Puisi Budhi Setyawan di Pikiran Rakyat 5 Juli 2015

Pertemuan Kecil Pikiran Rakyat 5 Juli 2015Ada 3 puisi saya yang termuat di rubrik Pertemuan Kecil halaman 23 koran Pikiran Rakyat (terbit di Bandung) edisi hari Minggu (Kliwon), 5 Juli 2015. Ketiga puisi tersebut berjudul Rebana dan Serunai, Roti Beraroma Kopi, dan Janabijana.

Untuk pengiriman karya ke koran Pikiran Rakyat, kirim file karya dan biodata singkat ke alamat email: khazanah@pikiran-rakyat.com dan lampirkan hasil scan identitas lengkap dan nomor telepon yang mudah dihubungi.

Satu puisi yang saya cantumkan di sini berjudul Janabijana.

Janabijana

kau tak pernah mengukur
telah berapa kilometer perjalananmu
di jalinan tahun yang bersambung
yang mirip temali arena bersabung

lalu kau pun kerap bertanya pada orang orang
yang kautemui di beberapa kisah
ke mana arah menemukan kata
yang kerap terngiang dan bersambung
pada pangkal sepimu

entah lupa atau letihmu
hingga kau seperti tak ingat lagi siapa dirimu
asal muasalmu
mungkin karena di atas kepalamu bertengger kota
di pundakmu pabrik dan kantor
terus menekanmu tak jemu jemu

telepon genggammu menjadi tujuan wisatamu
yang penuh riuh dengan pacuan dan mesin permainan
namun tak ada sungai, danau, dan air terjun
juga sawah dan gunung gunung
yang kerap mengajak renung

adalah musim kering yang terus berembus
membagikan terik ke dalam pori porimu
hingga hausmu memanggil
menemu pada minuman ringan manis dan bersoda

senja makin sering mengunjungimu
hingga malam hadir dengan ritus kegaiban
dan kau pun dalam cemas berdoa
semoga belum menjadi malam terakhir
agar masih dapat kautemui
sumur di kampung tanah kelahiran
juga dekapan ibu yang mengalirkan segar
bagi setiap asing perantauan
dan hunjam kesendirian

Bekasi, 2014

Tentang budhisetyawan

Seorang yang suka musik dan sastra.
Pos ini dipublikasikan di Puisi Karya Sendiri 1. Tandai permalink.

2 Balasan ke Puisi Budhi Setyawan di Pikiran Rakyat 5 Juli 2015

  1. Salam kenal mas Buset.
    Saya seorang Santri, dipondok saya,banyak sekali media media untuk memuat karya” sastra.
    Saya suka menulis puisi, saya mau memuatnya di media yg jauh lebih atas seperti horison, tapi saya merasa karya saya masih kurang actual. Tapi saya bersikeras. Saya masih bingung mas Buset., saya suka simbangsiung dengan karya saya. Saya amati puisi” penyair seperti taufiq ismail, sapardi djoko damono, bagaimana bisa dia menciptakan karya puisi yang sederhananya?
    Seperti “seorang tukang rambutan kepada istrinya” karya taufiq ismail. Menurut saya karya dia yg satu ini, jauh sekali dalam keindahan kata” dan majas.
    Jadi apakah yg dinamakan puisi seperti itu?
    Saya jadi canggung ketika melihat hasil karya saya sederhana.apakah Mungkin karna saya belum mencapai pamor publik? apakah penyair yg sudah mashyur boleh menciptakan sastra yg berbeda?

  2. Mas buset. Anda punya sesuatu yg bisa dihubungi secara actual?
    Saya ingin belajar banyak dari anda

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s