DISKUSI SAJAK SAJAK SUNYI DI PADANGPANJANG

Komunitas Seni Kuflet di Padangpanjang, Sumatera Barat mengadakan diskusi buku puisi Sajak Sajak Sunyi karya Budhi Setyawan. Acara ini dapat diselenggarakan di Padangpanjang karena penyair Budhi Setyawan sedang berada di kota Padang, dalam rangka tugas dinas kunjungan selama beberapa hari di Padang. Acara diskusi buku diadakan pada hari Kamis, 12 Oktober 2017, dimulai pada pukul 19.00  WIB – selesai, bertempat di Komunitas Seni Kuflet Padangpanjang, Jln. A. Rivai no 146 Kampung Jambak, Padangpanjang.

Acara diskusi ini digagas oleh Sulaiman Juned, pengelola Komunitas Seni Kuflet Padangpanjang. Pembicara dalam acara ini adalah Muhammad Subhan dan Saniman Andikafri, dengan moderator Maya Sandita.

Muhammad Subhan, sebagai pembahas mengatakan bahwa baru membaca sekilas buku Sajak Sajak Sunyi karya Buset, karena untuk bisa khusyuk pada puisi-puisi diperlukan waktu dan ruang yang khusus. Subhan mengatakan, sesunyi apakah Sajak Sajak Sunyi tulisan Budhi Setyawan ini. Menurut ia, ada semacam kegelisahan sorang Buset pada sesuatu yang melingkupi diri, seperti nuansa ke-Ilahi-an, dengan ada beberapa kata yang dipakai dalam puisi-puisinya seperti sujud, puasa, dan lain-lain. Ini tampak sekali pada puisi yang berjudul Doa di Bawah Hujan.

Doa di Bawah Hujan

petir memekik merobek sepi

saat angin melindapkan irama hari

dan kilat yang menjalari langit

menjadi obor bagi kuncup cemas

 

lalu mendung yang tergantung melepaskan

pegangannya dari pundak langit yang hening

jatuh menjadi serbuk nyala rindu

menggenangi remah waktu

 

kupejamkan mataku dengan keras

hingga aku tak lagi tahu

mana yang lebih deras

air hujan atau air mataku

 

tetes tetesnya menghidupkan mata air

ayat ayat yang mengalir menyirami

pohon pohon anggur

di kebun keabadian

 

Jakarta, 2016

 

Jadi puncaknya kata-kata cinta adalah pada rasa ke-Ilahi-an. Puisi menyatakan cinta yang berkait dengan kemahacintaan, Tuhan kepada hamba-Nya. Bisa dilihat juga pada puisi berjudul Pada Jam Tiga Dini Hari.

Pada Jam Tiga Dini Hari

 

pada jam tiga dini hari

kutatap langit dilekap mega nyeri

dalam redup cahaya

dan cuaca diam sesepi dada

 

aku bertanya pada sepoi angin

tentang rinai doa yang membasahi ingin

seperti kata tersapih dari bahasa

mencari jawaban di lapis senyap rahasia

 

hari menjadi kian samar dan silam

pagi pun berangkat menyisakan raut suram

segala yang tak terucap perlahan menjelma derai

dan waktu menyerpih dalam buih yang terlerai

 

Jakarta, 2014

 

Ada frasa “sesepi dada”, dan ada semangat mencari diri. Dan secara judul buku Sajak Sajak Sunyi, sudah tepat, karena berisi perenungan dari penyairnya.

 

&&&

 

Setelah pembahasan sekilas dan semacam pembuka acara, maka dilanjutkan dengan diskusi. Diskusi tidak hanya berkaitan dengan buku Sajak Sajak Sunyi, tetapi juga ke arah proses kreatif penulis.

Peserta diskusi yang kebanyakan merupakan mahasiswa ISI Padangpanjang, yang merupakan mahasiswa Dr Sulaiman Juned, ternyata tidak hanya bertanya, tetapi ada yang memberikan tafsir pada puisi dalam buku Sajak Sajak Sunyi. Saniman Andikafri sebagai pembahas kedua menyatakan bahwa Sajak Sajak Sunyi merupakan proses penyadaran siapa diri kita, di mana kita sebagai hamba kepada Tuhan. Penyair mengagungkan Sang Pencipta. Bisa dilihat pada puisi Buah Sunyi.

