SUNYI ITU BERNAMA RUANG DAN WAKTU

Catatan  Latief S. Nugraha

 

Membaca karya Budhi Setyawan Penyair Purworejo dalam antologi Sajak Sajak Sunyi, kita akan terlibat ke dalam rasa takut yang akut menghadapi dan menghidupi kehidupan. Tersirat dan tersurat suatu permenungan bahwa posisi manusia di tubir alam semesta ini hanyalah makhluk yang tak berdaya. Tuhan adalah pusat.

Demikianlah, ketika manusia dihadapkan dengan Tuhan, maka semua teori akan gugur berantakan. Kita akan merasa gamang sekaligus menang sebagai makhluk. Gamang karena setiap langkah kita akan meninggalkan pertanyaan, “sesungguhnya untuk apa kita hidup di dunia ini?” Menang karena manusia dibekali dengan perasaan dan akal sehat sehingga bisa menimbang-nimbang langkah demi langkah yang akan ditempuhnya.

Ada dua bagian dalam antologi ini, Ruang Sunyi dan Waktu Sunyi. Entah mengapa ruang dan waktu dipisah oleh Budhi Setyawan. Sementara perbedaan ruang dan waktu itu sungguh tipis adanya. Sungguh, untuk membahas hal ini akan membutuhkan ruang dan waktu tersendiri dan benar adanya akan melahirkan telaah yang tak usai-usai dibahas. Baiklah kalau begitu, kita tidak perlu suntuk untuk memikirkan perkara itu. Mari langsung saja kita baca, cermati, renungi karya Budhi Setyawan dalam antologi Sajak Sajak Sunyi ini.

Puisi-puisi dalam antologi ini berjumlah 72 biji. Buku ini adalah antologi puisi Budhi Setyawan yang keempat setelah 10 tahun silam membukukan puisi-puisinya dengan tajuk Sukma Silam. Sementara dua buku pertama dan keduanya, yakni Kepak Sayap Jiwa dan Penyadaran terbit pada tahun yang sama, yakni 2006. Diakui bahwa pada ketiga buku yang lahir sebelum Sajak Sajak Sunyi dianggapnya sebagai kartu nama bagi Budhi Setyawan sebagai seorang penyair. Oleh karenanya dalam ketiga buku tersebut, Budhi Setyawan belum melakukan pendekatan khusus, karena harapan utamanya adalah buku dapat segera terbit. Sayang sekali saya belum membaca ketiga buku itu, sehingga tidak bisa menilai sesungguhnya nilai seperti apa yang diperjuangkan oleh Budhi Setyawan sebelum kelahiran Sajak Sajak Sunyi ini.

Tidak kurang akal, saya pun kembali membaca puisi-puisi Budhi Setyawan yang terbit di Majalah Sastra Horison, Indopos, dan sejumlah media online. Saya pun sadar bahwa Budhi Setyawan benar-benar seorang penyair yang mampu mendayagunakan setiap momen puitis menjadi puisi. Dan, kali ini kita disuguhi semesta kesunyian secara personal diri Budhi Setyawan melalui puisi.

Puisi-puisi dalam antologi ini bertiti mangsa tahun 2014 hingga 2017. Hal ini menunjukkan betapa Budhi Setyawan amat sangat produktif melahirkan puisi. Namun, seperti telah disampaikan bahwa pada tahun 2006 Budhi Setyawan bahkan menerbitkan dua buah buku sekaligus. Selanjutnya terbit tahun 2007. Artinya, ada puisi-puisi kisaran tahun 2008 sampai tahun 2013 yang belum terbukukan. Sementara yang saya ketahui secara pribadi, tokoh kita ini amat sangat produktif, puisinya sering dipublikasikan di media massa dan terdokumentasi bersama karya para penyair Indonesia lainnya dalam sejumlah buku antologi puisi. Sejumlah perlombaan sastra pun pernah menganugerahkan gelar juara kepadanya. Hal tersebut tentu saja penting untuk dicatat dalam perjalanan kepenyairan yang jika dihitung lebih kurang sudah 28 tahun sejak kemunculannya sebagai penyair di tahun 1989.

Melalui Sajak Sajak Sunyi agaknya Budhi Setyawan tengah mencoba “menepi” dari keriuhan eksistensi dan memilih jalan sunyi, yakni esensi. Ia kembali menimbang-nimbang bagaimana puisi hadir sebagai inti, sebagai sebuah perwujudan perasaan seorang manusia. Barangkali kesunyian sebagaimana disebut-sebut adalah dunia bagi para penyair. Budhi Setyawan menuliskan hal itu dalam puisi. Penyair, puisi, dan kesunyian menyatu dan tak terpisahkan. Demikianlah renungan seorang Budhi Setyawan Penyair Purworejo.

Sebagai sebuah usaha pendokumentasian karya dalam rentang waktu tertentu, perlu saya sampaikan bahwa Budhi Setyawan mempunyai ketahanan yang luar biasa. Dalam waktu lama mampu bertahan dalam sajak-sajak sunyi yang lahir menjadi Sajak Sajak Sunyi ini. Saya kira ini hanya sebagian kecil dari puisi-puisi yang ditulisnya dalam rentang waktu tersebut. Tentu masih ada puisi-puisi yang barangkali berada di luar tema kesunyian dalam antologi ini. 72 biji puisi ini hanyalah puisi-puisi yang memiliki kedekatan tema sehingga pembaca buku ini tidak akan kecapaian meloncat-loncat dari puisi dengan tema yang berbeda-beda dalam satu buku. Risikonya adalah bisa saja pembaca akan merasa bosan karena merasa menemukan satu pokok yang sama dalam sepuluh puisi dengan judul yang berbeda dan dengan bahasa ungkapan yang berbeda pula.

