Puisi Budhi Setyawan di Media Indonesia

cover-puisi-media-indonesia-4-desember-2016Ada 5 puisi saya yang termuat di rubrik Puisi halaman Khazanah (9) koran Media Indonesia edisi hari Minggu, 4 Desember 2016. Kelima puisi tersebut berjudul Zikir Renjana, Jalan Makrifat, Alamatulhayat, Bunga Tasbih, dan Narasi Cermin.

Pemuatan puisi-puisi ini di Media Indonesia merupakan pemuatan di media massa cetak setelah absen atau vakum publikasi di media massa cetak selama 3 bulan, September – November 2016.  ini termasuk durasi yang cukup lama lowong, karena berbagai kesibukan saya sehingga tidak sempat mengumpulkan dan memilah-memilih puisi-puisi yang telah saya tulis. Dalam beberapa bulan di semester 2 tahun 2016, saya memang tidak bisa banyak menulis puisi karena kesibukan pekerjaan dan hal lain yang belum mendukung untuk mudah fokus pada penulisan puisi.

Puisi yang dimuat sebenarnya dalam format penulisan di tengah, dengan satu larik ada dua kalimat yang dipisahkan dengan tanda pagar atau “#”. Pemuatan puisi serupa di majalah Horison dan koran Indopos tertulis dalam versi asli seperti kiriman saya ke redaksi. Di media Indonesia mungkin terkendala ruang penataan (lay out) sehingga tertampil berbeda dari bentuk tipografi aslinya.

Puisi yang saya cantumkan di sini berjudul Bunga Tasbih dan Narasi Cermin.

Budhi Setyawan

Bunga Tasbih

senja membuka pintu malam # derap hari mulai tenggelam

sunyi mengisi gelas waktu # mengembun di lingkaran haru

perasaan merindu taman # datang bayang sesosok hutan

pepohonan rapat berdiri # setapak jalan tersembunyi

keharuman menyerbu batin # seribu risalah terjalin

mengeja sekumpulan ayat # nurani menggelar hakikat

mawar merah dan mawar putih # dijadikan untaian tasbih

merapal rindu dengan getar # wajah langit menyingkap cadar

masih jauh dari jamahan # makin dekat pada ingatan

kelopak dan tangkai terayun # melambai tanya warna daun

pawana pun meniup kencang # sesekali batang bergoyang

gigih cinta terus bertahan # di pokok akar keyakinan

Jakarta, 2016

*********************

Budhi Setyawan

Narasi Cermin

senja digelayuti rangkulan kabut # menggoreskan cuaca berwarna kalut

gagap menjelma onggokan takut # terbayang kala hendak merenggut

tak bisa menerka di balik mimpi # malam melata di pembuluh sepi

berharap tersisa lorong pagi # medan bersua untuk berbagi

ada danau sukma berair tenang # di kedalamannya hasrat berenang

banyaklah desir masih terkenang # terbang lepas jadi kunang kunang

rindu berasa asin garam # melumur wajah jantung lebam

menimbang cuaca makin temaram # rusuk perjumpaan menjelma suram

banyak rahasia yang disampaikan # dalam berbagai lingkar percakapan

ada yang liat bergeming menahan # kalimat tenggelam di kegelapan

terlintas kerlip pancar sesoca # beragam ihwal belum terbaca

bermohon hati sejernih kaca # ingatan nurani bukan perca

Bekasi, 2014

Tentang budhisetyawan

Seorang yang suka musik dan sastra.
Pos ini dipublikasikan di Puisi Karya Sendiri 1. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Puisi Budhi Setyawan di Media Indonesia

  1. yayang wiharja berkata:

    Waaah, mantap! puisi Bapak makin banyak aja yang dimuat. Saya malah setaun lebih gak nulis-nulis heee, Saya juga harus lebih semangat lagi nich heheh. Salam Sastra ya pak.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s