SAJAK-SAJAK SUNYI KARYA BUDHI SETYAWAN: PUISI KONTEMPLATIF YANG MERAMBATI NADI RASA

Oleh

Novi Indrastuti*

 

  1. PENGANTAR

Antologi puisi “Sajak-Sajak Sunyi”, yang selanjutnya disingkat S3, dapat dikategorisasikan sebagai puisi kontemplatif.  Puisi pertama hingga terakhir dari kumpulan sajak ini membangkitkan atau memantik kontemplasi bagi para pembaca.  Dalam kontemplasi tersebut diperlukan suasana yang sunyi, hening, wening, dan sepi sehingga saripati makna puisi bisa terserap dan merambati nadi rasa. Hal tersebut sesuai dengan tajuk puisi ini “Sajak-Sajak Sunyi”.  Membaca puisi ini serasa duduk di bibir pantai dalam kesendirian ditemani semilir angin laut, melaksanakan laku perjalanan rasa, dan di penghujung perjalanan menemukan kedamaian rasa karena mendekatkan diri kepada Sang Khalik.

  1. TEMA DAN MAKNA RELIGIUS YANG ISLAMI: SEBUAH UPAYA PENYADARAN

Pada umumnya puisi-puisi religius merupakan puisi kontemplatif.  Untuk menemukan tema yang mememayungi sajak-sajak dalam antologi ini tidak diperlukan waktu yang lama karena tema religius Islami ini secara eksplisit ditandai dengan kosakata yang terkait dengan agama Islam yang banyak bertaburan dalam sajak-sajak S3 ini, misalnya sujud, tahajud, sajadah, ramadan, lebaran, wirid, zikir, dan sebagainya. Topik-topik sajak di dalam kumpulan puisi ini sangat berdekatan satu sama lain, yang intinya adalah “Sesungguhnya kami adalah kepunyaan Allah dan kepada Allah jugalah kami kembali (Al Baqarah: 156).

Sajak-sajak dalam antologi puisi S3 ini juga mengingatkan pada salah satu konsep kearifan lokal Jawa dalam Islam, yakni “Sangkan Paraning Dumadi”Sangkan berarti asal, paran adalah tujuan atau destinasi, dan dumadi adalah kejadian.  Jadi, kalau dimaknai secara keseluruhan adalah dari mana manusia berasal dan ke mana manusia akan kembali.  Kalau dikaitkan dengan Islam, berarti asal mula manusia dari Allah dan akan kembali kepada Allah.  Inilah inti dari “innalillahi wa inailaihi rajiun”. Konsep tersebut tampak dalam sajak “Jalan Doa”, “Narasi Segugus Awan”, “Digilir Sepi”,  “Pengembaraanku”, dan “Nubuat Pencarian”.  Sejauh-jauhnya menempuh perjalanan hidup yang panjang dan berliku-liku pada akhirnya muaranya kepada Allah SWT.

Sebagian besar sajak-sajak dalam S3 mengungkapkan kerinduan kepada Sang Pencipta, seperti dalam sajak “Rindu Ini”, “Pohon Sunyi”, “Makrifat Pencarian”, “Risalah Sujud”, “Latisan”, “Syahid Rindu”, “Perindu Malam”, “Pengembaraanku”, “Malam Kering”, “Rakaat Kerinduan Padamu”, “Memuja”, “Harakat Sepi”,dan sebagainya.Obat penawar rindu paling mujarab adalah doa.  Oleh karena itu, selain kerinduan, pentingnya doa kepada Sang Pencipta sebagai bekal dan penyelamat hidup juga tampak mendominasi sajak-sajak dalam S3, misalnya sajak “Doa” (“akhirnya hanya kepada doa/kita kembali menaruh isi dada dan kepala/karena doa adalah juru selamat semesta”); “Teduh Doa” (‘dan pada doa kutitipkan gugusan air mata/berharap kelak menjadi rumah/yang teduh bagi keasingan usia”); “Doa di Bawah Hujan”; “Memandang Jalanan”; “Kamar Altar”(“ialah yang menentramkan malam dengan rahasia doa”); “Tentang Doa” (“adalah doa yang menegakkan badan /dalam melanglang ke segala ranah rasian”), dan sebagainya.

