LELAKI YANG MENCARI DI RUANG – RUANG SUNYI. TELAAH SEDERHANA TERHADAP “SAJAK SAJAK SUNYI” BUDHI SETYAWAN*

Oleh Hasan Bisri BFC**

 

“It is impossible  for one to become good poet unless he has previously  become a good man”

( Strabo )

 

Membaca dan menelaah sajak-sajak karya Budhi Setyawan yang terkumpul adalam antologi “Sajak Sajak Sunyi” amat menarik dan penting. Menarik karena ada beberapa hal baru yang berusaha diungkapkan oleh penyairnya dan konsisten dari sajak yang satu ke sajak-sajak yang lain. Terlebih apabila dikaji dari disiplin ilmu Psikologi Sastra, kehadiran buku ini menjadi penting. Hal lain yang menjadikan buku ini penting karena memiliki keberbedaan dari sajak-sajak sebelumnya, baik yang digubah oleh penyair lain maupun penyairnya sendiri. Pada kesempatan kali ini, penulis mencoba memaparkan kupasan sajak-sajak Buset, demikian dia biasa dipanggil, dari disiplin Psikologi Sastra, yang tentunya juga akan menyerempet ke aspek sastranya.

Need for Achievement ( N.Ach)

Dalam bukunya, Metode Penelitian Psikologi Sastra- Teori, Langkah dan Penerapannya, FBS Universitas Negeri Yogyakarta, 2008, Suwardi Endraswara mengatakan bahwa Psikologi Sastra adalah suatu interdisiplin ilmu antara psikologi dan sastra. Mempelajari psikologi sastra sama dengan mempelajari  manusia dari sisi dalam. Mengingat menyangkut bagian dalam kejiwaan manusia, maka para peneliti menganggap sulit karena bersifat subyektif. Sesungguhnya hal ini menjadi daya tarik sendiri karena berusaha mempelajari kepribadian manusia yang tercermin dalam  ( tokoh-tokoh ) karya sastra.

Istilah psikologi sastra memiliki empat pengertian, yakni studi psikologi pengarang ( penyair ) sebagai tipe atau pribadi, kajian proses kreatif, dampak sastra terhadap pembaca, dan kajian tipe dan hukum, yakni hukum psikologi  yang diterapkan pada karya sastra. Kaitannya dengan pembahasan teks-teks puisi, maka kita akan melepaskan kajian tentang penyair sebagai tipe atau pribadi. Kajian ini membutuhkan wawancara yang intens dengan penyairnya, mencermati biodata yang tertera di buku-buku karyanya secara benar, dan juga mencermati perkembangan psikologi penyair  dari waktu ke waktu. Begitupun dengan kajian proses kreatif. Kita membutuhkan perangkat lain yakni wawancara dengan penyairnya atau mengamati dan mencermati catatan-catatan penyairnya mengenai perkembangan proses kreatifnya selama ia berkarya. Ketiga, tentang dampak sastra terhadap pembaca. Ini juga memerlukan waktu khusus untuk penelitian terhadap sebuah karya puisi. Dari pengalaman, dampak puisi terhadap pembacanya baru sebatas sebagai peletik inspirasi untuk melahirkan puisi-puisi baru. Efek emosinya adalah menenangkan pikiran, menenteramkan jiwa, dan bisa dikutip untuk mengirim kalimat cinta. Namun, hasil penelitian yang akurat dan valid, penulis belum pernah menemukannya. Yang paling memungkinkan adalah mengkaji sastra yang didekati dengan disiplin ilmu psikologi. Meskipun tidak ada jaminan akurasi hasilnya mengingat sastra  puisi adalah wilayah dalam penyairnya, yang tentunya subyektif, unik dan personal. Pada karya-karya tertentu, bisa jadi puisi tidak mewakili dunia dalam penyair seutuhnya, melainkan mewakili aspek dalam orang lain, bahkan personifikasi benda-benda.

Pada kesempatan kali ini, penulis akan berupaya mengupas sajak-sajak “S3” dari teori motivasi David McCelland. McCelland telah memberikan kontribusi terhadap teori motivasi. Menurutnya, kebutuhan manusia terbagi 3, yakni Need for Achievement, Need for Power, dan Need for Affiliation. Dari ketiga kebutuhan ini, maka penulis berusaha mengupas dari aspek Need for Achievement, yakni keinginan berprestasi penyairnya yang tercermin dalam karya-karyanya ( baca: S3 ).

