DISKUSI SAJAK SAJAK SUNYI DI PADANG

Diskusi secara santai buku Sajak Sajak Sunyi diadakan di kota Padang, Sumatera Barat. Acara ini dilakukan pada hari Rabu 11 Oktober 2017 mulai pukul 20.00 s.d 23.00 WIB di sebuah kedai kopi yaitu Kubik Coffie, Jln. Olo Ladang No.12, Olo, kota Padang. Acara ini diselenggarakan ketika penyair Budhi Setyawan sedang berada di kota Padang, dalam rangka tugas dinas kunjungan selama beberapa hari di Padang. Sebelum ke Padang, Budhi Setyawan menghubungi beberapa teman di Padang, salah satunya Denni Meilizon.

Acara diskusi ini dimuat dalam lembar Budaya koran HALUAN Padang edisi Minggu 15 Oktober 2017, yang artikel tersebut disiapkan oleh penyair Denni Meilizon yang merupakan Tim Redaksi Budaya Haluan Padang. Berikut tulisan di dalam lembar Budaya di koran Haluan halaman 11.

Diskusi Sajak-Sajak Sunyi,

Merayakan Persahabatan di Tengah Derai Hujan

 

Laporan: Denni Meilizon (Tim Redaksi Budaya Haluan Padang)

 

Hujan telah mengguyur kota  Padang sejak beberapa hari ini. Jika ia tumpah pada malam hari maka bisa saja redanya keesokan hari. Hujan turun tidak menentu. Kadang pagi, setelah itu cerah sampai sore lalu mengiringi azan magrib ia mencurah tiba-tiba dari langit. Jika sore turun, intensitas hujan akan berlangsung sampai dini hari. Malahan pernah hampir dua hari, matahari tertutup awan kelabu dengan hawa dingin nan basah meruyak. Namun, turunnya hujan bagi warga kota merupakan hal yang lumrah. Walaupun akibat hujan, jalanan bakal digenangi air jadi banjir tentu saja aktifitas sehari-hari harus terus dijalani. Hujan sudah sekian lama telah menjadi gagasan manusia untuk mencipta. Ia disukai sekaligus dibenci, seperti cinta.

Jika sudah cinta maka hujan turun, turunlah. Bukan suatu kendala benar jika pada hari Rabu (11/10) yang lalu, Bertempat di Kubik Koffie Padang digelar sebuah acara sederhana bertajuk Jumpa Sahabat dan Diskusi Buku Puisi Sajak-Sajak Sunyi karya Penyair Budhi Setyawan. Bulan Juni 2017, Penerbit Pustaka Senja bersama Forum Sastra Bekasi meluncurkan buku puisi keempat Penyair yang juga menggandrungi musik cadas dan jazz garis keras tersebut.

Penyair kelahiran Purworejo Jawa Tengah 48 tahun silam ini merupakan penggagas serta pengelola komunitas Forum Sastra Bekasi.  Ia aktif berkegiatan di Paguyuban  Sastra Rabu Malam (Pasar Malam) dengan kegiatan fenomenal  kegiatan bulanan Sastra Reboan di Bulungan Jakarta Selatan. Beberapa sastrawan dan budayawan nasional acap tampil di Bulungan, sejak awal kegiatan tersebut digelar. Mungkin, konsep Sastra Reboan bisa saja diterapkan pegiat seni, sastra dan budaya terutama di Kota Padang.

Hadir dalam acara bertajuk Jumpa Sahabat dan Diskusi Buku Puisi Sajak-Sajak Sunyi karya Penyair Budhi Setyawan pada Rabu malam itu para pegiat seni, sastra dan budaya antara lain Syarifuddin Arifin, Indra Nara Persada, Nasrul Azwar, Alizar Tanjung, Hermawan An, Endut Achadiat, Asril Koto, Eddy MNS Soemanto, Maulidan Rahman, Muhammad Fadhli, Lismomon  Nata Sultan Kayo, dan lain-lain. Format acara memang digelar dalam suasana akrab, santai dan terkesan lepas. Apalagi suasana malam di kota Padang yang teramat basah, sehingga tidak cocok juga bila membicarakan sastra ditaja dalam bentuk formal dan serius. Namun, isi pembicaraan dalam diskusi lepas pada malam itu sesungguhnya amat kaya dan berbobot. Undangan yang hadir terdiri dari beragam pekerja lapangan sastra dan kesenian, memang. Sudut pandang dan pengalaman amat menentukan ketika memandang proses kepenyairan Budhi Setyawan yang dipersilakan oleh Denni Meilizon yang bertindak sebagai moderator untuk membuka kata pendahuluan.

