Puisi Budhi Setyawan di Buku Antologi Pasie Karam

cover-antologi-pasie-karamAda 3 puisi saya yang termuat di buku antologi puisi Pasie Karam: Temu Penyair Nusantara pada Pekan Kebudayaan Aceh Barat 2016. Buku ini diterbitkan oleh Disbuparpora dan Dewan Kesenian Aceh Barat Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, disusun oleh Teuku Dadek dengan curator karya oleh 3 penyair yaitu D Kemalawati, Fikar W. Eda dan Mustafa Ismail. Ketiga puisi saya berjudul: Antologi Sepi, Sajak Kayu Bakar, dan Takzim Rindu.

Ada 163 penyair yang karyanya dimuat dalam buku ini, termasuk beberapa penyair negeri jiran Malaysia. Beberapa penyair yang karyanya ada dalam buku ini, sekadar menyebut sebagian nama antara lain Ahmadun Yosi Herfanda, Anwar Putra Bayu, D Kemalawati, Eddy Pranata PNP, Eka Budianta, Fatin Hamama, Fitrah Anugerah, Heni Hendrayani, Isbedy Stiawan ZS, Iyut Fitra, Jumari Hs, Mahwi Air Tawar, Maman S. Mahayana, Micky Hidayat, Mustafa Ismail, Saifa Abidillah, Sindu Putra, Sofyan RH. Zaid, Sosiawan Leak, Suminto A. Sayuti, Sunu Wasono, Taufiq Ismail.

Puisi saya yang saya cantumkan di sini berjudul Antologi Sepi dan Sajak Kayu Bakar

 

Budhi Setyawan

 

Antologi Sepi

 

apakah kau telah mengenal elegi musim yang khusyuk

mengaji sepi. ia kerap menjauhkan diri dari riuh, kejaran

mata yang membuih keruh. ada nyanyi yang mulai

mempercepat lajunya, meninggalkan tafsir yang tersendat

oleh tumbuhnya gema yang mekarkan tanya. barangkali

hamburan suara itu tak hinggap pada penantian yang telah

menjadi amanat usia dalam kegaiban.

 

kesendirian menjadi ladang bagi cahaya yang datang lewat

celah sempit di jeda napas. zikir mengalir di sungai nadi,

membawa bayang risau makin menua hari. engkau pun

akan mencoba lebih menajamkan indra, sedemikian

banyak ruang berlalu dan teramat fana. banyak wajah

yang kebingungan kehilangan cermin diri. bukankah ada

yang telah menanti dengan pasti, bersabar sambil menahan

waktu agar tak jadi pasi.

 

akumulasi renung membuahkan percik embun yang

melumasi ingatan, o, siapa yang memainkan rahasia rasa,

merasuk ke pucuk senyap. pertanyaan memantulkan

gaung, seperti tamparan yang menempelkan pesan:

apakah pemburu mesti membawa hasil buruan di hutan?

wirid putih melangkah sendiri membawa diri, bergantian

ke ruang silam dekapan jauh dan ke usapan dekat begitu

teduh.

 

Jakarta, 2016

 

 

Budhi Setyawan

 

Sajak Kayu Bakar

 

aku tahu aku akan menjadi arang

namun telah kutabukan terbitnya erang

 

dari kejauhan hutan atau dekat kebun

dari berbagai ranah teduh yang rimbun

aku berasal sebagai tegak pepohonan

diliputi lebat ikal daun daun harapan

 

sebagai bagian ranting dan dahan

aku menuju kering dengan perlahan

mencoba meniru mereka yang berpuasa

menahan segala amuk terik dan dahaga

 

pada kesepian semula yang temaram

menempuh setapak sunyi yang diam

lewat kegembiraan apa takdir kuturutkan

selain kepada api sebagai penyucian

 

kuikuti alur perjalanan yang sekejap

sejengkal demi sejengkal menyingkap hijab

mengusaikan waktu utas kembara

menanakkan doa doa dengan bara

 

dari tubuhku yang terbakar

aku hendak kirimkan kabar

mencintai yang dikandung usia

berakhir di kefanaan remah sisa

 

akhirnya nyala itu pun padam

segala ingatan akan tenggelam

terlepas semua yang bersama hayat

kembali tersimpul pada gulungan ayat

 

aku tahu aku akan menjadi arang

namun telah kutabukan terbitnya erang

 

Jakarta, 2015

Tentang budhisetyawan

Seorang yang suka musik dan sastra.
Pos ini dipublikasikan di Puisi Karya Sendiri 1. Tandai permalink.

4 Balasan ke Puisi Budhi Setyawan di Buku Antologi Pasie Karam

  1. sugiarto berkata:

    slmat siang pak budi,,, info di kantor saya rencana tgl 27 september mau mengadakan lomba cipta&baca puisi.tp msih belum dapat dewan jurinya..mhon pak budi kalau punya referensi untuk dewan juri…..trims.

    • budhisetyawan berkata:

      terima kasih mas Sugiarto. saya sudah balas lewat email. bisa dijelaskan tentang kantor mas Sugiarto di mana dan info rencana lomba tsb lebih rinci.

      salam progresif.

    • budhisetyawan berkata:

      terima kasih Niken.
      tetapi puisiku biasa saja sepertinya.
      puisi2mu jauh lebih keren.
      semoga makin semangat berkarya yaa…

      salam progresif.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s