Sajak-sajak dalam S3 juga dipenuhi dengan hasrat yang menggebu untuk laku rohani dalam upaya pencarian jalan untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.  Hal tersebut tampak dalam sajak-sajak berikut ini

maka aku terus menjelajah mencarimu

lewat pilar pilar waktu

(“Harakat Sepi”, Setyawan, 2017)

 

seperti musafir lama

aku menempuh petualangan usiaku tanpa peta

dalam lumuran kabut dan temaram cuaca

hanya berbekal bara keyakinan di rimbun sekam pencarian

(“Rakaat Kerinduan Padamu”, Setyawan, 2017)

 

dalam desak gelebah

tentang yang menunas dalam fikrah

atau seri muka yang terbit dari tingkap tualang

betapa derap perjalanan

serupa rakaat pencarian

yang selalu berulang

(“Repetisi Pencarian”, Setyawan, 2017)

Dalam sajak-sajak tersebut di atas tampak bahwa petualangan rohani dalam rangka pencarian jalan Allah SWT tersebut tidak cukup hanya dilakukan sekali saja, tetapi terus-menerus dilakukan secara intens selama manusia menjalani kehidupan di dunia yang penuh dengan kefanaan ini.

 

  1. DIKSI YANG ESTETIS: SARANA PENGUATAN PENYAMPAIAN PESAN

Kekuatan diksi yang estetis berperan besar dalam kumpulan sajak S3.  Kekuatan diksi di sini berfungsi untuk penguatan dalam penyampaian pesan.  Beberapa kata kunci (keywords) bisa disebutkan di sini, yakni  doa, malam, fana, dan sunyi  dengan segala sinonimnya (sepi, senyap, hening).  Doa pada  malam hari dalam keadaan sunyi sebaiknya selalu dilakukan sebagai penawar rindu kepada Sang Pencipta, bekal hidup, dan jalan terbaik dalam menghadapi kefanaan dunia.

Pilihan kata-kata yang indah dengan padu padan bunyi  dalam S3 hadir dan mengalir (meminjam istilah Rendra)  sehingga mampu  menjadi ada yang tiada (meminjam istilah Sujiwo Tejo).  Kata-kata yang digunakan sanggup menciptakan suasana tertentu yang membangkitkan kontemplasi dalam diri pembaca.  Pembaca seolah-olah diajak untuk menikmati perjalanan rasa sembari penyair melakukan penyadaran tanpa ada kesan memaksa.  Kumpulan sajak S3 ini tampaknya memang dibuat atas dasar kesadaran dan keyakinan akan besarnya manfaat puisi bagi para pembacanya (dulce utile: menyenangkan dan berguna).  Penyair tampak sangat selektif dalam pemilihan kata sehingga sajak-sajaknya sangat terjaga ritmenya, tidak “meledak-ledak” meskipun tetap persuasif.  Melalui sajak-sajaknya penyair berdakwah dengan cara yang indah.  Ada keindahan sekaligus pesan yang dapat dijalarkan dan dirasakan lewat kata-katanya. Suasana khusus yang khusuk juga dihadirkan melalui kata-kata yang berirama karena adanya ulangan bunyi, seperti tampak dalam sajak “Jalan Doa” (duri nyeri), “Antologi Sepi” (zikir mengalir), dan sebagainya.

Dalam antologi puisi S3 ini juga tampak adanya kecenderungan penggunaan gaya antitesis dalam pemilihan kata-katanya, contohnya sajak “Bait Keakuan” (dari senja ke pagi), “Narasi Segugus Awan” (kehadiran dan kepulangan; kesementaraan dan keabadian), “Pada Dada” (surga dan neraka), “Menggulung Jarak” (bumi langit) dan sebagainya.  Penggunaan antitesis di sini berfungsi untuk memperjelas gambaran yang ingin disampaikan dan menguatkan intensitas rasa.

 

  1. IMAJI ALAM YANG PERSONIFIKATIF: GAMBARAN ANGAN MENJADI LEBIH HIDUP

Dalam antologi puisi S3 juga banyak dipergunakan imaji-imaji alam yang berkombinasi dengan personifikasi.  Contoh-contohnya sebagai berikut.

cahaya musim berkelindan di lingkar sekitar

menyusupkan bulan dan matahari ke pori tubuhku

menjelmakan keriaan alam, kesegaran daun-daun berembun

seekor capung berkali kali menyentuhkan ekornya ke muka kolam

lalu suara kelelawar menandai ranum buah buahan di pepohonan

serta sahutan sekumpulan katak dari ceruk persembunyiannya

hingga kemudian gerimis tumbuh

memercikkan getar rindu bertempias

(“Tafakur Sebutir Debu”, Setyawan,  2017)

 

 

malam menyerpih ke tingkap tirai kesepian

bulan merangkak di langit, keletihan dalam pikiran

angin pun tertatih menyeret luka kenangan

yang telah memenuhi kebun dan jalanan

(“Ingatan Mimpi”, Setyawan, 2017)

 

Kombinasi imaji-imaji alam dengan personifikasi yang menciptakan citra gerak membuat gambaran yang dikemukakan dalam sajak-sajak tersebut menjadi lebih hidup dan lebih mudah dibayangkan sehingga lebih mudah dipahami.