Menurut penyair Indra Nara Persada, kumpulan puisi dalam buku Sajak-Sajak Sunyi mendekat kepada puisi relijius. Hal ini ditunjukkan oleh beberapa puisi yang memang secara sekilas terolah dengan baik. Sebutlah misalnya puisi Membaca Usia, Seperti Sujud Terakhir, Desir Keabadian, dan sebagainya. Sedangkan Syarifuddin Arifin yang agaknya orang yang cukup sering berjumpa dengan Mas Buset (panggilan akrab Budhi Setyawan) dalam berbagai perjalanan ke berbagai acara di pula Jawa terutama, menyebutkan jika dalam berbagai kesempatan pertemuan, sosok Buset ini terlihat pendiam dan lebih banyak menyimak. Namun, ternyata jika sudah berbincang lebih dekat penyair yang juga pegawai negeri di Kementerian Keuangan RI tersebut merupakan lawan diskusi yang enak. Paling menarik adalah apa yang disampaikan oleh penyair muda Maulidan Rahman Siregar terkait proses kepenyairan Buset dan puisi-puisinya selama beberapa tahun terakhir. Maulidan a.k.a Ucok seperti kita ketahui merupakan orang yang tergerak hati untuk mengarsipkan media cetak dan digital Sastra dan Budaya yang terbit hari Sabtu dan Minggu dari seluruh Indonesia. Ia juga rutin berbagi indeks informasi pemuatan karya melalui laman akun FB maupan blog pribadi. Khusus tentang Mas Buset, Ucok menyampaikan hasil pengamatannya sebagai pengarsip bahwa salah satu yang dia kagumi dari Buset adalah konsistensi dan ketegasan prinsip. Sebagai sesama penggemar musik, Ucok mengharapkan Mas Buset suatu saat bakal mengolah puisi-puisinya ke media musik, agar puisi lebih dekat kepada pembaca.

Hal lain yang cukup menjadi perdebatan antara lain terkait kemungkinan acara semacam sastra reboan yang kerap digelar di Bulungan Jakarta bisa dilaksanakan pula di Kota Padang. Kedatangan Mas Buset ke Kota Padang yang dikalangan sastrawan dikenal aktif di Sastra Reboan cukup menjadi pemancing guna mengetahui lebih dalam acara yang ditaja sebulan sekali saban Rabu malam itu.

Membicarakan puisi dalam buku Sajak Sajak Sunyi tersebut setidaknya kita bisa mengamati jejak kepenyairan seorang Budhi Setyawan. Terakhir kali ia menerbitkan buku puisi pada tahun 2007 (Sukma Silam). Selama satu dekade kemudian ia menjelajahi, mencoba, belajar dan merenungkan kata-kata yang terbentuk ke dalam puisi. Puisi adalah kata, prosa adalah kalimat, demikian pendapat Nasrul Azwar, seorang pengamat seni, sastra dan budaya Sumatera Barat. Penyair harus tampil dengan kredo-kredonya, puisi mestinya bisa menjadi katalisator. Jika tidak dapat mengubah apapun, setidaknya puisi ditulis dengan baik sesuai kaidahnya. Yang lebih penting sekali, karya sastra yang dimuat di media sudah saatnya diapresiasi dengan honorarium yang memadai, tambahnya.

Selain di kota Padang, oleh Komunitas Seni Kuflet di Padangpanjang pada Kamis, 12 Oktober 2017 malam hari juga mengadakan diskusi buku puisi Sajak Sajak Sunyi ini. Penggagas acara, Sulaiman Juned mengatakan jika acara tersebut diselenggarakan guna menyambut kedatangan penyair Budhi Setyawan, sahabat yang jarang bisa berkunjung ke Sumatera Barat sekaligus merayakan kelahiran buku puisi itu sendiri.  Bertempat di Komunitas Seni Kuflet Padangpanjang, Jln. A. Rivai no 146 Kampung Jambak, Padangpanjang, acara diskusi ini diisi oleh Pembicara Muhammad Subhan dan Saniman Andikafri dengan dimoderatori oleh Maya Sandita dan dihadiri oleh pegiat seni, sastra dan budaya di Padangpanjang serta mahasiswa ISI Padangpanjang.

&&&

Sebagai tambahan, selain yang ditulis Denni Meilizon di koran Haluan tersebut, bahwa diskusi juga kemudian melebar pada proses kreatif, kemunculan media online, penjualan buku sastra, minat baca masyarakat dan lain-lain. Bahkan teman-teman sastrawan di Padang mewacanakan (menggagas) adanya pertemuan sastrawan Sumatera Barat (yang elegan). Menurut saya hal ini penting untuk memetakan penggiat sastra di suatu daerah (baca: provinsi). Daerah lain mungkin ada yang sudah pernah menyelenggarakan kegiatan serupa, namun banyak provinsi bisa jadi ada provinsi yang belum pernah melaksanakan kegiatan seperti dimaksud.

Acara diskusi dengan terpaksa diusaikan pada pukul 23 lebih beberapa menit karena Kubik Coffie mestinya sudah tutup pada pukul 23.00 WIB. Kebiasaan seniman jika sudah bertemu maka pembicaraan menjadi berkepanjangan, dan semoga membawa semangat pada proses kreatif yang berkepanjangan juga.

Salam karya, Bekasi, 15 Oktober 2017

Budhi Setyawan

 

 

Tentang budhisetyawan

Seorang yang suka musik dan sastra.
Pos ini dipublikasikan di Kabar & Silaturrahmi 1. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s