Buah Sunyi

 

teruslah berjalan, masuk ke gua telinga

sampai masa di pucuk malam

sampai segala bunyi lenyap

dan yang tinggal hanya senyap

 

tatap aku dalam pejam matamu

lalu petiklah aku

petiklah

yang terlekap

di ceruk napasmu

 

kupas, kupaslah aku

sampai habis hijabku

sampai purna telanjangku

hingga di kedalamannya yang pasi

akan kautemui dirimu

sendiri

piatu, termangu

 

Bekasi, 2014

Menurut Saniman, puisi itu menyampaikan tafsir mengenai alam kubur, yang bermuatan nasihat kepada pembaca.

 

&&&

 

Fakhrun Nisa, seorang mahasiswi jurusan teater, menanyakan apakah ketika menulis puisi di buku Sajak Sajak Sunyi pada suasana sunyi? Buset mengatakan bahwa suasana yang tenang memang memudahkan untuk menulis dengan jernih. Akan tetapi yang lebih penting adalah suasana sunyi di dalam batin, misalnya menyunyikan diri dari hal-hal yang tidak baik, seperti keinginan terlalu tinggi, kemewahan, dan lain-lain. Sementara penyiapan naskah sampai terbit menjadi buku puisi, termasuk cepat hanya dalam waktu kurang dari sebulan. Tentu akan lebih baik jika ada persiapan waktu yang lebih panjang agar ada kelonggaran untuk meneliti dan memberikan perhatian sampai pada kata per kata, ejaan, dan lain-lain.

Subhan menambahkan bahwa ada 2 cara untuk menyiapkan atau menulis puisi, yaitu a) bisa dibuat semacam bank puisi, sebagai cara merawat anak batin. Ini dimaksudkan agar tertib dan terjaga apa yang sudah tertulis sehingga bisa ada sejarah yang runut dari proses kreatif, b) bisa dilakukan menulis dari diri sendiri, maksudnya untuk kemudahan dan awalan dari tema yang lebih dekat dengan diri. Tema puisi-puisi dalam buku Sajak Sajak Sunyi berangkat dari diri penyairnya, tidak jauh dari hal dalam dirinya, sehinga bisa ditiru upaya yang dilakukan oleh Budhi Setyawan dengan bukunya Sajak Sajak Sunyi.

Sementara Joni Aldo, pejabat dari Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah Kota Padangpanjang, menanyakan bagaimana caranya agar muncul semangat menulis, karena dulu pernah menulis dan sempat vakum lama. Budhi Setyawan mengatakan bahwa ada peribahasa: alah bisa karena biasa, dan terkait seperti yang dikatakan Buset di acara bedah buku Sajak Sajak Sunyi di Surabaya bahwa: “menulis itu suatu ketrampilan, bukan suatu kewahyuan. Ada semacam refleks yang melambat, jika lama vakum dari kegiatan yang selama ini dijalani. Terkait agar semangat kembali menulis, Buset menyampaikan beberapa pandangan untuk bisa kembali menulis, antara lain: a) menulis itu berguna, b) banyak membaca, c) melatih atau mengolah kepekaan, d) langsung menuliskan apa yang menjadi ide atau gagasan (dari cetusan ilham) pada media yang mudah dilakukan agar tidak hilang, karena jika sudah hilang sulit untuk mendapatkan kembali munculnya kata-kata yang sama.

Sulaiman Juned selanjutnya menyampaikan 4 ketrampilan yang mesti dimiliki, dan sangat sering disampaikan kepada mahasiswa di kelas program studi bahasa, yaitu:

  1. Ketrampilan membaca
  2. Ketrampilan menyimak
  3. Ketrampilan menulis, dan
  4. Ketrampilan berbicara.

Terkait gagasan, kita mesti merebut gagasan, jangan menunggu ilham. Posisi kita sebaiknya aktif dan siap untuk menulis dan berkarya. Maka kita yang mendengar, merasakan, bisa segera menuliskan gagasan yang muncul, dan sebaiknya menguasai kosa kata.

Kembali pada buku Sajak Sajak Sunyi, ia mengatakan bahwa ada aku lirik yang sangat dalam. Dapat dibaca di puisi Sajak Kayu Bakar.