Secara eksplisit sebagian besar Sajak Sajak Sunyi menyampaikan kegelisahan personal seorang Budhi Setyawan dengan berbagai sudut pandang. Seperti apa kegelisahan itu? Ada baiknya kita simak beberapa puisi berikut ini.

 

Di Atas Kata

 

engkau yang kubayangkan terbang

atau memang penghuni awang awang

kucari lewat zikir dan sembahyang

kukejar dengan kasidah dan dendang

 

sedangkan diri masih di bawah duga

melumur umur dengan prasangka

namun waktu tabah merawat sasmita

malam sajikan epilog hari fana

 

nadi yang merambati gunungan doa

menafsir lirih suara di sunyi dada

dengan setapak kecil menuju kerlip lentera

tak khatam jua menguak himpunan rahasia

 

Bekasi, 2014

 

Bernaung

 

angin sore mengarak mega ke bukit bukit

segerombolan kelelawar terbang menembus langit

pandangku menadah sepi ke hamparan ketinggian

di ufuk barat lazuardi, senja pun berangkat perlahan

 

kini aku kian jauh dari teduh sapa dan masa kecil

dunia menua ungsikan riwayat nurani lindap terkucil

terkenang gema nyaring suara anak anak riang mengaji

dan kerlip lampu minyak terangi ayat ayat pijarkan diri

 

lalu temaram cuaca beranjak menuju lipatan kelam

aku pun mengetuk pintu rahasia di napas malam

terhisap rabaan sukma oleh cahaya memutikkan bening

bernaung di bawah ranum doa, kucari degupnya dalam hening

 

Bogor, 2014

 

Hudhud

 

1/

sungguh, aku serupa berhutang jika berdiam

karena sayap sayapku yang terlumur sabdamu

senantiasa dalam keriaan tak berbatas

mengepakkan bening titahmu pada semesta

 

2/

paduka, telah sesenja ini hamba menghadap

karena ada gulungan waktu memberati jambul

yang berisi ranah berkilau

kerajaan bersinggasana kecemasan

bermenara kegelisahan

dan bersemayam di pucuk tampuknya

perempuan bermata hikmah

yang berjalan dalam selimut kabut

mencari kiblat napasnya, dan

hakikat perih sunyinya

maka, izinkan hamba bawa surat paduka

untuk hamba sampaikan kepadanya

agar terbuka tempurung pandang

kepada mekar lawah cakrawala

dan undakan saf saf langit

dengan kesaksian awan dan angin

yang menderas dalam darah,

hingga mengekalkan keyakinan

 

3/

maka,

di sela bisik reranting dan percakapan dedaunan

di antara ricik sungai dan gemuruh laut

kurukukkan batinku

saat uluran syahadat paduka

menyulut kesadaran matahari di jantung balqis

hingga berlepasan tingkap antariksa

lalu benderang abad abad

menjelma kulminasi cahaya

yang mengilhami derana rindu,

dan terus berdegup nyala di masa kemudian

 

Jakarta, 2014

 

Demikianlah, penyair menghadirkan momen puitis itu, lantas menjadikannya sebagai kaca benggala. Seperti berada di ambang yang gamang dan terbelah ia memaknai kehidupan. Budhi Setyawan menyadari itu. Melalui kaca mata plus kehadiran diri sebagai personal di jalan sunyi dengan dunia di luar yang hingar-bingar hadir dalam sikap berserah pasrah dalam konsep ilahiah. Ada ketegangan yang terjadi antara diri dengan situasi di sekeliling dan membentuk keberadaannya.

Dari tiga puisi itu tampak bahwa personal penyair hadir dalam kata-kata berupa deskripsi wujud, suasana hati, suasana alam, kesan, dan orientasi yang hadir dalam reka ulang kenyataan yang ada. Hal yang perlu disadari bersama, puisi adalah pokok, inti sari dari semesta pengetahuan di dunia ini. Oleh karenanya, hendaklah puisi itu mengongkretkan sesuatu hal yang abstrak, bukan malah mengabstrakkan hal-hal yang sudah konkret.

Banguntapan, 6 September 2017

 

LATIEF S. NUGRAHA, lahir Rabu Pahing, 6 September 1989 di Gebang, Sidoharjo, Samigaluh, Kulon Progo, DIY. Alumnus Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, UAD dan Program Pascasarjana Ilmu Sastra, UGM. Menyusun dan menyunting buku Tiga Belas (2013), Pawestren (2013), Lintang Panjer Wengi di Langit Yogya (2014), Sesotya Prabangkara ing Langit Ngayogya (2014), Bolak-balik Bulaksumur (2014), Astana Kastawa (2014), Astana Kastawa II (2015), Ngelmu Iku Kelakone kanthi Laku (2016), Njajah Desa Milang Kori (2017), dan beberapa buku lainnya. Bergiat di Studio Pertunjukan Sastra dan Balai Bahasa DIY. Antologi puisi tunggalnya Menoreh Rumah Terpendam.

(Ulasan tersebut di atas disampaikan pada acara Diskusi Buku Sajak Sajak Sunyi di Aula 2 Kampus Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta, pada hari Rabu 6 September 2017)

 

 

 

Tentang budhisetyawan

Seorang yang suka musik dan sastra.
Pos ini dipublikasikan di Esai 1. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s