NAch adalah proses pembelajaran yang stabil yang mana kepuasan didapat dengan berjuang dan memenuhi level tertinggi untuk dapat menjadi ahli di bidang tertentu. Ahli lain mengatakan bahwa NAch adalah keinginan untuk menantang pekerjaan yang sulit, yang mana orang yang memiliki NAch yang tinggi memiliki kontrol terhadap perilaku mereka dan menyukai tantangan yang sulit. Sementara orang yng memiliki NAch yang rendah tidak memiliki tantangan untuk memperoleh prestasi tinggi dan sulit. Santrock (John W. Santrock, ahli terkemuka di bidang Psikologi Perkembangan) memaparkan bahwa NAch adalah keinginan untuk  mencapai sesuatu , mencapai standar kemahiran dan meluaskan usaha untuk menjadi ahli. NAch adalah upaya terus menerus untuk mencapai hasil yang terbaik dan menganggap apa yang sudah dicapainya bukalah puncak kesuksesan. Semua adalah proses, oleh karena itu ketika seseorang sudah merasa mencapai puncak kesuksesan, maka ini menjadi tanda bahwa seseorang ( baca:penyair ) sudah mendekati saat sakaratul mautnya. Inilah yang membuat Buset selalu mencari, tidak hanya estetika dan gaya-gaya pengucapan dalam sajak-sajaknya, melainkan juga pencarian kesejatian dirinya sebagai hamba yang selalu rindu kepada sang Khalik. Seperti sajak di bawah ini:

Makrifat Pencarian

kukejar jejak jejak tahajud nabi

yang bertabur di udara malam, dan

menjelma kerlip kunang kunang

 

semakin tinggi dan jauh terbang mereka

mengapung sepoikan desir kerinduan

malam pun berhias dalam keagungan

 

tak purna jua jangkauku, sukma

dahagaku senantiasa memanggil kalbu langit

yang menyimpan nurani cahaya di sekujur zaman

 

( Sajak Sajak Sunyi, hal. 11 )

 

Atau saja pendek ini:

 

Nubuat Pencarian

sejauh jalan pencarianku

adalah kembali pada pelukmu

( Sajak Sajak Sunyi, hal. 77 )

Namun demikian, pencarian itu tak pernah menemukan titik akhirnya, seperti halnya seorang penyair yang senantiasa mesti mencari dan menemukan pola ucap baru, estetika baru dan juga tema-tema baru. Ini terwakili dari sajak pertamanya yakni Di Atas Kata.

…….

nadi yang merambati gunungan doa

menafsir lirih suara di sunyi dada

dengan setapak kecil menuju kerlip lentera

tak khatam juga menguak himpunan rahasia

 

( Di Atas Kata, bait ketiga, hal. 2 )

Bagi Buset, pencarian selalu dalam koridor sebuah proses yang terus-menerus tiada hentinya. Maka tak heran kalau setiap bilah waktunya, utamanya malam hari berusaha mendekatkan dri kepada Zat yang memiliki ruang-ruang dan waktu-waktu sunyi. Pada saat itulah seorang makhluk akan mudah tersambung hati dan pikirannya kepada Sang Pencipta. Sebagai insan kreatif, pengggebug drum ini juga rajin menuliskan tema-tema pencarian di antologi ini. Sebut saja Latisan, Di Kedaimu, Risalah Sujud, Sembahyang Sunyi, Riwayat Pendaki. Aku Belum Mengenalmu, Repetisi Pencarian, dan Sembilan Kali Menyebutmu.

