DISKUSI SAJAK SAJAK SUNYI DI SURABAYA

Komunitas ESOK di Surabaya, Jawa Timur mengadakan diskusi buku puisi Sajak Sajak Sunyi karya Budhi Setyawan. Acara ini dapat diselenggarakan di Surabaya karena penyair Budhi Setyawan sedang berada di kota Surabaya, dalam rangka tugas dinas kunjungan selama beberapa hari di Surabaya. Acara diskusi buku diadakan pada hari Kamis, 28 September 2017, dimulai pada pukul 19.00  WIB – selesai, bertempat di Warung Mbah Cokro, Jln. Raya Prapen Panjang Jiwo Tenggilis Mejoyo Surabaya. (Café Orange)

Acara diskusi ini menghadirkan pembahas Indra Tjahjadi dan Vika Wisnu, dengan moderator Nisa Ayu Amalia Elvadiani.

Vika Wisnu adalah seorang dosen di Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya dan dikenal sebagai penulis cerpen, sedangkan Indra Tjahjadi adalah penyair Surabaya yang sudah sangat dikenal di dunia sastra sekaligus dosen di Universitas Panca Marga Probolinggo.

Vika Wisnu mengatakan bahwa puisi-puisi dengan tema sama atau mirip yang dikumpulkan dalam sebuah buku puisi bisa memberikan rasa monoton bagi pembaca. Hal ini yang mesti diantisipasi, dengan penggarapan yang lebih variatif, sehingga tidak memberikan rasa bosan pada pembaca. Di buku Sajak Sajak Sunyi, tema sama atau hampir sama, perlu pengayaan dalam proses pengolahannya sehingga terasa lebih luas cakupannya. Ada beberapa puisi yang memberikan kedalaman bagi pembaca di buku ini.

Sementara Indra Tjahjadi memberikan pandangan yang agak berbeda, bahwa mengumpulkan puisi-puisi dengan tema sama atau serupa memerlukan kesabaran tersendiri. Beberapa puisi dengan tema sama atau hampir sama kemudian dibukukan merupakan sebuah ikhtiar yang bagus. Pembaca punya selera dan kecenderungan yang berbeda, sehingga pembaca bebas untuk menilai atau memberikan pendapatnya.

Diskusi kemudian lebih berkembang secara umum pada hal proses kreatif dan menyiapkan buku antologi puisi. Ketika ada peserta diskusi menanyakan hal tersebut, saya mengatakan bahwa: “Menulis adalah suatu keterampilan, bukan suatu kewahyuan”.  Jadi perlu proses dan kesabaran. Bahwa sebuah produk mi instan pun ketika diproses di dalam pabrik tidak secara instan, tetapi melewati beberapa tahap produksi. Selanjutnya saya katakan bahwa pembelajaran kepenulisan melalui tahap banyak membaca dan terus berlatih/ menulis.

Terkait penyiapan buku Sajak Sajak Sunyi, sebenarnya bernuansa terburu-buru juga. Ini diawali dengan beberapa pertanyaan teman-teman penyair, bahwa buku antologi tunggal saya sebelumnya tahun 2007 (Sukma Silam), maka sudah saatnya membuat buku antologi tunggal. Atas beberapa pertanyaan yang mengiang di benak saya, maka pada bulan Mei 2017 saya mengumpulkan puisi-puisi dengan tema sunyi, dan terpilih 72 puisi hingga diterbitkan menjadi buku Sajak Sajak Sunyi pada bulan Juni 2017, bertepatan dengan bulan Ramadhan 1438 H. Untuk lebih baiknya memang diperlukan penyiapan naskah untukbuku puisi paling tidak 2 bulan, dan dengan intensif diselenggarakan pembacaan dan jika perlu dieja secara lebih teliti.

Acara diskusi secara formal ditutup pada pukul 22.30 WIB, dan setelahnya masih ada diskusi secara informal dan lebih santai di antara yang hadir pada acara tersebut.

Salam karya selalu.

 

Surabaya, 28 September 2017

Buset.

 

Tentang budhisetyawan

Seorang yang suka musik dan sastra.
Pos ini dipublikasikan di Kabar & Silaturrahmi 1. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s