Puisi Budhi Setyawan di Minggu Pagi (Mg. II Agustus 2016)

Cover Minggu Pagi VitaAda lima puisi saya yang termuat di rubrik Cakrawala halaman 07 koran Minggu Pagi (Kedaulatan Rakyat Grup, Yogyakarta) No. 19 Th. 69 Minggu II Agustus 2016. Koran Minggu Pagi yang punya semboyan “Enteng Berisi” ini terbit sejak 7 April 1947. Kelima puisi tersebut berjudul Masih Kuingat, Pulang ke Kota Kelahiran, Menuju Sebuah Alamat, Kutuk Pertemuan, dan Sajak Sebelas Tahun Pernikahan.

Alamat email kiriman puisi, cerpen dan esai di Minggu Pagi ke: we_rock_we_rock@yahoo.co.id

Dua puisi yang saya cantumkan di sini berjudul Pulang ke Kota Kelahiran dan Menuju Sebuah Alamat.

Budhi Setyawan

Pulang ke Kota Kelahiran

 

karena bentang yang memisah pandang, aku di

sini menabung risau dalam ruang belakang

rumah rantau. dalam remasan remang sayu, tak

tumpas juga percik bayangmu. engkau tetap

menyihirku dengan beraneka alamat dan pesan,

hingga waktu pun tak kuasa memajalkan ingatan.

hingga aku tergiring menekuni napas menyisir

hari dengan sansai, menyasar luas ilusi tak usai usai.

 

aku tak hendak bertemu denganmu, namun hanya

ingin bertemu dengan kenangan yang telah

bertahun tersimpan di tubuhku, lama bertahan

dalam lembam temaram. aku hanya perlu sedikit

pendar matahari dari sorot matamu, untuk

membuat senja yang hangat bagi sisa cerita kita

dahulu. biarlah udara mengapungkan lagi

sekelumit rahasia, dan detak kita menerjemahkan

isyarat cuaca yang kembali belia.                                                                                                                                                                                         Jakarta, 2016

 

Budhi Setyawan

Menuju Sebuah Alamat

 

sebuah nama alamat lahir dari rahim sepi.  memburu

seperti sekawanan lebah terbang, menaburkan bayang

dan menebarkan ngiang. gemanya memanggil rindu

untuk bangkit, dan menawarkan pencarian sendiri, ke

dalam pusaran gua tersembunyi.

 

ricik air di kali kecil, kersik daun daun didesak tangan

angin, menjadi bagian dari lanskap penempuhan.

remang memayung, matahari masih tersekap oleh

mendung. ruang menjadi serupa rimba yang menyimpan

rekat rahasia, dan mengarsir gamang tafsir di bukit dada.

 

adalah penyebutan nama berkali, seperti kerja sunyi

membuat jembatan untuk mendekatkan pada wajah

yang menjanjikan peluk dan ciuman. meluruhkan

mendung menjadi hujan, memadamkan tafsir keraguan.

lalu menjelma alamat yang menawarkan kemabukan,

secawan demi secawan.

 

Jakarta, 2016

 

Cover Minggu Pagi Puisi Mgu II Agustus 2016

Tentang budhisetyawan

Seorang yang suka musik dan sastra.
Pos ini dipublikasikan di Puisi Karya Sendiri 1. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Puisi Budhi Setyawan di Minggu Pagi (Mg. II Agustus 2016)

  1. Saya tertarik untuk mengikuti Blog puisi mas Budhi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s