Puisi Budhi Setyawan di haripuisi.com

Ada 2 puisi saya di laman haripuisi.com yang diunggah tayang pada 14 Juli 2017. Satu puisi tersebut berjudul Dalam Pejaman Mataku dan Sungai Malam Hari, yang diambil dari buku berjudul Sajak Sajak Sunyi terbitan Juni 2017 halaman 72 dan 67.

Laman haripuisi.com dengan semboyan Hari Puisi Indonesia: Tanah Air Para Penyair, merupakan media dari Yayasan Hari Puisi. Yayasan Hari Puisi memiliki visi, bahwa Yayasan Hari Puisi didirikan dengan tujuan menjadi wadah dan payung kreatif bagi kegiatan perpuisian di Indonesia. Salah satu program utama Yayasan Hari Puisi adalah menyelenggarakan kegiatan Festival Hari Puisi Indonesia yang diusahakan dapat berlangsung setiap tahun.

Editor  haripuisi.com adalah Hasan Aspahani, seorang penyair yang buku puisinya berjudul Pena Sudah Diangkat, Kertas Sudah Mengering memenangi Anugerah Hari Puisi Indonesia Tahun 2016.

Redaksi menerima naskah puisi, esai (ulasan buku, kritik, apresiasi), artikel sosok penyair, dan wawancara penyair, serta agenda, liputan acara, dan kegiatan komunitas terkait puisi. Naskah yang dikirim disarankan disertai foto penulis, atau foto kegiatan terkait. Dikirim ke posel (email): iniharipuisi@gmail.com

Tautan untuk puisi saya Dalam Pejaman Mataku, yang dimuat adalah di http://www.haripuisi.com/arsip/2448

Budhi Setyawan

Dalam Pejaman Mataku

saat malam menutup pintu hari
aku tiriskan lelah pada musim sepi

kukatupkan kedua daun kelopak
meliburkan rekaman warna sejenak

dalam pejaman mata kunyalakan pandang
yang tak teraba oleh retina nyalang

kulihat wajahmu memenuhi segala penjuru
mengirikan rinai basah butiran haru

selama ini edaran lingkar-sengkarut tatap
hanya melahirkan riuh koloni ratap

kaki berlari mengejar jentera musim
menguar suara silam kedalaman rahim

isyarat melepas debu makin menebal
kembali pada kalimat di alam misal

sebelum matahari leleh dan mencair
merasuk ke dalam pejaman mata terakhir

Bekasi, 2016

 

Tautan untuk puisi saya Sungai Malam Hari, yang dimuat adalah di http://www.haripuisi.com/arsip/2438

Budhi Setyawan

Sungai Malam Hari

ada percik tafsir yang mengalirkan panas
menerpa dinding kamar mengunggah cemas

tidurmu dengan lumuran gelebah gelisah
di hampar malam yang mengawetkan kesah

terpisah dari kata yang menyusun percakapan ramai
tersapih dari tawa masa kanak yang rinaikan derai

beruntun terbit gumam yang mencari pelegaan
seperti guntur yang tak lupa memetik sahutan hujan

tanganmu meraih bayang di tingkap ingin
namun yang kaudapat cuma rabaan angin

di luar masih terang dan jalanan dalam riang deru
dalam kepalamu bersemayam kelam sepi yang batu

hanya sosok doa sanggup terus berjalan
tak letih terus mengetuk pada pintu keajaiban

pangkal matamu terus mencipta sungai
keperihan meluap pada malam yang sansai

Jakarta, 2014

Tentang budhisetyawan

Seorang yang suka musik dan sastra.
Pos ini dipublikasikan di Puisi Karya Sendiri 1. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s