Diskusi Buku SAJAK SAJAK SUNYI di Purwokerto

Komunitas Pondok Pena di Purwokerto, Jawa Tengah mengadakan diskusi buku puisi Sajak Sajak Sunyi karya Budhi Setyawan. Acara diskusi buku diselenggarakan pada hari Minggu, 19 November 2017, dimulai pada pukul 09.00  WIB – selesai, bertempat di Aula Pesma An Najah, Jln. Moh. Besar no 10 Kutasari, Baturraden, Purwokerto 53151.

Acara diskusi ini digagas oleh penyair muda sekaligus dosen muda yang pernah diundang ke Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) yaitu Dimas Indiana Senja. Sebagai pembedah karya dalam acara ini adalah Dewandaru Ibrahim Senjahaji dengan moderator Yuyun Zuniar K.

Acara dimulai sekitar pukul 10.00 WIB yang didahului dengan sambutan dari Dr. K.H. Mohammad Roqib, M. Ag., atau yang akrab dipanggil Abah Roqib, Pengasuh Pesantren Mahasiswa An Najah, Kutasari, Purwokerto dan Dosen di Program Pascasarjana IAIN Purwokerto. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan bahwa kegiatan sebulan sekali yang diadakan di An Najah sangat bermanfaat bagi mahasiswa karena dalam usia muda bisa menjadi lebih kreatif berkarya. Terkait diskusi buku Sajak Sajak Sunyi, beliau belum membaca buku S3 tersebut karena baru saya berikan sesaat sebelum memberikan sambutan. Akan tetapi beliau mengatakan bahwa sunyi bisa jadi bermakna banyak, bisa sunyi di luar atau sunyi di dalam. Secara arti sunyi itu keadaan sepi, senyap. Bisa jadi jika dilihat dari sisi proses, semacam pengendapan setelah melalui berbagai kesibukan. Menulis sastra dapat sebagai penyeimbang kerja otak kiri dan otak kanan. Jika sering melakukan kegiatan analitis, logika, maka dibutuhkan berkesenian yang merupakan kerja otak kanan untuk keseimbangan hidup.

Abah Roqib setelah memberikan sambutan, beliau berpamitan karena ada acara dengan tamu beliau yang sudah menunggu di pondok.

Berikutnya, saya yang sebenarnya tidak perlu berbicara sebagai pemateri, karena acaranya adalah membahas buku saya. Akan tetapi karena sudah diagendakan, maka saya menyampaikan beberapa kata saja sebelum pembahas buku menyampaikan hasil telaahnya. Saya sampaikan bahwa tanggal 19 November merupakan hari istimewa. pada tanggal 19 November 1992 saya diwisuda lulus program D3 FE UGM, dan pada 19 November 2017 hadir dalam acara di Pondok Pena yang juga luar biasa. Pertemuan Pondok Pena bulan November merupakan acara Blakasuta volume ke-7, sehingga dari kosmologi Jawa, bahwa angka 7 yang dalam bahasa Jawa disebut pitu, maka harapan semuanya kita mendapatkan pitulungan (pertolongan) dari Gusti Allah. Tulisan pembahas buku Sajak Sajak Sunyi yaitu Dewandaru IS dimuat sebagai esai di Buletin Sastri, volume 9, yang merupakan media komunitas Pondok Pena. Angka 9 merupakan angka terbesar dalam sistem bilangan yang dapat diartikan pertemuan dan kerja kreatif kita mampu sampai pada hasil yang terbesar (optimal).

Saya memaparkan secara singkat mengenai proses kreatif dan beberapa tips menulis puisi. (proses kreatif bisa dibaca di judul lain di blog ini). Pada intinya, saya mencoba berbagi semangat karena telah lebih dulu berproses menulis, dan tetap tidak ada jaminan bahwa saya lebih paham tentang sastra, termasuk puisi. Saya lebih sebagai orang tua yang menyampaikan pengalaman terkait kepenulisan. Itu saja. Tidak ada ilmu khusus, karena pendidikan formal saya juga bukan dari bidang sastra.

Selanjutnya pemaparan pembahas buku Sajak Sajak Sunyi oleh Dewandaru IS. Dia menyampaikan hasil telaahnya yang diberi judul Sunyi Sebagai Ruang Kontemplasi: Telaah Singkat Buku Puisi Sajak Sajak Sunyi karya Budhi Setyawan. Tulisan lengkapnya saya tempatkan di kolom tersendiri di blog ini dengan judul yang sama seperti judul tulisan Dewandaru. Ia menengarai beberapa puisi Buset bukan merupakan adjectiva, melainkan sebuah verba. Sunyi menjadi suatu aktifitas atau pekerjaan yang dilakukan seseorang. Sunyi sebagai sebuah perbuatan atau sikap bukan berarti seseorang diam dan tidak melakukan apapun, akan tetapi sikap sunyi adalah sikap di mana seseorang tidak melakukan sesuatu yang pada keadaan wajar ia lakukan, untuk mengambil manfaat dari tidak melakukan sesuatu yang sewajarnya ia lakukan. Mungkin itu lebih mirip dengan seseorang yang berpuasa meski ia sebenarnya bisa makan banyak, ia berpuasa untuk menjaga kesehatannya dan memperkuat sel-sel tubuhnya. Dewandaru mengutip beberapa puisi dan membahasnya di beberapa paragraf.

Sebelum diskusi, ada sesi baca puisi dari beberapa warga komunitas Pondok Pena dan Dian Rusdiana, penyair Bekasi yang juga istri saya.

Setelah selesai pemaparan oleh pembahas, maka diadakan sesi diskusi atau tanya jawab. Ada beberapa penanya. Elani menanyakan mengenai arti sunyi dan cara menulis puisi agar tidak melanggar unsur SARA. Kemudian Fani menanyakan 3 hal yaitu apakah yang dirasakan penyair ketika sedang menulis, bagaimana jika ada perbedaan atau pertentangan perasaan dengan yang dituliskan, serta bagaimana sebagai pegawai negeri untuk mengkritik pemerintah. Eddy Pranata, penyair Ajibarang menanyakan hal apa yang menyebabkan tersesat dalam sastra. dan Shantined, penyair perempuan yang sekarang tinggal di Purwokerto, menanyakan bagaimana penyair menyampaikan perasaan ke istri yang juga penyair, serta bagaimana jika ada kekaguman kepada perempuan lain dalam karya-karyanya.

Setelah selesai diskusi, acara diakhiri dengan penyerahan 2 buku terbitan Pesma An Najah dan foto bersama.

Purwokerto, 19 November 2017

Tentang budhisetyawan

Seorang yang suka musik dan sastra.
Pos ini dipublikasikan di Kabar & Silaturrahmi 1. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s