Sajak Budhi Setyawan di INDOPOS 4 Juni 2016

Cover Indopos 4 Juni 2016Ada 7 sajak saya yang termuat di rubrik HariPuisi halaman 15 koran INDOPOS (Jakarta) edisi hari Sabtu, 4 Juni 2016. Halaman HariPuisi INDOPOS edisi 4 Juni 2016 ini terasa sangat membahagiakan karena sehalaman penuh terisi dengan 7 sajak saya. Satu artikel esai pendek adalah rutin diisi oleh Marhalim Zaini. Ketujuh sajak saya tersebut berjudul Tasbih Laut, Semadi Laut, Luka Sepi Laut, Bawakan Aku Laut, Sesabar Ombak Setabah Karang, Lirik Laut, dan Lanskap Senja di Sebuah Pantai.

Setiap pemuatan karya di media memberikan semangat kepada saya, sekaligus nasihat bahwa saya belum berkarya yang terbaik. Hal ini memberi peringatan kepada saya agar terus berkarya, dan juga harus makin banyak membaca.

Pengumuman di bagian bawah rubrik Hari Puisi koran Indopos, tertulis:  Redaksi HariPuisi menerima puisi karya Anda. Kirimkan puisi karya orisinil Anda ke email: calzoumbachrisutardji@gmail.com. Sertakan identitas lengkap dan nomor telepon yang mudah dihubungi.

Sajak yang saya cantumkan di sini berjudul Semadi Laut, Bawakan Aku Laut dan Sesabar Ombak Setabah Karang.

 

 

Semadi Laut          

 

akulah yang paling hilir

dari semua yang mengalir

 

aku berdiam di kedalaman

agar dapat kuhikmati ayat ayat kehidupan

segala karang, ikan dan binatang laut

serta tetumbuhan yang teramat banyak bila disebut

yang berumah dengan penerimaan syukur tersemai

menjadi tarian dan latar yang menggubah damai

 

ombak adalah sekumpulan bait sajak

gelombang menjadi langkah panjang menyibak

dengan angin yang meniup lembut

atau kadang ada lumuran derai kabut

dan sepoi menyentuhkan runtunan nada

di relung relung pertapaan kata

 

saat meruap pancaran terik

kukirimkan nujum bulir bulir renik

jernih bermuatan rindu

untuk menemui wajah langit yang terharu

lalu dengan keikhlasan menubuh merupa awan

dan bersaf saf mencurah sujud dalam jemaah hujan

 

kusapa puncak gunung gunung

juga lembar lembah lembah yang murung

pepohonan yang telah lama garing

serta nganga tubuh sungai yang mengering

tak lupa petani yang tekun menabung doa

dan gelak anak anak merangkai gembira

 

melimpah kehadiranku pada hampar dingin

terbasuh semua golak geliat ingin

terkecuali mereka yang abai tak hirau

merasa terendam dalam dendam risau

hanya mencipta arus gerutu badan

menjadi musim panas dalam diri berkepanjangan

 

dan kepada para nelayan

selalu kusampaikan salam kesejahteraan

mereka menerjemahkan firman firman Tuhan

dalam gerak khusyuk sembahyang pencaharian

dalam ritus menafkahi orang orang kecintaan

yang menunggu dengan harap dan cemas di kejauhan

 

sementara pada mereka yang di tepian

kusampaikan sapaku sepenuh ketakziman

jemari riak kujamahkan pada kaki pejalan yang sedu

karena pencarian jawab dari kekasih bersimpang temu

kukatakan betapa luas pandang dari genangan

mengapa kerap terperangkap pada asin kenangan

 

akulah yang paling hilir

dari semua yang mengalir

 

Jakarta, 2015

 

 

Bawakan Aku Laut

 

bawakan aku laut

bawakan aku laut

o, kalbu pengembara,

karena tubuhku telah menjelma gurun pasir

tumpahkan kekarnya beserta seluruh penghuni

segala ikan, udang, teripang, ganggang, dan

semua plankton, dan ombak yang terayun,

kecuali lanun

 

angin sembunyi di bawah cakrawala

kediaman tergelar di segala ruang

pesan pesan seperti mampat

terpagut panas, menjelma ranggas

waktu mengalir dengan roman ganjil,

oleh api kecemasan yang ditahan

di daratan yang semakin legam

 

kota kota bergerak menyeruak kelam

dengan kereta kereta ditarik ribuan babi buta

dikendarai firaun firaun

yang menuhankan pasar

meluaskan lidah jemawanya

menghunus asa taringnya,

o, kalbu pengembara,

demi ketenteraman yang hendak disebut

dan semua yang aura murka tumpas terlarut,

maka:

bawakan aku laut

bawakan aku laut

 

Bekasi,  2014

 

 

Sesabar Ombak Setabah Karang

 

1/

pada ombak yang riuh terbantun

aku ingin belajar memaknai kesinambungan gerak

seperti perulangan rima dalam bait pantun

yang tak jemu menyampaikan penandaan jejak

 

dari tengah menuju tepian dan kembali arah lajunya

begitu khusyuk menjalani ritus sepanjang usia

kesetiaan rindu yang terus mengunjungi pantai

merawat cinta agar tak luruh berderai

 

2/

pada batu karang yang terhampar dan menjulang

aku hendak belajar menghayati ketabahan pendirian

yang teguh berkukuh tegak menantang

tak berkelit dari gempuran panas dan hujan

 

dari abad ke abad menjalani riwayat

dan tak pernah terbetik pada suatu muslihat

kesetiaan bertahan kepada yang telah menjadi pilihan

menapak pada tangga suratan dengan begitu ringan

 

3/

begitupun doa kami yang senantiasa mekar

lalu beterbangan seperti kepak kepak camar

menguatkan segala gerak dalam menyusun bahagia

mewujudkan yang tersimpan dalam angan dan kata

 

Jakarta, 2015

Tentang budhisetyawan

Seorang yang suka musik dan sastra.
Pos ini dipublikasikan di Puisi Karya Sendiri 1. Tandai permalink.

2 Balasan ke Sajak Budhi Setyawan di INDOPOS 4 Juni 2016

  1. karisma berkata:

    wow…

    • budhisetyawan berkata:

      terima kasih komentar wow-nya.😉 selamat juga ya. Karisma malah dimuat 9 puisi. lebih wow daripada saya. salam progresif.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s