Menjadi MC di Sastra Reboan 26 Juli 2017: Merayakan Hari Puisi Indonesia 2017

Setelah sempat vakum beberapa bulan, acara rutin bulanan Sastra Reboan mulai aktif lagi, pada edisi Juli 2017 tepatnya hari Rabu malam, 26 Juli 2017. Acara bulan Juli 2017 mengambil tema AKU, sesuai dengan tanggal kelahiran penyair legenda Indonesia Chairil Anwar yang puisinya berjudul Aku sangat terkenal di dalam kesusastraan Indonesia.

Acara Sastra Reboan yang pada edisi perdana dilaksanakan pada bulan April 2008, berjalan rutin setiap bulan. Sempat vakum beberapa bulan terkait dengan kepindahan Ketua komunitas Sastra Reboan Yo Sugianto ke Yogyakarta. Kendali jarak jauh memang terasa berat, dan  pada waktu yang bersamaan beberapa pengurus reboan juga memiliki kesibukan yang makin padat terkait pekerjaan masing-masing. Dan pada edisi Juli 2017 kegiatan sastra Reboan dimulai lagi, dengan niatan kembali menyelenggarakan acara pertunjukan sastra yang inklusif dan akrab. Di poster Reboan juga disematkan semboyan yang baru yaitu “Sastra Reboan: Panggung Sastra Untuk Semua”.  Dengan pertimbangan agar sastra Reboan tetap dapat berlangsung, maka A Slamet Widodo, penyair glenyengan mengambil keputusan dengan menginformasikan kepada pengurus lainnya bahwa Ketua Pelaksana (sementara) ditunjuk Kencono Puspito Dewi, penyair yang sudah biasa mempersiapkan dan mengawal acara sastra pertunjukan.

Setelah cukup lama saya tidak menjadi pembawa acara atau MC( master of ceremony) atau kalau di Djogja suka disebut “master of conthong”, maka pada Sastra Reboan 26 Juli 2017 saya kembali ke panggung menjadi MC bersama sastrawan Setiyo Bardono yang juga asal Purworejo, sehingga acara Reboan Juli 2017 dikawal oleh Duo Purworejo. Menjadi MC membawa semangat untuk memberikan beberapa info, dan yang perlu diwaspadai adalah kelebihan waktu dari yang ditentukan, sehingga durasi acara menjadi lebih lama.

Setelah pembukaan dari A Slamet Widodo dan awak Reboan naik panggung, maka dilanjutkan dengan tampilnya sastrawan Ahmadun Yosi Herfanda, sebagai salah satu deklarator hari Puisi Indonesia tahun 2012 di Pekanbaru menjelaskan, apa itu Hari Puisi Indonesia. Beliau juga memaparkan bagaimana Hari Puisi Indonesia akhirnya mulai dirayakan selama 5 tahun terakhir ini.

Kemudian tampil penyair membacakan puisinya seperti Endang Supriadi, Ade Novi, Nanang R Supriyatin, Dhenok Ayu Kristianti dengan monolog “Koper Coklat Tua”, Rinidiyanti Ayahbi bersama gitar melakukan musikalisasi puisi, kemudian beberapa penyair seperti Dian Rusdiana, Kurliyadi (En Kurliadi Nf), Nissa Rengganis, Dino Umahuk, Cut Hani, Edrida Pulungan, Alya Salaisha, dan lain-lain.

