Puisi Budhi Setyawan di Antologi Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia Jilid III

GE DIGITAL CAMERAAda 2 puisi saya yang termuat di buku Antologi Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia Jilid III. Buku tersebut diterbitkan oleh Himpunan Masyarakat Gemar Membaca Indonesia pada April tahun 2015 (buku sebelumnya Antologi Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia Jilid I dan II), kali ini bekerjasama dengan Penerbit Sibuku, Yogyakarta. Penggagas antologi ini adalah Rg Bagus Warsono, yang pada antologi jilid III ini memberikan tema Perempuan Desa. Jadi sampai dengan bulanMei 2015 ini sudah terbit 3 jilid buku Antologi Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia. Tebal buku ini 152 halaman. Buku ini diberi pengantar oleh penyair Sosiawan Leak. Juga komentar dari beberapa penyair: Wardjito Soeharso, Dyah Setyowati, Ali Syamsudin Arsi, Hasan Bisri BFC, saya, Sofyan RH. Zaid, Thomas Haryanto Soekiran, dan Nurochman Sudibyo YS.

Ada 75 penyair yang karyanya tergabung di buku ini (sekadar menyebut beberapa nama) antara lain: Ali Syamsudin Arsy, En Kurliadi Nf, Hasan Bisri BFC, Sofyan RH Zaid, Soekoso DM, Gampang Prawoto.

Dua puisi saya berjudul Seorang Nenek Mengunyah Sirih di Tubir Senja dan Perempuan yang Mengirim Bekal Makan Siang Suaminya di Sawah.

Yang saya cantumkan di sini puisi yang berjudul Perempuan yang Mengirim Bekal Makan Siang Suaminya di Sawah.

 

 

Perempuan yang Mengirim Bekal Makan Siang Suaminya di Sawah

 

1/

pada kuncup pagi

perempuan itu melepas suaminya

bergegas menuju sawah

untuk mencangkul musim, menanam harapan

dan merawat semangat agar tetap tumbuh

sementara ia kembali ke dapur

menyiapkan bahan dan bumbu untuk sayur

mengolah yang segar menjadi megar

aroma masak yang mengundang desak

karena hawa dingin mesti dihangatkan

dengan pacuan gerak dan kepak

 

2/

ketika matahari lurus sorotnya di ubun

ia melangkahkan hati dan kakinya

menemui suami yang menunggu

di dangau sederhana yang dekapkan pukau

di antara sawah yang hamparkan sejuk pandang

seperti menyusupkan kelegaan ke pori tubuh

meluluskan syukur ke langit teduh

 

lalu dibukanya bekal dari bakul

yang tadi berada di gendongan

ada nasi putih, sayur kuah nangka muda

tempe goreng dan ikan asin

tak lupa sambal terasi

serta rindu yang tak pernah habis

meski kenyataan tajam mengiris

 

ia merasa cukup bahagia

melihat suaminya makan dengan lahapnya

diselingi bercakap hal keseharian

seperti basah mandi di pancuran

ia pun menduga duga

apakah ini sebagian rasa surga

 

3/

pada sore yang sepi dan sepoi

ia akan menanti lelakinya

dengan sepenuh degupan

lalu berharap malam hadir lancar

dengan doa cinta berkeriap di kamar

karena dalam temaram ia pun akan menjadi

sawah atau ladang yang gembur

yang akan dicangkul oleh suami

sebagai lelaki petani sejati

 

2015

Tentang budhisetyawan

Seorang yang suka musik dan sastra.
Pos ini dipublikasikan di Puisi Karya Sendiri 1. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s