Puisi Budhi Setyawan di Buku Dari Gentar Menjadi Tegar

cover-dari-gentar-menjadi-tegar

Ada satu puisi saya yang termuat di Buku Dari Gentar Menjadi Tegar. Buku ini diterbitkan oleh Komunitas Bergerak Seni Indonesia Berkabung pada bulan Desember 2015.

Kegiatan Seni Indonesia Berkabung yang digagas oleh gabungan akademisi dari Universitas Sanata Dharma, Institut Seni Indonesia, Universitas Duta Wacana, Universitas Gadjah Mada, dan seniman Yogyakarta adalah serangkaian kegiatan seni beragam bidang dan seminar yang diselenggarakan untuk mengkritisi situasi sosial dan politik yang terjadi di Indonesia saat ini.

Program seni ini meliputi Pameran Seni Rupa, Festival Musik, Lomba Puisi, Lomba Teater Mahasiswa, Lomba dan Pameran Poster Perjuangan, serta seminar yang dilangsungkan di beberapa kampus di Yogyakarta, yaitu Universitas Sanata Dharma, Kampus Pascasarjana Institut Seni Indonesia Yogyakarta, Fakultas Arsitektur dan Disain Universitas Duta Wacana, dan Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjasoemantri Universitas Gadjah Mada.

Buku ini berisi foto kegiatan, hasil karya tulisan dan lukisan, serta berita kegiatan yang diselenggarakan dalam kegiatan Komunitas Bergerak Seni Indonesia Berkabung pada kurun waktu Juli – Desember 2015.

Puisi-puisi yang dimuat buku ini merupakan puisi yang terpilih dari kegiatan Lomba Cipta Puisi Di Bawah Payung Hitam tahun 2015.

Ada beberapa nama penyair yang karyanya sering dimuat media massa, puisinya ikut masuk ke dalam buku ini. Sekadar menyebut sedikit nama antara lain Agit Yogi Subandi, Arif Hidayat, Bambang Widiatmoko, Bresman Marpaung, Dadang Ari Murtono, Dwi Rahariyoso, F. Aziz Manna, Gunawan Tri Atmojo, Hudan Nur, Jamil Massa, Raedu Basha, Setia Naka Andrian, Wayan Jengki Sunarta, Yusran Arifin, Zen AR.

(puisi atau tulisan ini baru saya unggah di November 2016, karena buku ini saya terima dari kiriman lewat pos oleh panitia pada akhir Oktober 2016).

Di bawah ini 1 puisi saya yang berjudul Yogyakarta dan Udaranya yang Meracuniku dengan Rindu.

Budhi Setyawan

Yogyakarta dan Udaranya yang Meracuniku dengan Rindu

 

1/

masih ada sesosok senja di dalam tas punggungku. ia tak

banyak bicara dan lebih suka diam. ia mencari posisi di

dekat buku catatan harian yang selalu kubawa, meski tak

setiap hari aku menuliskan apa yang kurasa di situ. tetapi

tiba tiba ia dengan melonjak bilang: kita di Yogya. ya aku

tahu, bahkan beberapa hari sebelum di sini telah kusadap

getar silam haru itu.

 

2/

kota ini pernah menanamkan benih benih debar ke kebun

di dalam kepala dan dadaku. selain itu kota ini juga

menawanku untuk bertahun tahun aku berjalan di

tubuhnya, mengalir cerita bersama peluh dan keluh.

bahkan pada malam malam tertentu aku bermukim ke

dalam rahimnya, relung nyaman yang memberiku daya

betah bertahan lewat plasenta kesunyian, hingga aku

rasakan: aku dilahirkan kembali di kota ini. terbit berbagai

penandaan, tafsir, imaji dan mimpi baru yang berkecipak

dalam benakku, seperti minta dirayakan walau hanya kecil

kecilan. akan tetapi selalu kuredam, dan kukatakan: itu

tidak begitu perlu, dan orang banyak tidak mesti tahu.

biarlah menjadi senyap yang tinggal di kedalaman batu.

 

aku sengaja tak mengabarimu lewat pesan atau telepon

agar dapat memberi ledakan ledakan kecil buat harimu.

lalu kukirim pesan singkat padamu: aku di Yogya, di

kotamu. kubaca jawaban darimu berkali kali dan hendak

kuyakinkan bahwa tak ada yang salah dengan tulisan itu,

juga dengan indra penglihatanku. tertulis kalimat: aku tak

sedang di Yogya. aku lagi di sebuah kota, tapi mungkin tak

perlu kuberitahukan padamu. tanpa bisa kucegah lagi,

secepat badai gerutuku lahir dengan sebuah kata paling

intim: asu. ah, kau menang lagi. aku yang kembali terkejut,

dan susu jahe yang baru kupesan di warung angkringan itu

jadi terasa kecut.

 

malam selalu akrab mengalirkan kisah sebagai pengisi

beranda insomnia. dengan perlahan menderetkan dan

mendaratkan nama nama tempat: Stasiun Tugu, Malioboro,

Pasar Ngasem, Tamansari, Jalan Solo, toko kaset, toko

buku, warung lesehan, dan tempat lain yang engkau lebih

tahu daripada aku. tempat itu seperti memberi salam saat

kusebut, dan kerap khayalku memvonismu bahwa engkau

pun masih terpaut. ah aku jadi tertawa sendiri, karena aku

seperti merawat kegilaanku. atau justru kegilaanku itu yang

mengawetkan napas ingatanku hingga serpih serpih manis

dan pahit yang mengirimkan jejaknya ke risalah waktuku,

tak sungguh memberi rasa sakit. hampir sewindu aku

menjaga nama nama itu dalam lingkar detakku, seperti

bertarung dengan seribu hantu. memang ada bekas luka tak

berdarah, isyarat semua derap mencantumkan riwayat

pencarian yang tabah.

 

3/

Yogyakarta adalah rumah kedua yang dengan sabar

menaruh desirnya di sebuah bilik jantungku.

pekarangannya adalah tangan terbuka yang tekun

mengirimkan rengkuhan. dan sepertinya benar celoteh

senja dan malam yang sekarang kerap menemaniku

memetik kata: udaranya tak pernah jeda meracuniku

dengan rindu.

 

Yogyakarta, 2015

Tentang budhisetyawan

Seorang yang suka musik dan sastra.
Pos ini dipublikasikan di Puisi Karya Sendiri 1. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s