Puisi Budhi Setyawan di floressastra.com

img-20161120-wa0000Ada 10 puisi saya dimuat website floressastra.com tertulis dimuat-unggah pada tanggal 11 November 2016. Website floressastra.com memuat banyak karya tulisan dari pengelola maupun kontributornya yang berasal dari berbagai wilayah di Indonesia. Karya yang bisa dibaca antara lain ulasan, sajak, cerpen, inspirasi, referensi, publikasi.

Kesepuluh puisi saya berjudul Terkurung (2), Hampir Asu, Susu Jahe, Selintas Suasana, Pembaca di Ruang Remang, Apologia (1), Selongsong Rindu, Pekayon, Kupu Kupu dan Hujan, dan Jarak.

Berikut tautan website floressastra tersebut:

http://floressastra.com/2016/11/11/pembaca-di-ruang-remang-sepilihan-puisi-budhi-setyawan/

Untuk blog ini saya cantumkan 4 puisi dari 10 puisi yang dimuat floressastra.com.

 

Budhi Setyawan

Hampir Asu

 

aku melihat orang orang berkumpul di tanah lapang.

mereka laki perempuan yang sedang dilanda kebingungan,

seperti pejalan yang kehilangan peta wisata. lalu seorang

lelaki maju di depan barisan dan berteriak: mari lanjutkan

perjalanan dengan lidah keyakinan. dan mereka serempak

membuka baju dan celananya. baju dan celana itu lalu

dikenakan di kepalanya, membuat seperti topeng di

wajahnya. hanya bagian mata dan mulut yang terbuka,

sedangkan kelaminnya tak usah lagi diceritakan bagaimana

keadaannya.

 

lalu mereka berjalan dan menyanyikan lagu berlirik dahaga.

diiringi dengan goyangan dan hentakan, mereka seperti tak

punya letih terus bergerak. mereka memasuki kota, desa,

melewati halaman masjid, gereja, kuil, melalui sawah,

ladang, sungai, hingga ke pelosok bukit bukit. dari mulutnya

mengucur buih, desakan dari mimpi mimpi yang gurih.

mereka merayu kepada yang dilewati: orang, binatang,

pepohonan, air, batu dan segala yang termangu. dari

kejauhan tubuh mereka nampak makin mengecil, namun

nyanyiannya menjadi seperti lolongan berahi dan lidahnya

terjulur melambai seperti nyala api di kilang minyak yang

tinggi.

 

aku jadi ingat tampang dan lolongan anjing kepunyaan

tetangga yang tiap malam selalu menggonggong. lalu

anjing anjing lain berdatangan, berkerumun di

perempatan jalan. matanya nanar seperti hendak keluar,

lidahnya terjulur ria menjilati udara. melolong panjang

dan seperti sedang melakukan koor lagu kebangsaan.

telingaku pekak, namun hanya gerutuku yang ledak. jam

jam dipenuhi anjing, siang malam hari sarat anjing. waktu

menjadi ruam dan ruang hanya bergumam. orang orang itu

pun seperti menjalani ritual anjing. sindrom anjing menyerbu.

kata hampir sebuah asu.

 

Jakarta, 2014

 

Budhi Setyawan

Susu Jahe

 

datanglah pada kami, reguk hangat hari.

1/

aku jahe yang berasal dari kebun kecil petani. ia yang

menanamku dengan hati hati dan sepenuh hati,

usapan jemarinya menyayangiku seperti kepada

anaknya sendiri. aku dipupuk dengan doa dan disiram

dengan alir air mata. maka pedasku adalah letup

perasaan yang pijar, terbayang ironi dunia di dalam

kumparan waktu.

 

2/

sedangkan aku susu yang tercurah dari tubuh tubuh

tambun, mulus, dan paduan hitam dan putih. aku

yang mengucur dari perahan tangan lincah peternak,

yang rajin bangun di kemudaan pagi, sebelum

matahari beranjak dari lelap tidurnya. ia yang yang

selalu gembira, karena terbayang kekasihnya hingga

aromaku meruah harum, seperti rindu yang setia.

 

3/

aku butiran kecil yang manis. aku terbit dari perasan

batang batang tebu yang liat berdiri di ladang, yang

dalam keseharian didatangi kecup matahari dan

kesiur angin. hingga alam mengajariku tentang jerih

dan kepahitan. maka kulayankan hidup untuk

memberi rasa, memberi renik makna pada kehadiran,

yang demikian mendalam dan menghunjam ke lubuk

ingatan.

 

4/

lalu kami bertiga menyelam di danau air panas.

namun didihnya tak akan hanyutkan atau lenyapkan

kami. kami telah bersepakat untuk tirakat, betapa

sukma kami hendak mengatakan: dalam sepanas

apapun, biarlah kami tetap ada mengalirkan

kesegaran. menemanimu menyusuri lorong lorong

malam, yang kerap menyamarkan debu dan

kegelisahan usia.

 

reguklah cinta kami, sesap rahasia hati.

 

Bekasi, 2014

 

 

Budhi Setyawan

Selongsong Rindu

 

kulepaskan peluru debarku

padamu yang sembunyi

di balik sebuah nyanyian

dengan segala kelindan risau

menyerpih oleh kemarau

menimpa udara

hampa

lalu,

tinggal selongsong

yang kosong melompong

terjatuh, meluruh

rebah, pasrah

 

Jakarta, 2014

 

Budhi Setyawan

Kupu Kupu dan Hujan

 

1/

dari matamu terbit kepak

kupu kupu biru

menghambur ke segala penjuru

sambil membawa kisah dari sungai berbatu

yang penuh nektar sepi

dan serbuk imaji

yang tak pernah berubah menjadi kata

matamu adalah kepompong perjumpaan

yang teramat rapat bertapa di balik diam

terus kutunggui di bawah sengkarut cuaca

sampai waktu bermetamorfosis menjadi doa

 

2/

mataku sedemikian lama belajar

kepada huruf huruf musim

pun pada nujum pancaroba

yang mengirimkan gerimis bunga

hingga menjadi hujan

meruah menggenangi semua ruang usia

hujan yang kemudian kuyup dan menggigil

dalam curahnya sendiri

hujan yang begitu kelu

dan tak pernah sampai di matamu

Bekasi, 2015

Tentang budhisetyawan

Seorang yang suka musik dan sastra.
Pos ini dipublikasikan di Puisi Karya Sendiri 1. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s