Puisi Budhi Setyawan di Buku Antologi GELOMBANG PUISI MARITIM

Cover Gelombang Puisi MaritimDewan Kesenian Banten pada bulan April 2016 menerbitkan sebuah buku antologi berjudul GELOMBANG PUISI MARITIM. Buku tersebut diterbitkan bekerjasama dengan penerbit SN Book. Buku ini berisi 100 puisi dari 100 penyair yang disaring dari 720 puisi dari 720 penyair yang karuanya masuk ke panitia lomba puisi maritim ini.  Buku ini agak tebal yakni 224 halaman. Penyair yang puisinya termuat dalam buku ini masing-masing mendapat 2 eksemplar buku dan honorarium.

Buku ini diluncurkan Dewan Kesenian Banten pada tanggal 28 April 2016 di Museum Banten (eks pendapa Gubernuran lama). Ketua DKB Chavcay Syaifullah mengatakan, masyarakat Banten di masa lalu punya daya saing seperti ombak yang tak kenal lelah, dan punya prinsip yang tegar seperti karang, dan luasnya lautan nusantara juga menjadi alasan mengapa DKB merasa perlu untuk mengumpulkan puisi-puisi para penyair se-nusantara dan membukukannya. Sebagai upaya untuk merekonstruksi Banten yang dahulu hadir sebagai kerajaan maritim.

Untuk menambah makna dari puisi-puisi yang seluruhnya bicara soal kelautan tersebut, DKB menghadirkan kritikus sastra Maman S Mahayana, penyair dan pengamat politik Universitas Paramadina Herdi Sahrasad, dan Budayawan Dang Fathurrahman.

Ada 1 puisi saya termuat di dalam buku ini, yang berjudul: Tasbih Laut.

 

Tasbih Laut

 

: aku adalah lautmu, dan pulau pulau biji tasbihku

 

aku tetap di hadapanmu, merekam segala

yang berangkat dan pulang

pada malam dan siang, oleh gelap dan terang

tak ada perbedaan bagiku

tetap kugelombangkan sembahyang

kukekalkan gerak ke dalam ombak dari munajat sunyiku

sebagai rakaat yang membasahi musim musim

dengan warna warna tersendiri

kecipak datang dan pergi

 

kujamasi bentangan sepi dalam tidur karang karang

menjelma kesadaran ruang menguji tasamuh waktu

ikan ikan berbiak dalam terumbu rindu

lalu menyebar keluar, tanpa rasa takut

menyongsong takdir persembahan

kepada doa doa bumi yang menanti

di hampar landai daratan

di kejauhan lambai angan

 

: aku adalah lautmu, dan pulau pulau biji tasbihku

 

kerinduanku menggemuruh pada gunung yang merenung

tajam asamnya membaur dengan garam keyakinanku

mencipta pusaran kegaiban dalam ingatan

pada dapur yang mengepulkan asap asap

dan aroma keringat ibu

untuk menenteramkan lapar hari yang menyusup

ke bilik bilik nurani

yang acap diluberi gerlap mimpi kegersangan

dari ayat ayat tuhan di seberang pencarian

 

aku mencatat perkawinan tahun tahun

melahirkan kota kota yang terus tumbuh tanpa cinta

dan desa desa kehilangan nyali

menyuarakan bait bait sederhana

hingga wasiat langit hanya menggantung pada awan

tak pernah menjelma hujan

adalah kegerahan yang tertabur sebagai bunga

mengusapi nadi nadi resah mengikat bara

dan tertumpah serapah jelaga

 

: aku adalah lautmu, dan pulau pulau biji tasbihku

 

hutan hutan semakin meruyak

oleh arus kegairahan zaman yang membadai

tembang cuaca dinyanyikan jalanan dalam tempo cepat

pekan pekan melesat menjemput bulan

dalam irama sumbang menuai kesangsian

penempuhan yang memintas era

gegas pada kesuburan angka angka

 

kulihat mata mercusuar kian redup

kehilangan runcing pandang dan pancar

namun tetap berdiri dalam kebisuan

sekadar muncul sebagai kewajiban

di cadas cadas kesenyapan

ditemani burung burung penghibur senja

yang tak lagi menoreh iklim di lebar selat

yang membatas tafsir dan pemaknaan

di sini, aku tak ke mana mana, tapi suaraku di mana mana

menyerukan sajak sajak masa depan di tubuhku

yang lama belum banyak dibaca kalbu

 

: aku adalah lautmu, dan pulau pulau biji tasbihku

 

Bekasi, 2015

Tentang budhisetyawan

Seorang yang suka musik dan sastra.
Pos ini dipublikasikan di Puisi Karya Sendiri 1. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s