Puisi Budhi Setyawan di Antologi Puisi KALIMANTAN: Rinduku yang Abadi

Cover Antologi Puisi KalimantanAda dua puisi saya yang termuat di Antologi Puisi KALIMANTAN: Rinduku yang Abadi. Antologi tersebut diterbitkan pada November 2015 oleh Disbudparpora Kota Banjarbaru bekerjasama dengan Dewan Kesenian Kota Banjarbaru.

Ada beberapa penyair yang saya kenal dan puisinya dimuat di antologi ini antara lain Ali Syamsudin Arsi, Ardi Susanti, Aulia Nur Inayah, Ayu Cipta, Bambang Widiatmoko, Bagus Setyoko Purwo, Dian Rusdiana, Endang Supriadi, Fitrah Anugerah, Hasan Bisri BFC, Hudan Nur, Nila Hapsari, Rezqie Muhammad Al Fajar Atmanegara, Sofyan RH. Zaid, Sosiawan Leak, Sulaiman Juned, Susilaning Setyawati, Syarifuddin Arifin.

Kedua puisi saya di buku antologi itu berjudul Kalimantan Terluka Dalam dan Puisi yang Bekerja.

Puisi yang saya cantumkan di sini berjudul Kalimantan Terluka Dalam.

Kalimantan Terluka Dalam

dari tubuhmu Kalimantan, orang orang menggali masa
depan, makin dalam dan menghunjam. terus mengeduk,
seperti mencipta peta bagi perjalanan nasib yang hendak
diturutkan. adalah bisik kemakmuran yang menjadi ayat
bagi pemburu bunga gelora, hingga terus dilafalkan oleh
para pengaji yang datang dengan perlahan. mereka seperti
anak muda yang dimabuk cinta, terus bergerak, menari dan
berderap, maju menuju dekapan pelampiasan rindu yang tak
dapat lagi tertahankan. yang makin manis dan asin, makin
menghauskan, dan kian mengajak terus bersama dalam
kemabukan.

setiap hari, entah berapa tongkang membawa sebagian
dirimu menghilir, hadir dilingkup kabut sumir, mengapung
di sungai menuju laut, sembari menebar karut. bergunung
gunung muatan menuju wilayah seberang lautan, menjadi
penghangat bagi gedung gedung yang kerap dikurung
musim dingin di sana. bara dari batu berwarna legam itu
mengirimkan janji kepada grafik pertumbuhan ekonomi,
seperti menyusun siasat untuk meracik pesona kemilau
negeri. ah, apa yang terjual, selain terpedaya pada cium
propaganda mulut serigala.

o, Kalimantan, ratapmu lantang, isakmu panjang, tetapi
siapa yang benar benar bisa mendengar. air matamu
mengalir menjadi sungai merah, menulis noktah dalam
sejarah. mereka sosok di lingkar tunjuk kuasa tak lagi
punya telinga. hanya jelata putih pun ringkih yang terus
merintih, menyaksikan depa demi depa paru paru persada
yang poranda, lantak oleh jemari berkuku gulita. adalah
mimpi buruk yang mengumandangkan ironi ke seluruh
penjuru negeri. mengapa bara tubuhmu menjadi nyala di
negeri negeri jauh, ranah tak dikenal dalam nyanyian nusa.
di sini, yang ada cuma kamar redup, pengap, dan
geronggang bagi sembunyi napas dari kecemasan. tak ada
cahaya, tak ada tawa, hanya ada luka, luka yang makin
dalam dan menganga.

Bekasi, 2015

Tentang budhisetyawan

Seorang yang suka musik dan sastra.
Pos ini dipublikasikan di Puisi Karya Sendiri 1. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s