Sajak Kayu Bakar

 

aku tahu aku akan menjadi arang

namun telah kutabukan terbitnya erang

 

dari kejauhan hutan atau dekat kebun

dari berbagai ranah teduh yang rimbun

aku berasal sebagai tegak pepohonan

diliputi lebat ikal daun daun harapan

 

sebagai bagian ranting dan dahan

aku menuju kering dengan perlahan

mencoba meniru mereka yang berpuasa

menahan segala amuk terik dan dahaga

 

pada kesepian semula yang temaram

menempuh setapak sunyi yang diam

lewat kegembiraan apa takdir kuturutkan

selain kepada api sebagai penyucian

 

kuikuti alur perjalanan yang sekejap

sejengkal demi sejengkal menyingkap hijab

mengusaikan waktu utas embara

menanakkan doa doa dengan bara

 

dari tubuhku yang terbakar

aku hendak kirimkan kabar

mencintai yang dikandung usia

berakhir di kefanaan remah sisa

 

akhirnya nyala itu pun padam

segala ingatan akan tenggelam

terlepas semua yang bersama hayat

kembali tersimpul pada gulungan ayat

 

aku tahu aku akan menjadi arang

namun telah kutabukan terbitnya erang

 

Jakarta, 2015

 

Di sini penyair dapat merebut personal religiusitas, yang kemudian ditulis menjadi karya puisi dan ditawarkan kepada orang lain. Sajak sunyi kemudian memasuki ruang-ruang pembaca, yang dapat dikatakan menjasi sunyi dalam keramaian. Lanjutnya, seorang penyair harus merebut kata kata.

Selanjutnya Rani, mahasiswi ISI Padangpanjang juga menanyakan tentang adakah sosok seseorang yang khusus menginspirasi terus menulis puisi. Buset mengatakan bahwa pada awalnya, dari perasaan kesepian dan di masa remaja mengalami patah hati, maka pertama sosok perempuan itu menjadi inspirasi yang sangat kuat untuk menggerakkan daya puitiknya dalam berkarya. Akan tetapi dalam tahap selanjutnya, Buset melakukan penyadaran bahwa mesti menulis dalam banyak tema, sehingga ia menulis banyak puisi bertema kehidupan, sosial, kota, religius, dan lain-lain, sehingga tidak lagi bergantung pada sosok wanita yang dulu membuat patah hati karena cintanya tak menyatu. Ia juga mengatakan bahwa: janganlah kita bergantung kepada manusia, karena kita akan kecewa. Sebaik-baik tempat bergantung adalah Allah (Tuhanmu). (Ini mirip yang dikatakan oleh Ali bin Abi Thalib:  “Aku sudah pernah merasakan semua kepahitan dalam hidup dan yang paling pahit adalah berharap kepada manusia.” -Ali bin Abi Tahlib. Dalam Al Quran juga tertulis:

“Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh kemudharatan, maka hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan.” (QS. An-Nahl Ayat 53)).

Saniman menanyakan 3 hal yaitu a) apakah puisi dalam buku Sajak Sajak Sunyi itu seragam, dan apakah ada puisi yang lain/berbeda, b) dalam menulis puisi, apakah ada target berapa puisi per minggunya, dan c) bagaimana kriteria menulis puisi, apakah harus panjang atau bisa pendek, karena ada puisi yang terdiri dari hanya 2 larik. Buset mengatakan dalam waktu kurang dari sebulan dan sudah punya rencana agar buku terbit di bulan Juni 2017, maka pada akhir bulan Mei 2017 bersamaan dengan awal bulan Ramadhan, sehingga langsung tercetus ingin membuat buku puisi bertema sunyi. Puisi jenis lain ada yang ditulis, tetapi tidak dimasukkan dalam buku Sajak Sajak Sunyi ini.  Rencana akan diusahakan terbit dalam buku puisi tunggal selanjutnya. Sampai saat ini Buset tidak pernah secara kaku memasang target harus berapa puisi yang ditulis. Perencanaan tentu ada sebagai upaya terus mengasah daya puitik batinnya. Selanjutnya, tidak ada kriteria yang mengatur jumlah puisi pada puisi bebas. Bisa sangat panjang dan naratif, dan juga bisa dalam bentuk hanya 2 larik saja, bahkan satu larik/ satu kata.

