Puisi Budhi Setyawan di Media Indonesia 13 September 2015

Puisi Media Indonesia 13 September 2015Ada 4 puisi saya yang termuat di rubrik Puisi halaman Khazanah (9) koran Media Indonesia edisi hari Minggu, 13 September 2015. Keempat puisi tersebut berjudul Narwastu, Dari Sir Sampai Tajali, Gumam Laut dan Kumandang Deru Laut.

Untuk pengiriman karya ke koran Media Indonesia, kirim file karya dan biodata singkat ke alamat email: puisi@mediaindonesia.com dengan melampirkan hasil scan identitas lengkap, foto serta nomor telepon yang mudah dihubungi.

Dua puisi yang saya cantumkan di sini berjudul Narwastu dan Gumam Laut.

Narwastu

apakah itu rambutmu yang berkibar
disisir angin timur
hingga aku teringat sulur sulur melambai
di rumpun belukar
yang dikerumun sekelumit andai
di lembah pencarian tersamar
bayang diri menjura
dalam tualang risau usia

aku hirup aroma yang memanggil tarian
lingkar gerak menghisap keberadaanku
yang linglung di ujung panggung
seperti berharap ada perjamuan
di keluasan alam terbuka
di padang padang rumput menyala
sembari menambatkan langkah senja
mendekat dan menghamburkan dekap

adalah kejumudanku dalam meraba
pusaran elegi pada putaran jam
yang bergumam lirih menahan perih
waktu tersangkut jejarum tafsir
dari sepetir penglihatan yang ledak
terikut kata kata mendesak

belum tertapakkan juga irama
karena cuaca meliburkan keberanianku
untuk menerjemahkan isyarat
yang dikirimkan tangan gaib
hingga aku pun termangu kelu
dan tak tahu mesti bertanya kepada siapa
sampai kurasakan ada helai sepoi
apakah itu benar kibaran rambutmu
yang kini mulai melingkari leherku

Jakarta, 2015

Gumam Laut

hempasan ombak menyerbu ke dada karang
tempiasnya menjelma jemari gerimis
menjamah tubuhku, hingga aku terpelanting
ke dalam bayang luka dan remang
ingatan menyerpih diri, dalam rinai kepingan usia
menyasar kiblat, mencari alamat tuhan

deru angin bertandang bertubi seperti menyeru
kepada napasku, hendak ke mana arah
kemurnian pijar di dalam darah
ketika menyebut sebuah nama dengan perlahan
dilimbur detak, berganti suar kasar dan lembut
berguncang dalam hambur helaan tangan nafsu

sendirian, aku berjalan pada penempuhan
dari tepian ke tepian, mengimani debur pusaran
menakzimkan tanya yang tua pada kegaiban desir
dengan waktu yang terus dikuliti musim musim sumir
sementara doa serupa seorang musafir lusuh
yang datang samar samar dari tempat terjauh

Jakarta, 2015

Tentang budhisetyawan

Seorang yang suka musik dan sastra.
Pos ini dipublikasikan di Puisi Karya Sendiri 1. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s