Komentar Para Pembaca Buku SAJAK SAJAK SUNYI karya Budhi Setyawan (Juli 2017, bagian 2)

Setelah terbit di bulan Juni 2017, perlahan buku puisi Sajak sajak Sunyi atau disingkat S3 menemui penyukanya atau penggemarnya. Beberapa orang yang telah mendapatkan buku tersebut mengatakan bahwa untuk membaca puisi ternyata diperlukan waktu yang khusus dan ruang yang tenang. Mereka mengatakan bahwa kata-kata yang dirangkai dalam kalimat dengan gaya bahasa dan kemudian menjadi bahasa kias, tidak bisa dipahami dalam hanya sekali baca. Untuk memahaminya diperlukan membaca berkali-kali. Dan itu memang tantangan sekaligus keunikan dan keasyikan membaca karya puisi.

Buku Sajak Sajak Sunyi atau S3 karya saya juga sudah sampai kepada sahabat saya beberapa waktu yang lalu. Sahabat saya itu bernama Beni Novri. Pria asal Lampung ini adalah pejabat di kantor Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Kementerian Keuangan. Ia yang punya hobi membaca dan menyanyi, saat ini tinggal bersama keluarganya di Jakarta.

Mengenai buku Sajak Sajak Sunyi, ia mengatakan seperti ini:

Setelah membaca sajak-sajak sahabat saya Buset, terasa memiliki arti bagi pendalaman spiritual untuk mencapai manusia yang sejati yang memimpikan diselimuti oleh zikrul makrifat yang selama ini tersembunyi di lubuk hati kami. Semoga kita bisa menuju ke sana.

Semoga tetap terjalin silaturahmi dengan saudara Buset melalui kata spiritual yang penuh makna. Lanjutkan.

(Jakarta, 18 Juli 2017)

Budhi Setyawan dan Dharmadi Juli 2017Sementara Dharmadi, penyair asal Purwokerto yang kadang di Purwokerto dan di Tegal, Jawa Tengah, menyampaikan pendapatnya tentang buku puisi Sajak Sajak Sunyi.  Kami bertemu di acara Musyawarah Nasional Sastrawan Indonesia (Munsi) ke-2 di Hotel Mercure Ancol, 18 – 20 Juli 2017.

Ia mengatakan, puisi-puisi dalam buku Sajak Sajak Sunyi lebih bernuansa ke arah dalam, sementara puisi lain yang selama ini dimuat media lebih bersifat ke luar tubuh. Misalnya dengan banyak pengungkapan tentang benda atau keadaan sekitar.

Dari sisi penggunaan kata, ia mengatakan bahwa terlalu banyak penggunaan kata sunyi, sepi atau sejenisnya. Yang perlu diupayakan lagi ke depan adalah mengurangi penggunaan kata “sunyi”, misalnya, tetapi mengoptimalkan penggunaan kata lain dan majas sehingga menjadi kalimat yang sangat mendukung untuk menciptakan suasana sunyi. Yang harus lebih diupayakan adalah “menciptakan suasana sunyi” di dalam puisi tanpa menggunakan kata “sunyi”.

(Jakarta, 18 Juli 2017)

 

 

Tentang budhisetyawan

Seorang yang suka musik dan sastra.
Pos ini dipublikasikan di Esai 1. Tandai permalink.

2 Balasan ke Komentar Para Pembaca Buku SAJAK SAJAK SUNYI karya Budhi Setyawan (Juli 2017, bagian 2)

  1. angga berkata:

    Bukunya bagus Pak saya jadi berminat memilikinya. Kira kira saya bisa mendapatkannya dimana ya Pak ? Hehe

    • budhisetyawan berkata:

      Terima kasih atas komentar mas Angga.
      Masih berupa tulisan sederhana dari saya.
      Untuk mendapatkan buku bisa kontak Whatsapp (WA) ke saya di nomor 0812 2680 7247
      Pada artikel informasi tentang buku saya di blog saya ini, juga ada nomor kontak untuk WA saya.
      Baiklah saya tunggu kontak dari mas Angga. terima kasih.

      salam progresif,

      Buset

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s