Puisi Budhi Setyawan di Antologi Puisi Klungkung: Tanah Tua, Tanah Cinta

cover-antologi-puisi-klungkungAda 1 puisi saya yang dimuat di buku Antologi Puisi Klungkung: Tanah Tua, Tanah Cinta. Buku ini diterbitkan oleh Yayasan Museum Nyoman Gunarsa pada bulan Oktober 2016. Buku dengan ketebalan 136 halaman memuat 100 puisi yang lolos kurasi dari sekitar 450-an puisi kiriman 240 penyair. Panitia acara bertajuk “Klungkung Dalam Puisi” membolehkan penyair mengirim maksimal 3 puisi, dan kesepakatan 3 kurator yakni Gde Artawan, Dewa Putu Sahadewa dan Wayan Jengki Sunarta hanya menyertakan 1 puisi dari masing-masing penyair yang lolos kurasi, meskipun ada beberapa penyair yang puisinya lolos kurasi 2 puisi. Ada pertimbangan ketebalan halaman buku antologi.

Menulis puisi dengan tema yang telah ditentukan, istilahnya “puisi pesanan” tidaklah mudah dalam mengerjakannya. Apalagi jika tema adalah hal yang begitu jauh, dan bahkan tak mempunyai titik singgung atau sentuh dalam riwayat perjalanan kehidupan penyair. Dalam beberapa acara serupa, komentar dari komentator tidak begitu jauh berbeda. Biasanya kurasi pertama adalah kesesuaian puisi terhadap tema yang ditentukan panitia. Berikutnya aspek puitis dan keutuhan karya puisi itu sendiri. Bukan merupakan pertentangan, tetapi ada semacam kondisi yang memerlukan kesabaran sekaligus ketelitian untuk membentuk tulisan yang sesuai tema tetapi memiliki kadar puitis yang tinggi dan utuh. Kurator sering menyatakan bahwa puisi yang sangat sesuai tema kerap berupa semacam tempelan dari ikon terkait tema. Sedangkan yang sangat puitis kadang menjadi jauh dari tema, hanya singgungan sedikit yang tidak mewakili secara dominan dari tema yang ditentukan.

Dalam buku ini juga termuat karya penyair yang karyanya kerap menghiasi media massa dan antologi bersama, sekadar menyebut beberapa nama antara lain Alex R. Nainggolan, Ali Syamsudin Arsi, A’yat Khalili, Bambang Widiatmoko, Faidi Rizal, Isbedy Stiawan ZS, Iyut Fitra, Pranita Dewi, Sindu Putra, Soekoso DM, Warih Wisatsana.

Puisi saya yang ada dalam buku ini berjudul Kelelawar Goa Lawah.

 

Budhi Setyawan

Kelelawar Goa Lawah

 

kelelawar kelelawar itu

datang dari bawah tanah

terbang menyebar lewat banyak kisah

membawa wajah wajah dari masa lalu

ke ceruk ranah

cekungan lembah

penantian dengan berbagai iringan lagu

yang memuat irama kelu

nada pilu

berulang ulang menjadi ngiang

di palung haru

 

mereka terdiam di dinding batu

begitu tenang

seperti tengah sembahyang

khusyuk telungkup

di balik sayap terkatup

barangkali mensyukuri hidup

karena terang kerap mengirim silau

menggugah racau

dan bisa membutakan pandang

hingga lupa arah jalan pulang

 

merasuk remang mereka mengepak

mengukur luas gua

melintasi aroma asap bunga dupa

menguar

lalu keluar

berbekal lapar yang menyeruak

di beku malam

di lekuk kelam

mencari sisa tarian hari

yang barangkali masih berasa manis

untuk mengawetkan doa paling sunyi

dalam nadi

sampai putaran mimpi habis

 

2016

 

Tentang budhisetyawan

Seorang yang suka musik dan sastra.
Pos ini dipublikasikan di Puisi Karya Sendiri 1. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s