Puisi Budhi Setyawan di Buku Memo Anti Kekerasan Terhadap Anak

cover-antologi-maktaAda 2 puisi saya yang termuat di Antologi Puisi Memo Anti Kekerasan Terhadap Anak (MAKTA), yang diterbitkan oleh Forum Sastra Surakarta pada bulan September 2016. Penerbitan buku ini dikoordinasi oleh penyair Sosiawan Leak, yang juga merupakan koordinator gerakan Puisi Menolak Korupsi.

Setelah terbit buku seri Puisi Menolak Korupsi, banyak penyair yang puisinya termuat di buku tersebut ikut tergerak berkarya mendukung penerbitan buku berikutnya seperti Memo Untuk Presiden, Memo Untuk Wakil Rakyat, dan yang terbaru Memo Anti Kekerasan Terhadap Anak.

Banyak penyair prihatin dan mengutuk tindak kekerasan bahkan kebiadaban terhadap anak, yang malah kerap dilakukan oleh orang terdekat yang mestinya melindungi dan merawat anak tersebut dalam menyongsong masa depannya. Ingat kasus Arie Hanggara tahun 1984 yang kemudian sempat difimkan. Lalu kasus gadis cilik Angeline atau Engeline di Bali tahun 2015. Yuyun di Bengkulu bulan April 2016. Dan kasus-kasus lain yang begitu banyak.

Menurus saya pribadi, dari rentetan kasus-kasus tersebut telah menjadikan keadaan negeri ini sebagai tempat yang tidak lagi aman bagi anak-anak. Kasus terkait kekerasan seksual, dugaan pengambilan organ ginjal anak, penculikan, eksploitasi anak, dan lain- lain mestinya direspon terutama oleh pemerintah sebagai kondisi darurat dan perlu tindakan pencegahan yang sigap dan sistematis.

Jadi bukan hanya kasus teroris (senjata/ peledakan bom) saja yang segera dikejar, tetapi juga para pelaku dan terduga orang yang terlibat dalam lingkaran kekerasan pada anak segera ditangkap.

Bisa dilakukan usaha penyadapan informasi, melokalisasi gerakan mereka, memangkas penularan, dan lain-lain. Tahun 2016 ini sudah sangat parah kasus kekerasan. Saya pikir aparat penegak hukum harus makin tegas. Jika hukuman yang ada di aturan sekarang tidak memberi efek jera, maka harus segera dilakukan perubahan di produk hukumnya. Harusnya bisa cepat diwujudkan. (sekadar contoh, Undang-Undang dan PP terkait Dana Pungutan Kelapa Sawit saja dapat terwujud dalam waktu beberapa bulan saja)

Kedua puisi saya di buku itu berjudul Luka Tak Terlupa dan Sebuah Siang Terakhir.

 

Budhi Setyawan

Luka Tak Terlupa

: angeline*

 

cuaca kemarin pingsan

pada siang yang murung

gagu dan kaku kata

bagaimana hendak disebut:

karena menemukanmu, juga kehilanganmu

 

hanya kisah perih

yang tumbuh terangkai

menjadi sepasang sayap putih

bagi keberangkatanmu, juga kepulanganmu

selebihnya sepi

dan cuma haru sepi

tekun menikam hari

 

sedangkan doa doa bercampur air mata

terus mencurah

menjadi hujan

menjadi sungai

mengalir di jazirah kepiluan

 

dan,

luka, luka

luka itu tak akan terlupa

bagi anak anak cahaya

 

Jakarta, 11 Juni 2015

 

*Angeline atau Engeline: anak perempuan berusia 8 tahun, yang dilaporkan hilang pada 16 Mei 2015 ditemukan meninggal pada 10 Juni 2015. Ia dibunuh oleh ibu angkatnya, Margriet Megawe, di Jalan Sedap Malam, Sanur, Bali.

 

 

Budhi Setyawan

Sebuah Siang Terakhir

: untuk yuyun*

 

seusai bangun pagi, ia melihat matahari terbit

tampak sangat berbeda dengan hari kemarin

tak ubahnya sebuah jeruk dari surga

perlahan kirimkan cahayanya, teduh dan redup keemasan

serupa mengusapkan getar jemari dan pelukan keabadian

seribu bidadari

 

tetapi siang terlalu gelap bagi orang orang buta

yang telah kehilangan matahari dari dalam tubuhnya

maka tatapannya sehitam malam berjelaga

hingga merenggut paksa ia yang belum juga usai

belajar membaca dan menafsir arah dunia

setelah hunjam cabikan dan rudapaksa mereka

memutus angan dan mimpinya

langit dan awan berpaling, cuaca suram

jalanan surut mengelam

daun daun menutup malu dan haru

pepohonan tertunduk bersedih

getah karet berhenti menetes

membeku

 

lalu ia, dara kecil itu berlalu dalam samar sambil tersenyum

begitu tipis dan dingin

seperti menyisakan tanya

ternyata dunia kerap gagal memberi keluasan ruang

bagi langkah kecil anak anak

yang baru mengenal bulan

dan barangkali kemarau masih akan panjang

penuh debu dan sampah menutup pori pori cinta

meski masih ada sedikit napas dalam sajak dan doa

 

Bekasi, 8 Mei 2016

 

*Yuyun: anak perempuan berusia 14 tahun korban kekerasan seksual dan pembunuhan 14 laki-laki di Bengkulu, 2 April 2016

Tentang budhisetyawan

Seorang yang suka musik dan sastra.
Pos ini dipublikasikan di Puisi Karya Sendiri 1. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s