Puisi Budhi Setyawan di INDOPOS 13 Februari 2016

Cover Indopos 13feb2016Ada 4 puisi saya yang termuat di rubrik HariPuisi halaman 16 koran INDOPOS (Jakarta) edisi hari Sabtu, 13 Februari 2016. Keempat puisi tersebut berjudul Sajak yang Sendiri, Syahid Rindu, Senja di Nusa Dua, dan Penabuh Gong.

Ini pemuatan yang kesekian kalinya puisi-puisi saya di Indopos. Hal ini menjadi penyemangat bagi saya agar menulis makin bagus lagi. Juga menurut saya bisa menyemangati warga komunitas Forum Sastra Bekasi (FSB) agar gencar kirim karya ke media massa. Saya yakin bisa karena sebagian warga FSB masih muda sehingga masih punya potensi yang sangat luas untuk berkembang menjadi penyair dengan karya makin berbobot.

Pengumuman di bagian bawah rubrik Hari Puisi koran Indopos, tertulis: Redaksi HariPuisi menerima puisi karya Anda. Kirimkan puisi karya orisinil Anda ke email: calzoumbachrisutardji@gmail.com. Sertakan identitas lengkap dan nomor telepon yang mudah dihubungi.

Puisi yang saya cantumkan di sini berjudul Sajak yang Sendiri dan Syahid Rindu.
Sajak yang Sendiri

aku melihatmu berjalan sendiri
menyibak rumpun rumpun sepi
seperti hendak menakar putaran waktu
hingga terbit suaramu:
– adakah yang bisa kutemui di sini,
selain senyap dan dingin hari

lengang tak ada jawab yang singgah
bahkan kian terhampar remang
dan tak ada nyanyi
lalu aku terbayang tanya:
– lalu mengapa masih juga kautempuh,
jalan yang tak mengirimkan acuh

sepertinya angin pun tengah meliburkan gerak
tak ada pesan dari sebalik jarak
tubuhku pun kian terasa sesak
oleh ribuan kekosongan yang terus berpinak

sungguh, kau tak beda denganku
sama sama dilumur debu sunyi

napas kita bergerak lambat
seperti hendak menandai banyak alamat
cuma menuai cuaca abai
bahkan saat malam mulai memuai

barangkali kita hanyalah sisa mimpi
dari zaman yang gegas berlari

Bekasi, 2015

 

Syahid Rindu

aku bukan laron yang takjub
pada kerlip tajam membelah gelap
juga bukan tak tahu panas yang meluah dari api
tapi tak kuasa lagi bertahan
oleh sebuah panggilan yang datang menyerbu
meluluhkan bongkahan ragu

aku tak sanggup menulis sajak tentangmu
karena semestamu telah meliput ke rasaku
tetapi sang waktu tak letih menulis tentang cintamu
ke dalam seluruh ruang dan ceruk usiaku

kuhikmati kegembiraan seperti tanpa sebab
setiap hari aku terbang tanpa sayap
memasuki lapisan langit senyap
juga berjalan merasuk ke jantung belantara
menyelusup ke sanubari samudra
semua melafalkan namamu
tanpa jeda
tak pernah alpa

kubaiatkan napasku padamu
dan tak kuhiraukan lagi tentang makna sampai
karena hijab hijab antara aku denganmu
terus berlepasan setiap kusebut
kebesaranmu dalam hitungan ganjil
hingga terus kutakzimkan detak nadi
mengalirkan haru ke muara sunyi

Bekasi, 2015

Tentang budhisetyawan

Seorang yang suka musik dan sastra.
Pos ini dipublikasikan di Puisi Karya Sendiri 1. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s