DISKUSI BUKU SAJAK SAJAK SUNYI KARYA BUDHI SETYAWAN DI PURWOREJO

Pada hari Minggu Legi 3 September 2017 dilaksanakan diskusi buku puisi SAJAK SAJAK SUNYI (S3) karya Budhi Setyawan di aula gedung PKK Kabupaten Purworejo. Acara dijadwalkan jam 9 pagi dan dimulai sekitar jam 9.30 WIB.

Acara ini merupakan kerjasama penulis dengan KOPISISA (Kelompok Peminat Seni Sastra) Purworejo. Acara diskusi dimoderatori oleh Junaedi Setiyono, sastrawan yang kini tinggal di Purworejo dan menjadi dosen di Universitas Muhammadiyah Purworejo. Termasuk penulis yang kerap memenangi lomba sastra. Mulai menulis cerita pendek sejak tahun 1986, kemudian juga menulis puisi. Novel pertamanya Glonggong menjadi pemenang Sayembara Menulis Novel Dewan Kesenian Jakarta 2006 dan sekaligus masuk finalis Khatulistiwa Literary Award 2008. Novel keduanya, Arumdalu, menjadi nominee Khatulistiwa Literary Award 2010. Pada 2012, novel ketiganya, Dasamuka, kembali menjadi pemenang di ajang Sayembara Menulis Novel Dewan Kesenian Jakarta.

Pembahas buku Sajak Sajak Sunyi adalah Soekoso DM. Ia penyair kelahiran Purworejo  tahun 1949. Pemerhati masalah sosial-budaya, yang juga mantan PNS merupakan  pegiat KOPISISA Purworejo bersama Maskun Artha dkk.. Menulis puisi & geguritan sejak 1970, terpublikasi di media cetak regional/nasional (1970-2015an), antologi puisi tunggalnya Kutangkutang (1979), Bidakbidak Tergusur (1987), Waswaswaswas, Was! (1996), Sajaksajak Tanah Haram (2004) dan Decak dan Derak (2014).

Yang hadir dalam acara ini termasuk sangat banyak untuk acara sastra di Purworejo, sekitar 80 orang lebih yang mengikuti acara diskusi ini. Ada beberapa penyair/sastrawan Purworejo yaitu Atas Danusubroto (sastrawan yang dulu pernah bergiat di Persada Studi Klub Yogyakarta bersama Presiden Penyair Malioboro Umbu Landu Paranggi), Dulrokhim (beberapa kali memenangkan lomba cipta cerpen atau buku kumpulan cerpen),Supardi AR, dan lain-lain. Juga hadir beberapa mahasiswa dan guru dari wilayah Purworejo. Termasuk beberapa teman SMP seangkatan Budhi Setyawan yang sebagian besar selama 32 tahun tidak bertemu, karena setelah lulus tahun 1985 dari SMPN Bener (sekarang SMPN 19 Purworejo), masing-masing melanjutkan ke sekolah yang banyak berbeda satu dengan lainnya.

Dalam acara diskusi, juga diselingi dengan baca puisi yang diambil dari buku Sajak Sajak Sunyi oleh beberapa wanita yang semuanya masih anak sekolah. Untuk latihan keberanian dan memupuk semangat cinta puisi kepada generasi muda, kegiatan baca puisi ini sangat penting dilakukan dan menjadi bagian dari apresiasi terhadap buku Sajak Sajak Sunyi. Dalam sesi diskusi,muncul berbagai pertanyaan dari peserta diskusi. Beberapa pertanyaan yang mengemuka antara lain bagaimana menulis puisi agar cepat bagus, bagaimana bersaing dalam berkarya dengan penyair yang sudah mapan/ punya nama, bagaimana cara baca puisi yang sangat baik, bagaimana memotivasi agar tetap menulis.

Kemudian ada pertanyaan dari guru bahasa Indonesia yang mempertanyakan bagaimana tafsir terhadap puisi, karena dalam soal ujian nasional muncul pertanyaan mengenai maksud sebuah puisi dengan adanya pilihan ganda. Ini yang sulit dalam pelaksanaannya karena puisi yang merupakan karya dengan permainan diksi,majas, dll sehingga menjadi karya yang ambigu dan multitafsir, diminta untuk ditafsir secara tunggal atau monotafsir. Bisa jadi pembuat soal ujian yang memuat pertanyaan tentang puisi tidak paham benar tentang puisi. Menurut saya, hal ini mesti dicarikan jalan keluar yang memadai.

Ada juga yang menanyakan mengenai makna puisi di dalam buku Sajak Sajak Sunyi, yang bisa jadi pembaca merasa bahwa menikmati puisi itu harus sampai pada makna yang sama dengan yang diinginkan penyairnya. Saya tidak sepenuhnya mengetahui alasan mengapa bisa jadi muncul seperti ini, mungkin karena kehidupan kekinian yang makin rigid dan kaku sehingga menggiring pola pikir menuju keseragaman. Padahal dalam kesenian tetap ada ruang bagi perbedaan dan kemungkinan lain yang menjadikan sastra makin bervariasi dan berwarna.

Acara diskusi ini selesai sekitar pukul 12 siang, dan ternyata buku Sajak Sajak Sunyi yang ditaruh di meja daftar kehadiran telah terjual semua. Bahkan ada yang ingin membeli, tetapi karena sudah tidak tersedia di meja panitia dianggap habis, padahal masih ada persediaan yang dibawa penulisnya dan tidak sempat dikomunikasikan kepada panitia.

Secara umum diskusi buku Sajak Sajak Sunyi berlangsung meriah dan tidak monoton, dengan banyaknya penanya, dan pembahas maupun moderator tidak mengarahlan atau menggiring hadirin pada alamat tertentu dari puisi-puisi dalam buku S3 tersebut. Bahkan pembahas juga tidak menyimpulkan tentang apa yang ditulisnya, moderator tidak menyimpulkan hasil diskusi, tetapi acara tersebut tetap menjadi penting untuk silaturahmi dan komunikasi di antara penulis, terutama warga KOPISISA sehingga terus menyala semangat untuk terus berkarya dan berkarya.

Purworejo, 3 September 2017

Tentang budhisetyawan

Seorang yang suka musik dan sastra.
Pos ini dipublikasikan di Kabar & Silaturrahmi 1. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s