Puisi Budhi Setyawan di Minggu Pagi (Mg. I Desember 2015)

Cover Minggu Pagi I Des 2015Ada empat puisi saya yang termuat di rubrik Cakrawala koran Minggu Pagi (Kedaulatan Rakyat Grup, Yogyakarta) No. 36 Th 68 Minggu I Desember 2015. Keempat puisi tersebut berjudul Turangga Matahari, Lingsir, Gerimis Kepagian, dan Penunggu Musim.

Puisi berjudul Turangga Matahari merupakan sebuah puisi dari beberapa yang saya tulis sebagai puisi persembahan kepada maha guru jauh saya mpu Umbu Landu Paranggi, seorang Presiden Penyair Malioboro Yogyakarta, yang juga pelopor dan pendiri komunitas Persada Studi Klub (PSK) di Yogyakarta sekitar akhir tahun 60-an sampai dengan pertengahan 70-an, sebelum hijrah ke Bali. Mpu Umbu beberapa kali menelepon saya, memberi semangat agar dalam menulis puisi dengan serius sampai “berdarah-darah”, dengan mengibaratkan juga berani “gila dalam kewarasan, waras dalam kegilaan”. Dan juga memberi saran agar menulis puisi yang mengambil sari budaya ibu, dalam hal ini budaya saya Jawa, yaitu puisi wayang, yang belum bisa secara maksimal saya tulis sampai saat puisi saya dimuat koran MP ini. (beberapa puisi saya juga pernah dimuat koran Bali Post di mana mpu Umbu LP sebagai redaktur puisi di koran tersebut)

Selain itu ada satu puisi yang saya persembahkan kepada istri saya Dian Rusdiana, yang juga suka menulis puisi, yang beberapa puisinya pernah dimuat majalah sastra Horison juga. Puisi untuk istri saya berjudul Penunggu Musim.

Alamat email kiriman puisi, cerpen dan esai di Minggu Pagi ke: we_rock_we_rock@yahoo.co.id

Satu puisi yang saya cantumkan di sini berjudul Turangga Matahari.
Turangga Matahari
: umbu landu paranggi

yang menderap dari pedalaman Sumba
menebah tanah, menjejakkan tuah
kata kata menjadi kobar cahaya
yang terus berlari
membawa amuk resah-sepi

selalu saja ada ceruk ruang dan hari
yang kautemukan dan kautangkap
getar risaunya
hingga mesti kaudatangi
setiap sudut degup
seperti panggilan lirih kekasih
dengan debar rindunya
yang menjelma pendar ke kaki cakrawala

suraimu mengibas, menolak letih
yang lalu malu untuk mendaki lagi di tubuhmu
dan kekarmu terus melompat
ringan terayun di udara
melukis gegap pertarungan
merintikkan kisah kisah yang lebih agung
dari wiracarita

pada tiap sajak
kudengar nyaring ringkikmu
menerobos sekat kalimat
hingga kata kata menjadi duta bahasa
cinta yang setia bertahan
pada setapak jalan kesunyian

masih kudengar langkahmu kukuh
meski musim telah semakin tua
dan pada kakimu yang melepuh itu
siapa yang sanggup membaca
roman luka di dalamnya

Jakarta, 2014

Tentang budhisetyawan

Seorang yang suka musik dan sastra.
Pos ini dipublikasikan di Puisi Karya Sendiri 1. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s