Puisi Budhi Setyawan di Nusantaranews.co

Cover Nusantaranews Puisi BusetAda 5 puisi saya yang termuat di rubrik Kreatifitas pada portal nusantaranews.co yang ditayangkan pada Minggu 7 Agustus 2016. Kelima puisi tersebut berjudul Jemari Pengukir Rindu, Gaung Sajak yang Kaubacakan, Distikon Menanti Hujan, Hujan yang Rindang, dan Elegi Stasiun Lama.

Dalam informasi redaksi portal berita nusantaranews.co tertulis:

Kontak

Jalan Senen Raya No 135
Senen Jakarta Pusat 10410
Blok B Lantai Dasar
Telp. (021) 21201455
Email : redaksi@nusantaranews.co

Link yang memuat puisi saya adalah http://nusantaranews.co/jemari-pengukir-rindu-dan-gaung-sajak-yang-kaubacakan-puisi-budhi-setyawan/

Dalam blog ini akan saya cantumkan 2 puisi yang berjudul Gaung Sajak yang Kaubacakan dan Distikon Menanti Hujan.

 

Gaung Sajak yang Kaubacakan
: dian rusdiana

kata kata dari bait sajak yang kaubacakan
dari pertemuan ke pertemuan
adalah kecup gerimis yang membasahi
retak kerontang penantian kota
yang terlanjur digumul letih
dan terengah dalam pelarian diri
diburu api mimpi

lalu angin pun meniupkan cerita
tentang hambar perjalanan
membentur tembok apartemen dan plaza
sedangkan pepohonan kian terusir
kehilangan tempat menjejak
pada tepi riwayat yang sesak

gaung sajak yang kaubacakan itu
menderapkan gelombang lautan
seperti hendak mengatakan
bahwa pelayaran masihlah panjang
menyeberangi selat kesepian
menuju pulau dengan taman lagu
di seberang

Jakarta, 2015

 

Distikon Menanti Hujan

kau aku tak pernah tahu kapan perkawinan cuaca
sampai ada yang melendung dan memberat dalam kata

bukankah rindu adalah memuat rasa kering dahaga
yang terus membayangkan pada rengkuhan lega

burung dan serangga nyanyikan deras pinta
kepada curah yang menyuburkan kepak cinta

perjalanan hingga ke ujung ranting yang meronta
dan daun daun pun rela melepaskan pegangannya

dada tanah membukakan pori pori tubuhnya
menyampaikan hawa murni ke haribaan udara

dan sungai tampak semakin tunduk berkaca kaca
pada ricik kecil alirannya telah bercampur air mata

sementara langit merasa panas di telinganya
disebut menahan yang hendak turun dari tubuhnya

hingga dibuka kancing kancing biru jubahnya
keluar gumpalan dari gugusan doa dan damba

lalu meluruh menjelma hujan bagai rama rama
dan segera memberikan ribuan pelukan yang nyala

Jakarta, 2015

Tentang budhisetyawan

Seorang yang suka musik dan sastra.
Pos ini dipublikasikan di Puisi Karya Sendiri 1. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s