menggigilkan sukma dengan igauan rantau

aku hendak menemuimu
namun lariku tak juga sampai
hingga memberat dalam napasku
diterpa keterjauhan jangkau padamu

ada yang hendak kusampaikan padamu
tanya yang telah berpinak di tumpukan gelisah
tetapi mungkin saja nanti
saat kau tak lagi bersibuk diri

Bekasi, 2013

Tentang budhisetyawan

Seorang yang suka musik dan sastra.
Pos ini dipublikasikan di Puisi Karya Sendiri 2. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s