Widi, mahasiswi juga menanyakan 2 hal yaitu a) untuk tema kehidupan, bagaimana caranya dapat menjiwai perasaan orang lain, b) bagaimana mencari gaya tulisan sehingga terasa menziarahi jiwa kata. Buset mengatakan bahwa suatu karya sastra itu fiktif, rekaan. Tak masalah jika bahan dasar dari kisah nyata, tetapi bisa jadi gagasan bisa dari pengalaman, cerita orang lain, dan khayalan semata. Menjiwai perasaan dapat dikatakan secara hakikat mudah, karena dengan setiap manusia memiliki perasaan yang sama, sehingga rasa simpati atau empati bisa muncul, tetapi sangat tergantung dengan sikap peduli atau tidaknya orang tersebut. Misalnya dulu pernah buku antologi puisi yang digagas Komunitas Seni Kuflet terkait bencana gempa bumi di Pidie Aceh. Bukankah itu bentuk empati penulis karena seolah memahami peraasaan orang-orang yang terkena dampak bencana yang terjadi tersebut. Kemudian terkait mencari gaya tulisan, itu memang tantangan bagi penulis. Keterpengaruhan orang lain pada puisi yang kita tulis pada awal proses kreatif masih bisa ditoleransi, sebagai bentuk permulaan pengenalan menulis, dan diharapkan selanjutnya mencari gaya ucap sendiri yang berbeda dari yang sudah ada sebelumnya. Seperti yang dilakukan seorang Joko Pinurbo atau Jokpin, sebelum menemukan gaya ucap puisinya seperti sekarang bernuansa “plesetan” dan membuat nyengir pembaca, ia banyak membaca puisi-puisi penyair-penyair terkenal Indonesia, sambil mencoba mencari gaya ucap yang belum kira-kira belum digarap oleh para penyair. Hal ini merupakan tantangan besar dan berat, karena tidak mudah menemukan gaya khas yang berbeda dengan yang sudah ada.

Fakhrun Nisa, bertanya lagi dengan 3 pertanyaan kepada Budhi Setyawan, yaitu a) apakah komunitas sastra di Purworejo, dan bagaimana kegiatannya, b) apakah saat ini sedang menyiapkan buku puisi lagi, dan c) apakah keinginan terbesar dari terbitnya Sajak Sajak Sunyi (S3) ini. Buset menjelaskan dengan perlahan, bahwa ada komunitas yang masih aktif menggerakkan sastra di Purworejo, yaitu Komunitas Pencinta Seni dan Sastra (KOPISISA) Purworejo. Kegiatan KOPISISA adalah pertemuan diskusi buku, lomba baca puisi, lomba tulis puisi, workshop penulisan, menerbitkan buku antologi bersama. Penggagas dan ketua komunitas adalah penyair senior yang bernama Soekoso DM. Terkait pertanyaan, penyiapan buku antologi, Buset mengatakan bahwa untuk saat ini belum dilakukan karena akan lebih baik jika ada waktu yang longgar sehingga bisa meminimalisasi kesalahan atau kekurangan dari naskah buku atau buku yang dicetak. Sementara harapan atau keinginan terhadap buku  S3-nya, ia mengatakan bahwa ia sangat ingin bukunya dibaca, dibaca dan dibaca oleh masyarakat. Dan kehadiran buku yang diharapkan memberi manfaat kepada lingkungan dan kebaikan dalam berkehidupan.

Selanjutnya, Subhan mengatakan bahwa unsur rima dan diksi akan makin berkembang terus. Dalam khazanah islam, bahwa ada surat pendek yang sangat memperhitungkan unsur rima atau persamaan bunyi/ rima yaitu Al Ikhlas, Annas.

Lalu ada pertanyaan dari Maya, a) apakah hanya menulis sajak sajak Sunyi, dan b) apakah membaca puisi mesti pada waktu sunyi? Buset mengatakan bahwa Sajak Sajak Sunyi merupakan buku tunggal ke empat. Sementara buku kumpulan bersama sudah banyak memuat puisi-puisinya, baru ada di sekitar 80-an buku. Untuk membaca puisi, tentu lebih enak dan nyaman dalam suasana yang sunyi. Ini akan memudahkan bagi pembaca untuk menyampaikan kata per kata sekaligus memudahkan bagi pendengar untuk mengolah dan menyerap apa yang disampaikan oleh pembaca puisi.

Pada pukul 22.30-an lebih sedikit, acara diskusi secara resmi ditutup. Dan masih ada percakapan secara informal seputar sastra bersama yang hadir di Komunitas Seni Kuflet. Terima kasih.

 

Padangpanjang, 12 Oktober 2017

 

Tentang budhisetyawan

Seorang yang suka musik dan sastra.
Pos ini dipublikasikan di Kabar & Silaturrahmi 1. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s