Puisi Budhi Setyawan di Buku Antologi Puisi Dari Negeri Poci 7: Negeri Awan

Ada empat puisi saya yang termuat di Antologi Puisi Dari Negeri Poci 7: Negeri Awan, yang merupakan buku antologi puisi seri lanjutan dari antologi Dari Negeri Poci 1 s.d 6. Antologi ini merupakan ide dari Komunitas Radja Ketjil/ Negeri Poci – Jakarta, dan dieditori oleh Adri Darmadji Woko, Handrawan Nadesul dan Kurniawan  Junaedhie. Buku ini diterbitkan oleh Penerbit Kosa Kata Kita, Cetakan Pertama, Maret 2017.

Ada beberapa nama penyair cukup dikenal yang puisinya dimuat di buku ini antara lain: Abdul Wachid BS, Aspar Paturusi, Beni Setia, Dedy Tri Riyadi, Dharmadi, Eka Budianta, Endang Supriadi, Gunoto Saparie, Hidayat Raharja, Isbedy Stiawan ZS, Kurnia Effendi, Ni Made Purnamasari, Soekoso DM.

Keempat puisi saya di buku itu berjudul Narasi Segugus Awan, Dongeng Awan, Membaca Sajak Bagus, dan Lelaki Dengan Gitar Berdawai Sepi.

Untuk blog ini saya cantumkan 2 puisi yang berjudul Narasi Segugus Awan dan Lelaki Dengan Gitar Berdawai Sepi.

 

Budhi Setyawan

NARASI SEGUGUS AWAN

 

kita adalah tubuh tipis berlapis

yang tersusun dari sekumpulan angan

hasrat memadat

menjalani takdir pengelana

mendaki undakan langit

dengan perlahan sembari mengingat kilasan musim

yang tertanam di lahan kesunyian

 

kehadiran dan kepulangan

hanya hamburan perulangan

riwayat yang mengeja gelaran jentera waktu

membaca alamat ruang

keberadaan yang tekun mencari

pengakuan di halaman kitab purba

yang berkelindan isyarat
kesementaraan dan keabadian

 

berapa panjang perjalanan kita

mungkin cuma fragmen sesaat yang tak tercatat

meski lewat benang layang layang

dapat kita sampaikan kepada anak anak di tanah lapang

kesepian semesta tak pernah lekang

 

pada akhirnya kita tak bisa memilih di bumi mana

tubuh kita menyerpih, satu satu luruh

mengangsur fana menuju moksa

menjelma rintis gerimis

lalu membiak menjadi cucuran ketika

tak bisa dibedakan lagi dengan tangis

 

sampai ketiadaan menyimpan

kita tak pernah tahu siapa yang memanggil

dari bilik bilik berhijab temaram

dengan tangan tangan tengadah dan terbuka

 

Bekasi, 2016

 

 

Budhi Setyawan

LELAKI DENGAN GITAR BERDAWAI SEPI

 

ia, lelaki yang menempuh limbah nada dengan kata

terbata. nyaris kehilangan arah, hanya mengikuti

pijar yang terbit dari penyebutan sebuah nama. telah

berkali mengeja nama yang sama, namun terus

menguar kebaruan harapan nyala. seperti terus

muncul musim semi, yang memberi kesempatan

daun daun angan bertunas dan segar kembali.

 

variasi kunci dan lompatan bar bergantian mencari

irama, namun nada nada masih samar sembunyi di

balik nyeri. teramat jauh untuk mencapai pada

partitur lengkap sebuah komposisi. atau jika tak

meraih kebulatan suara pun tetap dianggap sebagai

bagian dari harmoni, sebagaimana keyakinan yang

kerap gigih bertahan walau gigil pada tafsir persepsi.

 

lelaki dengan gitar lama menyusur getar waktu ke

berbagai lapisan bunyi. ia percaya bahwa tangisan

di saat kelahiran menjadi nada dasar untuk

perjalanan lagu panjang, menyelusup larik siang dan

bait malam. ia terus mencari bayang hari, bertemu

lirik haru mimpi, dan ada ruang ruang kosong yang

tak henti mengalir ke hilir sepi.

 

Bekasi, 2015

 

Tentang budhisetyawan

Seorang yang suka musik dan sastra.
Pos ini dipublikasikan di Puisi Karya Sendiri 1. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s