Puisi Budhi Setyawan di Antologi Puisi Yang Tampil Beda Setelah Chairil

cover-antologi-puisi-indopos-yang-tampil-beda-setelah-chairil

Ada 4 puisi saya yang termuat di Buku Antologi Puisi Yang Tampil Beda Setelah Chairil. Buku antologi ini diterbitkan oleh Yayasan Haripuisi Indonesia pada bulan Oktober 2016. Buku ini memuat sebagian puisi para penyair yang puisi-puisinya termuat di rubrik HariPuisi di koran Indopos selama 12 bulan di tahun 2015.

Keempat puisi saya di buku ini berjudul Keyakinan Menunggu dan Gunung Waktu, yang merupakan dua dari beberapa puisi yang dimuat Haripuisi Indopos edisi 3 Mei 2015, serta Penuang Anggur dan Air Mata Bulan yang merupakan dua dari beberapa puisi yang dimuat HariPuisi Indopos edisi 10 Oktober 2015.

Pada buku setebal 301 halaman ini memuat puisi-puisi karya penyair yang karyanya kerap termuat di media massa, sekadar menyebut beberapa nama antara lain Kiki Sulistyo, Kamil Dayasawa, Husen Arifin, Raedu Basha, Esha Tegar Putra, Irma Agryanti, Ahmadun Yosi Herfanda, Faidi Rizal Alief, Lailatul Kiptiyah, Nurul Ilmi Elbana, Dian Rusdiana, Seruni Unie, Anwar Noeris, R. Abdul Aziz, Sartika Sari, Saifa Abidillah, Sulaiman Djaya, Anam Khoirul Anam, Rozi Kembara, Irna Novia Damayanti, Jamil Massa, Matroni Muserang, May Moon Nasution, Esha Tegar Putra, Wayan Jengki Sunarta, Lailatul Kiptiyah, Nunung Noer El Niel, Ramon Damora.

Untuk blog ini saya cantumkan 2 puisi yang berjudul Keyakinan Menunggu dan Penuang Anggur.

Budhi Setyawan

Keyakinan Menunggu

 

menunggumu

kuhikmati setiap jarum detik jam

menikam menusuk ke dalam jantungku

memasukkan racun rindu

 

jejarum terus memutar

menerbitkan kuntum mawar

di dalam sekujur detakku

hingga menjelma taman

yang menegah kesepian

 

dan aku telah lupa

apakah ini menunggu

karena telah kunikmati racun itu

menyebarkan elegi ke seluruh pembuluh

bertubi menyegarkan penantian

dan tentang pertemuan

telah kuhisap debarnya dalam setiap hirup napasku

telah kutemukan dirimu sebelum pertemuan

dan nanti tak beda dari sekadar

menjalani yang telah dinubuatkan

dari ayat ayat termaktub

dalam keyakinan yang terus nyala dan memberi hidup

 

Jakarta, 2014

 

 

Budhi Setyawan

Penuang Anggur

hampar kebun ke ufuk cakrawala # kaususuri dengan siraman doa

rindu menjalar terkait jadi rakit # khidmat debar membelah langit

terus bertumbuh tunas rasa # malam jadi ranting cahaya

dari khusyuk sembahyang dedaun # keluar buah surga berembun

kadang datang angin menderas # liat tubuh menolak lepas

mengisi ruang bersabar kata # masa panen penuh sabda cinta

tak hanya berdiam sepi # lebih dalam membaca isi

menahan debar dari kantuk # mengeja rasa hingga mabuk

kau tak letih menuang anggur # ibadah memperpanjang umur

pada dahaga batin para kafilah # yang menempuh sunyi ribuan kisah

terus mengalir sampai abad uzur # tak terbilang aroma berhambur

perlahan menjadi danau risalah # cuaca berkaca tak usai sudah

Bekasi, 2014

Tentang budhisetyawan

Seorang yang suka musik dan sastra.
Pos ini dipublikasikan di Puisi Karya Sendiri 1. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s