Penampil yang menjadi ikon pada Reboan 26 Juli 2017 adalah kiai yang penyair asal Madura yaitu D Zawawi Imron. Beliau menyampaikan dalam puisi Aku-nya Chairil Anwar, ada larik: aku mau hidup seribu tahun lagi. Ini mengisyaratkan bahwa dalam sastra ada spirit, ada semangat, ada kehidupan dari dalam dirinya yaitu nurani”. Kemudian beliau juga mengatakan bahwa petani yang bekerja keras di sawah dengan tidak mengeluh walau hasilnya kecil, itu juga puisi. Itu keindahan yang sangat bernurani. Zawawi Imron juga melafalkan sajak karya WS Rendra berjudul Episode yang sudah dihafalnya, sehingga tanpa teks beliau menyuarakannya. Sajak Episode lengkapnya adalah:

Episode

Kami duduk berdua
di bangku halaman rumahnya.
Pohon jambu di halaman rumah itu
berbuah dengan lebatnya
dan kami senang memandangnya.
Angin yang lewat
memainkan daun yang berguguran.
Tiba-tiba ia bertanya:
”Mengapa sebuah kancing bajumu
lepas terbuka?”
Aku hanya tertawa.
Lalu ia sematkan dengan mesra
sebuah peniti menutup bajuku.
Sementara itu
aku bersihkan
guguran bunga jambu
yang mengotori rambutnya.

Zawawi Imron juga sempat mengatakan bahwa menulis puisi itu tidak untuk gagah-gagahan menjadi penyair, tetapi karena ada panggilan batin, suara nurani. Kalaupun berhasil menjadi penyair, tetaplah ada sosok yang sangat berpengaruh pada jalan kepenyairan itu. Lalu dilafalkannya puisi legendaris karyanya yang berjudul IBU.

IBU

kalau aku merantau lalu datang musim kemarau

sumur-sumur kering, daunan pun gugur bersama reranting

hanya mataair airmatamu ibu, yang tetap lancar mengalir

 

bila aku merantau

sedap kopyor susumu dan ronta kenakalanku

di hati ada mayang siwalan memutikkan sari-sari kerinduan

lantaran hutangku padamu tak kuasa kubayar

 

ibu adalah gua pertapaanku

dan ibulah yang meletakkan aku di sini

saat bunga kembang menyemerbak bau sayang

ibu menunjuk ke langit, kemundian ke bumi

aku mengangguk meskipun kurang mengerti

 

bila kasihmu ibarat samudera

sempit lautan teduh

tempatku mandi, mencuci lumut pada diri

tempatku berlayar, menebar pukat dan melempar sauh

lokan-lokan, mutiara dan kembang laut semua bagiku

kalau aku ikut ujian lalu ditanya tentang pahlawan

namamu, ibu, yang kan kusebut paling dahulu

lantaran aku tahu

engkau ibu dan aku anakmu

 

bila aku berlayar lalu datang angin sakal

Tuhan yang ibu tunjukkan telah kukenal

 

ibulah itu bidadari yang berselendang bianglala

sesekali datang padaku

menyuruhku menulis langit biru

dengan sajakku.

1966

Penonton di Sastra Reboan 26 Juli 2017 sangat banyak, menandakan bahwa banyak pencinta sastra yang mencintai acara Sastra Reboan yang sempat vakum beberapa episode. Nuansa kangen-kangenan antara sesama penulis/ pencinta sastra sangat mudah dilihat dan dirasakan, yaitu lumayan riuhnya suasana penonton pada acara malam itu. Bukti lain bahwa Sastra Reboan masih sangat ditunggu hadirnya adalah adanya beberapa penonton yang ingin langsung tampil di Sastra Reboan Juli 2017, yang sebenanrya sulit untuk dipenuhi karena sudah tersusun daftar pengisi acara dan masih banyak yang belum tampil.

Rupanya Zawawi Imron juga seorang pengagum Soekarno yang ternyata dapat dengan persis berbicara atau orasi seperti Soekarno. Saya merasa merinding karena saya cukup akrab dengan pidato Soekarno, bahkan di waktu kecil saya sudah mendengar pidato Soekarno dari pita kaset yang dibeli bapak saya kalau lagi ziarah ke makam sang Proklamator tersebut di kota Blitar.

Salam Jasmerah: jangan sekali-kali melupakan sejarah, kata Bung Karno.

 

 

Tentang budhisetyawan

Seorang yang suka musik dan sastra.
Pos ini dipublikasikan di Kabar & Silaturrahmi 1. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s