Sajak-sajak Buset berisi tidak hanya pencarian terhadap eksistensi diri, jati diri, dan juga harga diri ( self esteem ) yang bermuara kepada Ilahi, melainkan juga pencarian terhadap kebaruan pola ucap sajak-sajaknya. Kalau kita perhatikan setiap sajaknya, diksi-diksi yang dipilih dicermati betul dan dikendalikan agar tidak bertumpuk dalam satu saja. Meski di buku S3 ini bertaburan kata-kata sepi, sunyi, senyap, hening, penyap,  yang memberikan nuansa kepada judul buku ini, namun tidak ada yang menumpuk dalam satu puisi. Penulis hanya menemukan 1 sajak yang di dalamnya ada 2 kata “sepi” ( lihat Harakat Sepi, hal. 19 ). Tak hanya pengendalian penumpukan diksi, Buset juga tekun mencari diksi-diksi baru yang jarang digunakan penyair lain. Sebut saja latisan, gelebah, jambul, hijab, hayat. Meskipun ada pula pengulangan kata sebagai kata favorit seperti sukma, suar, silam, gelebah, sansai, tingkap. Yang terlihat serupa panen raya adalah kegigihannya menaburkan frasa-frasa baru yang segar dan belum pernah dipakai oleh penyair lain. Kadang terlalu banyak dalam satu sajak sehingga bagi pemula yang menikmati sajak-sajak Buset bisa merasa overdosis. Tentu perlu dikaji lebih dalam sejauh mana frasa-frasa baru ini akan memperkuat atau justru melemahkan intensifikasi dan korespondensi sajak-sajaknya. Frasa yang menggabungkan dua bahasa yang biasa ditemui pada tulisan-tulisan Emha Ainun Nadjib dan sajak-sajak Kurliyadi juga banyak penulis temukan. Pada judul kita temukan Risalah Sujud, Makrifat Pencarian, Harakat Sepi, Syahid Rindu, Risalah Sepi, Nubuat Pencarian, dan di tubuh-tubuh sajaknya banyak kita temukan frasa-frasa yang amat menarik ini. Yang palng menarik adalah upaya penyair asal Purworejo ini mencoba melakukan pembaruan dengan benyak menyampaikan kata ulang tidak disertai tanda hubung ( – ). Penyair seolah ingin mengatakan bahwa setiap kata memiliki tempat yang istimewa,  memiliki marwah sendiri-sendiri, memiliki keududukan yang sejajar dengan kata yang lainnya. Ini berbeda dengan penyair-penyair lain, bahkan yang dikagumi Buset, yakni Dorothea Rosa Herliany yang menuliskan kata ulang tanpa jeda spasi atau tanda hubung. Ini perlu kajian lanjutan. Wallahu a’lam bishshawab.

Demikianlah upaya kreatif penyair yang produktif mengirim karya-karyanya ke media itu berusaha memiliki kelebihan dari penyair-penyair lain melalui pencariannya terhadap diksi-diksi baru, frasa-frasa segar, dan juga menciptakan kebaruan berupa kata ulang yang tidak disertai dengan tanda hubung yang seolah ingin mendudukkan setiap kata menjadi kata yang istimewa.

Frasa yang Janggal

Ketekunannya menemukan frasa-frasa baru yang segar ( baru ) dan memperkuat tubuh sajak, patut diacungi jempol. Namun ada beberapa frasa yang menurut pembacaan penulis ada yang janggal. Beberapa yang sempat penulis temukan adalah “hamburkan arus pusaran” ( Risalah Sujud, hal. 8 ), akan lebih pas “hamburkan pusaran arus “, “undakan saf saf langit” ( Hudhud, hal. 9) karena saf adalah barisan, “bersembahyang cipta” ( Sembahyang Sunyi, hal. 12 ), “tempias basah hujan” ( Pohon Sunyi, hal. 13 ), bukankah hujan itu basah, “wajah bumi yang kian ringan” ( Ingatan Mimpi, hal. 15 ), “hujan pun runtuh dari dahan dahan awan” ( Buah Hujan, hal. 23 ), mengapa menggunakan kata “runtuh” dan bukan “rontok”, “rimbun sekam pencarian” ( Rakaat Kerinduan Padamu, hal. 34 ), kenapa menggunakan “rimbun”, “serbuk nyala rindu” ( Doa di Bawah Hujan, hal. 38 ), mengapa “serbuk” dan bukan “latu” misalnya, “hidup serupa cuma bayang bayang” (Desir Sembahyang, hal. 47 ) , kenapa bukan “hidup cuma serupa bayang bayang “)

Terlepas dari kelalaian-kelalaian kecil dan kurang berarti ini, S3 menawarkan kebaruan pengucapan. Dan tema-tema relijius baik dari bagian Ruang Sunyi ( 42 sajak ) maupun Waktu Sunyi ( 29 sajak ) membetot perhatian pembaca untuk mengulang-ulang pembacaan dan kemudian menyelami pesan-pesan sufistiknya. Tak hanya itu, secara keseluruhan sajak-sajak ini memberikan inspirasi bagi kita untuk menulis sajak-sajak lebih baik lagi. Lebih menggembirakan lagi bahwa penyair sudah teruji sebagai penyair baik yang menyampaikan moral-moral baik juga, sehingga terhindar dari sebutan penyair yang diikuti oleh orang-orang sesat karena penyair ini adalah penyair beriman, beramal saleh, dan senantiasa menyebut nama Allah ( QS Asy-Syu’ara 224 dan 227 ).

 

Vila Nusa Indah, 22 Juli 2017

*Disampaikan dalam diskusi Halal Bihalal Forum Sastra Bekasi, Sabtu, 22 Juli 2017.