 

  1. LITOTES YANG METAFORIS: MEMPERJELAS IMAJI

Dalam kumpulan sajak S3 ini manusia diposisikan sebagai seorang hamba di hadapan Sang Pencipta.  Dengan demikian, dalam rangka memperjelas gambaran tersebut banyak digunakangaya  litotes yang bersinergi dengan metafora, seperti tampak dalam keseluruhan sajak-sajak  berikut ini.

kita hanyalah uap

dari didih golak

 

kita hanyalah bayang

dari dunia lakon

 

kita hanyalah gema

dari alun kidung

 

kita hanyalah sekumpulan

uap, bayang dan gema

yang tersesat berabad-abad

ke ranah kilau fana

(“Kita Hanya”, Setyawan, 2017)

kita adalah tubuh tipis berlapis

yang tersusun dari sekumpulan angan

(“Narasi Segugus Awan”, Setyawan, 2017)

Fenomena lain yang menarik berkait dengan metafora adalah adanya metafora baru yang dibentuk dengan metode seperti metafora mati (dead metaphor) yang cukup banyak digunakan dalam antologi puisi S3 ini, misalnya telinga langit (“Sembahyang Sunyi”), dada langit (“Pohon Sunyi”),  jemari batin (“Latisan”), dan sebagainya.

 

  1. ALEGORI YANG PERSUASIF: MENASIHATI TANPA HARUS MENGGURUI

Sajak-sajak yang terhimpun dalam S3, meskipun mengemukakan topik yang sama, diekspresikan dengan metode yang cukup variatif, antara lain dengan memanfaatkan sarana kepuitisan berupa majas alegori.  Alegori adalah cerita kiasan.  Alegori biasanya dikemas dalam bentuk cerita sehingga meski di dalamnya terkandung pesan berupa nasihat tidak ada kesan menggurui pembacanya.  Dengan demikian, nasihat yang disampaikan justru lebih bisa meresap ke dalam pikiran dan jiwa pembacanya.   Contoh sajak alegoris dalam S3, antara lain “Sajak Kayu Bakar”, “Narasi Segugus Awan”, “Riwayat Pendaki”, dan sebagainya.

 

  1. PENUTUP

Kadang-kadang kekuatan diksi yang merupakan nilai lebih dalam kumpulan sajak S3 ini, sedikit terganggu dengan adanya penggunaan kata-kata yang kurang populer, seperti latisan (sajak“Latisan”), merawikan (sajak “Di Kedaimu”), lawah (sajak “HudHud”), takwil dan gawal (sajak “Ingatan Mimpi”), gelebah dan fikrah (sajak “Repetisi Pencarian”), laung (sajak “Dari Sir sampai Tajan), tubir mata (sajak “Bait Keakuan”).

Tema yang dicanangkan akan lebih baik apabila tidak  terlalu sempit. Tema yang terlalu sempit bisa menyebabkan  terjadinya pengulangan-pengulangan topik yang disampaikan dengan kata-kata, cara, dan gaya yang berbeda, tetapi pada intinya pesan yang disampaikan hampir sama.  Hal tersebut bisa menimbulkan kebosanan atau kejenuhan dalam diri pembaca karena topik-topik yang disajikan hanya berputar-putar serupa pengulangan.  Kemungkinan akan lebih baik apabila tema diperluas atau tema besar yang terefleksi dalam judul di-breakdown atau diperinci lagi ke dalam beberapa bab.  Masing-masing bab dengan topik yang berbeda meski masih berkaitan. Hal tersebut dilakukan sebagai upaya antisipatif terhadap terjadinya pengulangan. Dua bab yang disajikan dalam antologi puisi ini, yakni “Ruang Sunyi” dan “Waktu Sunyi” batas pembedanya sangat tipis sehingga memungkinkan terjadinya ketumpangtindihan.

Di lain pihak,  bagi pembaca kritis, pengulangan-pengulangan tersebut justru dapat difungsikan sebagai media pendalaman materi untuk optimalisasi kontemplasi dan pemahaman penuh akan makna puisi.  Bagaimanapun juga kumpulan sajak ini menginspirasi dan layak mendapatkan apresiasi. Karya ini juga merupakan bukti yang menunjukkan bahwa menjadi penyair bukanlah monopoli dan hegemoni “orang-orang yang berlatar belakang pendidikan sastra”.  Beberapa sajak dalam antologi puisi ini sanggup merambati nadi rasa hingga membuat jiwa tergetar, di antaranya “Pohon Sunyi”, “Riwayat Pendaki”, “Rakaat Kerinduan Padamu”, “Syahid Rindu”, Tafakur Sebutir Debu”, dan “Repetisi Pencarian”. Akhirnya, semoga antologi puisi S3 ini bisa bermanfaat bagi khalayak pembaca.

