Puisi dan Esai Budhi Setyawan di Buku RUMAH PERADABAN

Buset n Buku Rumah PeradabanAda 5 puisi dan 1 esai saya yang termuat di buku RUMAH PERADABAN: Bunga Rampai Puisi, Cerpen dan Esai Silaturrahim Sastrawan Indonesia 2014. Buku ini diterbitkan oleh Penerbit Padasan, Bekasi, tahun 2015. Buku ini memuat puisi, cerpen dan esai karya peserta acara Silaturrahim Sastrawan Indonesia 2014 yang diselenggarakan di Rumah Puisi Taufiq Ismail di Sumatera Barat pada tanggal 19 – 21 Desember 2014. Acara tersebut dapat terselenggara atas kerjasama Rumah Puisi Taufiq Ismail, Majalah Sastra HORISON, dan bank BNI.

Buku ini memuat puisi, cerpen dan/ atau esai dari banyak sastrawan yang karyanya sudah diakui internasional terbukti dengan bayak penghargaan yang diterima mereka, dan juga karya beberapa oang yang belum lama berkecimpung dan masih terus berproses di ranah sastra. Mereka yang karyanya dalam buku ini adalah: Abdul Hadi WM, Ari Kpin, Budhi Setyawan, Chairil Gibran Ramadhan, Danarto, D. Kemalawati, Didik Siswantono, Eka Budianta, Fadli Zon, Ikranagara, Jamal D. Rahman, Joko Pinurbo, Joni Ariadinata, Linda Djalil, Mahwi Airtawar, Maksum Toha, Rihad Wiranto, Sastri Sunarti Sweeney, Suminto A. Sayuti, Tarmizi Rumahitam, Taufik Abdullah, Taufiq Ismail, dan Zulfaisal Putera. (saya baru ingat setelah buku ini jadi, ternyata ada satu peserta yang tidak ada karyanya di buku ini yaitu Ritawati Jassin, pegiat PDS HB Jassin TIM. Sayang mengapa bisa terlewat)

Kelima puisi saya dalam buku ini berjudul: Jalan Menanjak ke Rumah Puisi, Memasuki Rumah Puisi, Riak Singkarak, Bersamamu di Kelok Sembilan, dan Stasiun Purworejo. Satu esai saya berjudul Oleh-oleh Silaturrahim Sastrawan Indonesia 2014.

Dua puisi saya cantumkan di sini yang berjudul Jalan Menanjak ke Rumah Puisi dan Memasuki Rumah Puisi.
Jalan Menanjak ke Rumah Puisi

ada jalan menanjak di depan rumahmu
aku seperti meniti rima dan irama lagu
tak pernah mudah menapak keindahan
seperti menjejakkan puisi di langit kesunyian

kusiapkan kuda kuda kaki kata
dengan mengumpulkan segala otot metafora
biar kuat menempuh perbukitan terhampar
dan sampai pada rumahmu yang memijar

entah mesti berapa sajak menjadi langkah
dalam arus pencarian yang merekah
semoga tak ada kram dan kaku sendi frasa
meski menempuh sepi dan dingin senja

Rumah Puisi Taufiq Ismail, 2014
Memasuki Rumah Puisi

angin sepoi siang meniup lembut
seperti jemari kekasih menyalami
sungguh tak ada terik sengkarut
ketenangan mengalir pelan di urat hari

membaca sabda kata dari para penyair dunia
pada dindingmu yang merawat teduh personifikasi
aku seperti dikembalikan ke sebentang masa
yang merawat gerak zaman dengan napas murni

kebijaksanaan yang memancar dari hatimu
tak usai usai mengirimkan renik getar
dan tubuhku pun tersiangi oleh rintik rindu
menumbuhkan bunga puisi di sepanjang jalan debar

Rumah Puisi Taufiq Ismail, 2014

Tentang budhisetyawan

Seorang yang suka musik dan sastra.
Pos ini dipublikasikan di Puisi Karya Sendiri 1. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s