Puisi Budhi Setyawan di Antologi Puisi Penyair Nusantara Aceh 5:03 6,4 SR

Ada 1 puisi saya yang termuat di Buku Antologi Puisi Penyair Nusantara Aceh 5:03 6,4 SR, yang diterbitkan oleh FAM Publishing bekerjasama dengan Komunitas Seni Kuflet Padangpanjang  pada bulan April 2017.   Buku Antologi Puisi Penyair Nusantara Aceh 5:03 6,4 SR dengan ketebalan 235 halaman ini memuat puisi penyair nusantara, dengan editor Sulaiman Juned, Salman Yoga S. dan Muhammad Subhan.

Puisi-puisi dalam buku ini merupakan bentuk empati dari masyarakat yang suka menulis atas kejadian gempa bumi yang mengguncang wilayah kabupaten Pidie Jaya Provinsi Aceh pada 7 Desember 2016. Gempa tersebut merusakkan banyak bangunan, sarana prasarana umum, dan juga korban jiwa.

Penerbitan buku puisi terkait kejadian bencana menjadi semacam pengingat peristiwa alam yang tidak bisa diprediksi manusia, sekaligus dapat membantu mengarahkan kepada rasa spiritualitas bahwa di atas manusia ada kekuatan yang sangat menentukan pada kehidupan manusia dan alam semesta.

Dalam buku ini juga termuat karya penyair yang karyanya kerap menghiasi media massa dan antologi bersama, sekadar menyebut beberapa nama antara lain Ahmadun Yosi Herfanda, Bambang Widiatmoko, Dheni Kurnia, Dulrokhim, Fakhrunnas MA Jabbar, Fikar W. Eda, Jumari HS, Kurliyadi, Rini Intama.

Satu puisi saya di buku itu berjudul Membaca Aceh.

 

Budhi Setyawan

Membaca Aceh

 

setelah perang yang panjang

membuat buku sejarah sarat jerit dan pekik

juga peluru dan mesiu yang membakar tahun tahun

kini mengalir lagi sungai dari matamu

menggolakkan batu pasir deru menulis

pesan tentang waktu yang masih dirundung murung

membuat ruang ruang terikut mengapung

 

malam terasa menuntun abad

tak jua sembunyikan ingatan

dari kelam yang bertubi kirimkan tikam

hingga suara serangga, burung dan kelelawar

yang riuh menyusun irama dari gebu getar

tak lagi terdengar sebagai nyanyian

cuma pengiring gumam alam dalam sedu sedan

 

masih samar dan jauh benderang tualang

namun ada percik yang menyulut kerlip

dari ayat ayat yang menyibak timbunan sepi

menguarkan salam dari kedalaman napas usia

bukankah tak ada duka abadi

ketika pejaman mata tekun mengeja

kelopak cahaya yang perlahan mekar dari dada

 

Jakarta, 23 Desember 2016

 

Tentang budhisetyawan

Seorang yang suka musik dan sastra.
Pos ini dipublikasikan di Puisi Karya Sendiri 1. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s