 

SUMBER BACAAN

Setyawan, Budhi.  2017.  Sajak-Sajak Sunyi.  Yogyakarta: Pustaka Senja.

(makalah tersebut di atas disampaikan di dalam diskusi buku Sajak Sajak Sunyi di Aula Gedung C Lantai 3 Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjahmada (FIB UGM) Yogyakarta pada hari Rabu, 6 September 2017 pukul 14.00 – 16.00 WIB, dengan moderator Essa Rosie, mahasiswi FIB UGM)

 

*)Novi Indrastuti, secara lengkapnya Dr. Novi Siti Kussuji Indrastuti, M.Hum. Lahir di Yogyakarta pada 5 November 1968.  Novi, demikian panggilan akrabnya, sehari-harinya mengabdikan diri sebagai pengajar pada Program Studi Sastra Indonesia dan Program Studi bahasa Korea, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada

Novi memperoleh gelar sarjana (S-1) dari Fakultas Sastra UGM dan menyelesaikan S-2nya pada Program Pascasarjana, Universitas Gadjah Mada.  Gelar Doktor (S-3) dalam bidang bahasa dan sastra diraihnya dari Kyungnam University, Korea Selatan pada 2008. Doktor sastra lulusan Korea ini sudah sejak lama berkecimpung dalam jagat perpuisian.  Karya kreatifnya berupa antologi puisi fotografi bertajuk “Di Balik Lensa Kata” yang dipublikasikan dalam bentuk cetak maupun online mendapat sambutan yang hangat dari masyarakat penikmat sastra dan mendapat dukungan dari Badan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia. Antologi puisi fotografinya yang terbaru berjudul “Bingkai Kehidupan”.

Sebagian besar karya ilmiah yang ditulis oleh penyair yang sehari-harinya adalah dosen Fakultas Ilmu Budaya UGM ini selalu bersentuhan dengan dunia puisi. November tahun 2016 dia mempresentasikan makalahnya tentang “Citra Positif Perempuan dalam Puisi Indonesia Modern: Relasi Feminisme dan Pragmatik” di University of London, Inggris.  Pada September 2017 Novi memberi kuliah umum di Hamburgh University, Jerman tentang “Posisi Perempuan dan Relasinya dengan Tokoh Lain dalam Puisi Indonesia Modern”.  Mata kuliah yang diampunya di FIB UGM, yakni “Teori Puisi” secara langsung juga memiliki relasi dengan puisi.

Novi Indrastuti  juga sering diminta untuk membaca puisi, baik di dalam maupun di luar negeri.  Karena kecintaannya pada puisi, dia pun bertekad mengembangkan dan memperkenalkan puisi Indonesia di mata dunia maupun di tanah air tercinta.  Pada Agustus 2017 yang baru lalu selain memberikan kuliah umum tentang sastra lisan di Indonesia, Novi juga diminta untuk membacakan sajak-sajak karyanya sendiri di Fathoni University dan Prince of Songkla University, Thailand Selatan.

Selain mengajar sebagai dosen tetap di UGM, di kampusnya Novi memiliki tugas tambahan.  Novi pernah menjabat sebagai Kepala Pusat Studi Korea Universitas Gadjah Mada pada 2008—2013, Selanjutnya, dia diangkat sebagai Kepala Bagian Pelayanan Masyarakat dan DERU (Disaster Response Unit) LPPM-UGM pada 2013—2015.  Sejak 2015 hingga sekarang ini dia menjabat sebagai Sekretaris Direktorat Pengabdian kepada Masyarakat UGM.

Beberapa karyanya yang telah dipublikasikan, antara lain “Kepercayaan Tradisional Masyarakat Korea” (2009), Mengasah Keterampilan Berwicara (2013), Percakapan Sehari-hari dalam Bahasa Korea (2009), Kamus saku Korea Indonesia, Indonesia-Korea(2011), Panduan Praktis Penulisan Karya Ilmiah dalam Bahasa Indonesia(2014), Mengenal Sastra Korea (2013), Superioritas dan Inferioritas Perempuan dalam Sastra Indonesia (2016), “Nilai-Nilai Moral dalam Cerita Rakyat Korea”(2017),Antologi Puisi Fotografi Di Balik Lensa Kata (2017), Antologi Puisi Fotografi Bingkai Kehidupan (2017), dan sebagainya.

Tentang budhisetyawan

Seorang yang suka musik dan sastra.
Pos ini dipublikasikan di Esai 1. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s