** Menulis puisi, cerpen, esai, opini, kritik film, wayang mbeling, humor, dan skenario sinetron

 

Tentang budhisetyawan

Seorang yang suka musik dan sastra.
Pos ini dipublikasikan di Esai 1. Tandai permalink.

8 Balasan ke LELAKI YANG MENCARI DI RUANG – RUANG SUNYI. TELAAH SEDERHANA TERHADAP “SAJAK SAJAK SUNYI” BUDHI SETYAWAN*

  1. Kurliyadi berkata:

    Terkadang frasa dan kata atau sejumlah kalimat yang sulit dimengerti pembaca atau di luar batas pembacaan pembaca berakibat kerinduan yang tak tuntas bagi pembacanya, begitulah sajak, sajak dan frasa seperti daun dan dan ranting sekali jatuh daun maka kesedihan ranting tidak alan kembali utuh seperti semula, begitulah yang saya rasakan tanpa beban memdapatkan frasa itu datang seperti wahyu puisi sebelum ditulis.

    • budhisetyawan berkata:

      terima kasih mas Kurliyadi. komentar yang keren. dan tentunya sangat menginspirasi dan menyemangati. saya rindu puisi-puisi mas Kurliyadi. Semoga kembali hadir termuat di media-media massa dan segera ada puisi-puisi dahsyat yang dibukukan ke dalam antologi tunggal mas Kurliyadi. salam progresif.

  2. Khalish Abniswarin berkata:

    Sajak Om Buset..bener bener busyet dah. Kagum dengan ruh reliji di dalamnya. Tabik!

    • budhisetyawan berkata:

      Terima kasih mas Khalish, telah singgah di blog sederhana saya. Blog yang sepi, bahkan sunyi, dan jauh dari riuh atau ramai percakapan.
      Setiap pengunjung yang berkomentar, senantiasa menyemangati saya, untuk belajar lebih baik lagi. Meski uban sudah nyaris memutihkan kepala saya, tetapi saya merasa saya masihlah mualaf dalam ranah sastra, termasuk perpuisian. Mohon doanya mas. ohya, selamat ya puisi2 mas Khalish dimuat Lokomoteks dan beberapa media, serta buku puisinya Sujud Sebelas Bintang. Kita bisa barter buku mas, he3…
      ohya, saya pernah sampai Tenggarong, tahun 2015, ketika saya dinas di Balikpapan, Kaltim. Ya cuma sekilas jalan2 ke Istana kerajaan Kutai.
      Salam progresif.

      • Khalish Abniswarin berkata:

        Wah. Koment saya yang sedikit dibalas dengan sanjungan yang panjang. Hahaha. Apalagi saya Om Budi masih prematur malah. Boleh Om barteran tapi sementara bukunya belum cetak ulang. Maklum cetak dikit aja karena masih uji coba. Hehehe. Dinas di mana dulu Om? Salam hormat saya.

  3. budhisetyawan berkata:

    he3… biasa. saya buruh negara mas…

  4. putu sukadana berkata:

    Kepada Yth. Bapak Budhi Setyawan, saya salah seorang staf pegawai di perpustakaan Fakultas Ilmu Budaya UNUD, saya ingin menyampaikan Terimakasih yang sebesar2nya atas nama Fakulktas Ilmu Budaya UNUD, karena sudah memberikan kami Buku yang Berjudul Sajak – Sajak Sunyi, secara gratis (2 eksemplar) untuk menjadi koleksi di Perpustakaan kami, selain sebagai koleksi, Buku bapak juga bisa digunakan para mahasiswa di FIB sebagai referensi buku tentang sajak, khususnya mahasiswa2 jurusan sastra, akhir kata kami ucapkan banyak terimaksih kepada Bapak, semoga buku ini dapat kami dayagunakan di perpustakaan FIB UNUD dan kami doakan Bapak makin banyak bisa berkarya menghasilkan buku2 bagus seperti buku ini, amiin

    • budhisetyawan berkata:

      Terima kasih kembali bapak Putu Sukadana. Saya hanya bisa berbagi sedikit buku ke beberapa kampus, semoga bermanfaat bagi adik-adik mahasiswa atau yang menyukai puisi. Semoga jika ada yang melakukan kajian atau telaah, saya dapat mendapatkan kabar dan hasil telaahnya yang akan berguna bagi saya untuk memperbaiki kualitas tulisan saya. Bagaimanapun juga saya masih pembelajar di ranah sastra (puisi) dan belum banyak mendalami secara khusus mengenai perpuisian, apalagi saya belum pernah belajar atau membaca literatur teori/kritik ilmu kesusastraan.
      Sekali lagi terima kasih.
      Salam progresif.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s