Komentar Para Pembaca Buku SAJAK SAJAK SUNYI karya Budhi Setyawan (Juli 2017, bagian 1)

Buku puisi karya Budhi Setyawan berjudul Sajak Sajak Sunyi yang terbit bulan Juni 2017, telah menemui banyak penggemar puisi, di berbagai wilayah di Indonesia. Beberapa pembaca telah memberikan komentar tentang buku itu atau puisi puisi di buku Sajak Sajak Sunyi tersebut.

Seorang pejabat di Kantor Pusat Direktorat Jenderal Bea dan Cukai di Jakarta memberikan komentar atas buku puisi karya Budhi Setyawan atau yang lebih sering dipanggil Buset itu. Pejabat bernama Eksi Nugroho yang mempunyai hobi mendengarkan musik dan juga menyukai sastra termasuk puisi itu, memberikan komentar seperti berikut:

Sungguh, membaca sajak sajak “Buset” mewakili suasana sunyi yang sedang melanda diri ini. Bukan kesunyian karena berada di tempat terpencil atau jauh dari orang-orang tercinta, tetapi karena kesunyian yang melanda karena merasa anak yang sudah beranjak dewasa.

Bernaung, Harakat Sepi, dan Jalan Doa, merupakan sajak-sajak Buset yang mewakili ruang sunyi, waktu sunyi dan untaian doa yang kupanjatkan untuk anak-anakku yang telah membuatku sepi meski ku bahagia dalam kesepian karena mereka. Alhamdulillah sajak-sajak Buset dalam “Sajak Sajak Sunyi” dapat menjadi bagian hiburanku dalam kesunyianku ini.

(Jakarta, 7 Juli 2017)

 

Kemudian seorang perempuan yang suka sastra dan juga menulis puisi, bernama Wiekerna Malibra yang memberikan komentar mengenai buku Sajak Sajak Sunyi. Penyair perempuan ini memberikan komentarnya dengan menuliskannya seperti di bawah ini:

begitulah rindu, tak pernah letih untuk terus mengasuh waktu.”

#Mencoba menyegarkan kembali daya membaca dan menulis.

kita hanyalah sekumpulan

uap, bayang dan gema

yang tersesat berabad abad

ke ranah kilau fana

 

rindu ini adalah tarikan darimu

yang berangsur mengambil keberadaanku

hingga lenyaplah aku

 

dan pada doa kutitipkan gugusan air mata

berharap kelak menjadi rumah

yang teduh bagi keasingan usia

 

Membaca sepintas bait-bait di atas, kita seperti menemukan sebuah puisi yang utuh, satu kesatuan, layaknya satu judul. Nyatanya tidak, sebab manakala kita membuka isi buku Sajak Sajak Sunyi, maka tak akan kita temukan puisi itu. Yang ada ialah ketiganya ternyata diambil dari bait-bait terakhir dari 3 puisi yang berbeda. Kita Hanya, Rindu Ini, dan Teduh Doa. Ketiganya menyiratkan ekspresi jiwa sang penyair yang rindu dan cinta kepada Sang Khalik.

Sungguh, membaca dan menyimak Sajak Sajak Sunyi adalah sebuah kontemplasi diri di hadapan Illahi tanpa manipulasi dan kompetisi. Dia Yang Maha Melihat, Yang Maha Kasih, Yang Maha Tahu sejatinya setiap makhluk ciptaanNya tanpa terkecuali, tanpa ambisi. Dia yang hanya akan datang pada Waktu Rindu…

begitulah rindu, tak pernah letih untuk terus mengasuh waktu.”

Bekasi, 7 Juli 2017

(diambil dari status akun Facebook: Wiekerna Malibra)

Tentang budhisetyawan

Seorang yang suka musik dan sastra.
Pos ini dipublikasikan di Esai 1. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s