Puisi Budhi Setyawan di Medan Bisnis 26 Maret 2017

Ada 4 puisi saya yang termuat di rubrik ART & CULTURE: Galeri Puisi halaman 10 koran Medan Bisnis (terbit di Medan) edisi hari Minggu, 26 Maret 2017. Keempat puisi tersebut berjudul Ke Mana Sembunyi, Rumah Anak, Luka Tak Terlupa dan Surat Anak Anak Kepada Dunia.

Di atas Galeri Puisi ada artikel Apresiasi Puisi, yang mengulas sebagian puisi karya beberapa penyair yang dimuat Medan Bisnis pada waktu sebelumnya. Pada edisi ini diapresiasi beberapa puisi yang dimuat Medan Bisnis pada bulan Februari 2017.

Untuk pengiriman karya ke koran Medan Bisnis, kirim file karya dan biodata singkat ke alamat email: mdn_bisnis@yahoo.com dan cc-kan ke: diurnanta@gmail.com dengan melampirkan hasil scan identitas lengkap, foto serta nomor telepon yang mudah dihubungi.

Dua puisi yang saya cantumkan di sini berjudul Luka Tak Terlupa dan Surat Anak Anak Kepada Dunia.

 

Budhi Setyawan

 

Luka Tak Terlupa

: engeline*

 

cuaca kemarin pingsan

pada siang yang murung

gagu dan kaku kata

bagaimana hendak disebut:

karena menemukanmu, juga kehilanganmu

 

hanya kisah perih

yang tumbuh terangkai

menjadi sepasang sayap putih

bagi keberangkatanmu, juga kepulanganmu

selebihnya sepi

dan cuma haru sepi

tekun menikam hari

 

sedangkan doa doa bercampur air mata

terus mencurah

menjadi hujan

menjadi sungai

mengalir di jazirah kepiluan

 

dan,

luka, luka

luka itu tak akan terlupa

bagi anak anak cahaya

 

Jakarta, 11 Juni 2015

 

*Engeline: anak perempuan berusia 8 tahun, yang dilaporkan hilang pada 16 Mei 2015 ditemukan meninggal pada 10 Juni 2015. Ia dibunuh oleh ibu angkatnya, Margriet Megawe, di Jalan Sedap Malam, Sanur, Bali.

 

 

 

 

 

 

Budhi Setyawan

 

Surat Anak Anak Kepada Dunia

 

kami hadir padamu bukan kehendak kami, tetapi lahir

dari perjalanan cinta yang terus turun temurun

menjelma silsilah rindu di arus nadi. kami pun

perlahan meniti dari mimpimu yang dulu seperti awan

dan segera kauharap menjelma hujan, yang kadang

engkau lupa karena isapan ketergesaan. kami masih

rapuh, kau pun pernah rapuh, maka lewat tawa dan

tangis kami bahasakan ingin berlapis lapis.

bukankah sebelum kami ada, engkau terus berpikir,

bernyanyi, bahkan berdoa tentang beranda dan

kamar yang berwarna oleh kami semua, menjadi

perawat kata: seandainya. maka hari menyusun pacu

pada bulan dan tahun dengan cepat, mendekatkan

angan ke jalan penempuhan menaut ingatan pada

mimpimu begitu rapat.  napas napas harapan darimu

menggerakkan derap kami menderu dalam gerak

tumbuh dan kembang, mengolah tubuh dan jiwa agar

kuat dalam segala perang.

 

apakah kau tak menyiapkan buku harian untuk

mencatat segala tanda atau isyarat, tentang suatu hal

yang layak dirawat. kau sepertinya telah lupa akan

sepi, yang mewadahi detak untuk bertanya tentang

diri. kau rajin bergerak mengikuti arah lampu

yang rentan, memanjat menara menara kegelisahan.

kau gemar mengiklankan kilau dan laju kota, dan

terus berlarian hingga desa desa menjadi canggung

dan rendah diri papa, seperti tak lagi bermakna.

propaganda sejahtera seperti khotbah khotbah,

tak memberi tempat buat berbantah, mengudara lewat

pengeras suara yang meretakkan langit, bahwa tak

ada lagi jalan sederhana karena semua telah berpindah

ke dalam derajat kompleks dan rumit. tahun tahun

menjadi kelindan temali kusut dan begitu sulit untuk

dirunut. kami makin kehilangan bentang bermain dan

kadang hanya bisa bercakap dengan angin.

 

kami ada di ruangmu, terus mencoba mencari ruang

terang, agar tetap terlihat jalan yang bagi kami masih

panjang. tetapi, sebagian darimu adalah ruang kekal

sarat kelam, karena segala cahaya telah padam. hingga

tak lagi kuasa membaca sehimpunan nama yang

awalnya merangkak lalu berjalan dari arah masa

depan. maka kami tak bisa mengatakan bahwa

bersamamu pasti berpeluk tenteram, karena masih

amat banyak yang begitu terancam.

 

Jakarta, 23 Juni 2016

Tentang budhisetyawan

Seorang yang suka musik dan sastra.
Pos ini dipublikasikan di Puisi Karya Sendiri 2. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s